Mendadak Sayang dengan Pekelingan Gresik dan Serba-serbi Praktikum Public Relations

Foto: Facebook Pak Dhe Noot.
Lima kelurahan di Gresik dipaparkan saat kelas, saya diam dan hati kecil saya membatin, "Serius Gresik banget nih?" Pertanyaan itu hadir dengan nada sedih, karena saya adalah orang payah yang selalu melihat resikonya dahulu dibandingkan peluang. Enggak pernah saya bayangkan kalau harus repot-repot Malang-Gresik ketika misalnya tugas ini bukan sekadar praktikum dua, tapi gimana kalau harus merealisasikannya? Sering bolak-balik dong? Di bayangan saya, itu akan menjadi very scary dan tanggung jawabnya besar.

Sedikit penjelasan saja, saya jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang, dengan mengambil praktikum Public Relations (yang lain ada Audio Visual dan Jurnalistik). Praktikum pertama tugasnya adalah in-house magazine. Sedangkan kedua adalah manajemen krisis, dan ketiga event management (kalau tidak salah karena saya belum menempuh praktikum ketiga). Ketiga praktikum menggunakan klien nyata, dan Sophia Mega adalah orang yang malas memegang tanggung jawab besar ketika membayangkannya saja sudah tidak mampu. Lebih baik daku menyerah dibanding mengecewakan banyak orang. Begitu pikir perempuan satu ini.

Tahap awal, sebelum mengenali seluruh lima kelurahan tersebut, saya menarik diri dari kelompok praktikum. Saya pun udah bilang ke salah satu anggota kelompok, namanya Adam, kalau dari diri saya sendiri mager banget. Bener-bener gak mau melakukan riset sekunder sama sekali, meskipun di group bilang ke teman-teman: "Rek, jangan lupa riset sendiri lima daerah tersebut apa." Tapi syukurnya, Adam back-up semua ketika saya bener-bener males dan enggak mau nyentuh.

Selain karena mager, di brief pertama (iya sebelumnya kita udah dapet brief atau kasus yang dikerjainnya juga sama pusingnya) saya memang sempat kehilangan energi. Dalam praktikum, saya enggak pernah punya ambisi jadi yang terbaik atau nanti dapat award A, B, C dan D. Tapi ada satu keinginan saya: anggota kelompok saya adalah temen-temen saya sendiri, dan saya tahu betul di antara mereka sebenernya pengin banget belajar public relations. Kemudian mereka udah ambil keputusan besar: ambil praktikum public relations. Paling tidak, karena sebelumnya saya pernah sedikit sekali belajar manajemen krisis (praktikum kedua), semua harus setidaknya tahu apa yang saya tahu. Dan sebaiknya, lebih tahu daripada saya, agar ketika saya lagi males, ada yang back-up.

Hahaha ya enggak lah. Semua karena saya sebenarnya punya kekhawatiran yang besar pada dunia kerja dan benci dengan statement: kuliah itu gak dapet apa-apa. Sedangkan saya dihadapkan dengan dosen yang super baik dan membagi semua ilmunya,  yaitu Bu Arum Martikasari, atau sebut saja Bu Aroom. Kami punya mata kuliah yang baik, maka sia-sia jika gak beneran belajar. Ini kampus swasta lho, mahal lho bayar, meskipun saya enggak ikutan bayar kuliah, saya tahu hari ini sedang tidak buang-buang waktu untuk mengeluarkan statement: sebenernya gak ada gunanya kuliah.

No man, please never thinking like that. Please.

Nah, saat brief pertama, saya agak kehabisan energi karena semua tahapan harus dipikir bareng-bareng dan pelan-pelan. Harus diolah gimana caranya bisa semua beneran paham. Harus diajakin gimana tahu step-by-stepnya. Bukan ngerjain asal copy-