Seven Speed Coffee, Cappucinonya Enak Banget!

by - October 15, 2017

Belajar dari tamasya sebelumnya, meski buruk dalam melakukan setiap hal sesuai planning dan cenderung impulsif, tamasya kedai kopi kali ini harus sesuai jadwal. Kalau nggak dipaksa, pasti jadi suka ambil aman, cari kedai kopi terdekat dan akhirnya kurang puas dengan perjalanannya.

Tujuan kali ini adalah Tangerang (dan sekitarnya, Jabodetabek). Keperluan awalnya tentu saja bukan sekadar liburan, tapi untuk lomba Marketing Public Relations di Universitas Multimedia Nusantara. Alhamdulillah juara satu, duh bonus plus-plus di Tangerang lah pokoknya. Salah satu motivasi ikut lomba selain bisa belajar lebih banyak lagi ya... bisa Tamasya Kedai Kopi hehehe.

Saya mungkin salah satu dari beberapa orang yang nggak terlalu merasa liburan adalah kebutuhan mutlak. Untuk istirahat, di rumah aja udah cukup. Mental anak rumahan banget. Bahkan waktu SMA, ketika diajak jalan, saya sering jawab dengan, "Emang mau ngapain sih di sana?" Ya nggak setertarik itu dengan liburan dan jalan-jalan.

Sebuah alasan kenapa saya tidak terusik dengan teman-teman yang liburan atau selalu datang paling awal ke tempat baru kekinian. Ya nggak tertarik aja dan nggak merasa kehilangan apa-apa ketika tidak melakukan apa yang sedang ramai saat ini, sesederhana tidak mendesak, "Ayo ke sana yuk, ayo nyobain makanan ini yuk, lagi rame lho di Instagram." Dan otak kecil ini ketika ada yang bilang gitu selalu menjawab, "Emang kalau lagi rame kenapa?" Hehehe blame my introversion. Tapi semua berubah ketika saya kenal kopi dan sekhilaf itu ketika beli buku.

Saya jadi tau alasan kenapa harus keluar rumah: ngopi dan beli buku. Kalau nggak pengin-pengin banget keluar, di rumah dua hari juga betah-betah aja. Tapi sekalinya ngopi, sampe jam dua pagi juga pernah karena ngelihat temen-temen yang lagi latihan buat lomba menyeduh.


Pertama kali sampai di Stasiun Pasar Senen, kami langsung naik KRL tujuan akhir Bogor. Tapi saya turun duluan di Duri karena akan lanjut ke Tangerang untuk bertemu 'kesayangan' #PejuangLDR. Sedangkan teman-teman lainnya lanjut ke Sudimara agar langsung ke saudara Ade, salah satu dari tim saya, yang menjadi tempat tinggal kami selama di Tangerang.

List kedai kopi dan toko buku sudah saya berikan pada tour guide kesayangan yang ketemunya dua bulan sekali ini (atau bisa lebih dari itu). Dari Tangerang, setelah istirahat dan makan dulu, kami menuju Jakarta Selatan, ke Seven Speed Coffee.

Nggak ada bayangan lebih soal Seven Speed Coffee, ke sini hanya bermodal rekomendasi Pak Sivaraja kalau di sana kopinya enak. Sesampainya di lokasi, langsung sumringah karena ambience-nya asik banget! Sayangnya, saya ke sana saat malam hari, di mana kurang asik untuk difoto dari luar.

Cappuccino untuk saya dan White Fuel untuk tour guide kesayangan telah dipesan. Ambiencenya bright banget tapi tetap hangat gitu. Sebuah kedai kopi kecil tapi luar biasa nyaman. Kalau rumah deket dari sana, mungkin setiap pagi saya ada di pojokan baik sekadar baca buku atau lagi ngerjain tugas.

Apalagi banyak kedai kopi di Jabodetabek memang banyak yang buka mulai pukul 7 pagi dan tutup pukul 9 atau 10 malam. Jelas demografinya berbeda dari Malang yang rata-rata di sini ngopi untuk nongkrong dan kebanyakan adalah mahasiswa. Sedangkan di sini mungkin lebih banyak orang yang bekerja yang kebutuhan kopinya seputar: memulai aktivitas yang sibuk, meeting atau nyelesein kerjaan.



Ketika cappuccino udah sampai di meja, saya langsung nggak sabar buat nyobain. Huhuhuhu ternyata bener dong, cappuccinonya emang-beneran-enak. Ketika diminum berasa penuh di mulut, nggak ada rasa yang ganggu sama sekali, nggak ada pahit, aduh pokoknya enak deh. Kalau ke Jabodetabek lagi, kemungkinan besar ke 7 Speed Coffee lagi sih.

Dengan harga 35.000 IDR dengan lokasi Jabodetabek, ini worth it banget sih. Beans yang dipake adalah Bali Uliang Murni dari Smoking Barrels. Aduh, nulis ini jadi kebayang-bayang cappuccinonya, gimana dongggg. 


White Fuel dari 7 Speed Coffee ini sederhananya adalah es kopi susu. Tapi barista di sana bilang kalau proses awalnya adalah ditubruk. Rasanya bukan tipikal kopi susu yang sekadar pahit dan susu, tapi kopinya nggak terlalu terasa sebenernya, ditutup dengan creamy-nya susu dan mungkin ada gulanya. Penikmat kopi manis bakalan suka sih, apalagi cuma 19.000 IDR aja.


#TemanMengopi di 7 Speed Coffee ini nggak berdua aja sama tour guide kesayangan, tapi ada Mas Angga dan kenalan baru, Mas Musa. Kami banyak ngobrol soal ide konten dari Mas Musa, yang sebenarnya tinggal eksekusi aja. 


Sebelum kembali, saya sempatkan untuk foto-foto dan bermain ke barnya. Tidak disangka, baristanya baik-baik dong. Saya diajakin nyoba Gayo Belangi dua cangkir, dengan penyeduh yang berbeda. Meskipun ada notes chocolate di package beans-nya, yang cenderung saya hindari karena tidak terlalu suka, kopi ini nggak ada earthy-nya sama sekali. Fruitynya lebih terasa meskipun di akhir asamnya emang nempel, sedangkan saya suka kopi yang clean.




Berkesan banget sih di 7 Speed Coffee, apalagi dengan experience sempet nyobain manual brewing-nya. Barista yang asik dan bisa ngajak ngobrol memang tipikal barista yang dicari bagi orang semacam saya yang emang jauh-jauh dari kota lain cuma buat ngopi.

Berasa aneh sih emang 'cuma buat ngopi' apalagi banyak teman saya yang nggak sungkan buat ngingetin sebaiknya fokus kuliah dan nggak ngopi-ngopi saja. Padahal ini adalah aktivitas yang membuat saya mau keluar rumah, lebih semangat nulis, lebih mau bersosialisasi dan mau terus belajar. Bahkan bisa dibilang saya punya banyak kesempatan baru setelah sering ngopi dari kegiatan yang nampaknya sederhana dan cenderung buang-buang waktu ini.

Terlepas dari betapa susahnya untuk menjelaskan kepada khalayak kenapa suka ngopi, dan sebenernya nggak penting-penting banget untuk dijelaskan, yang jelas... nggak perlu alasan lebih panjang lagi buat kamu yang lagi di Jabodetabek untuk sekadar berhenti di daerah Kemang Utara, menuju 7 Speed Coffe dan mencoba kopinya.

Tamasya Kedai Kopi hari itu memang hanya ke 7 Speed Coffee, tapi lusa saya melanjutkan ke Pigeonhole Coffee dan Tanamera Coffee. Tunggu cerita tamasya selanjutnya ya!  

7 Speed Coffee
Komplek Mirasari Ruko no.1, Jl. Kemang Utara 33  Jakarta Selatan
Harga: 19.000-50.000 IDR
Jam buka: 07.00 (weekend) 08.00 (weekday)- 21.00 WIB
Instagram: @7speedcoffee

You May Also Like

3 comments

  1. duh saya kok jadi risih sih ketika ada kata2 kesayangan, berasa masih bakal lama memakai kosa kata itu.

    BTW, tak sawang-sawang aku ganteng juga ternyata...

    ReplyDelete
  2. Awalnya suka review bukunya di youtube, tapi malah jadi ketagihan baca blognyaaa 😍😍😍😍

    ReplyDelete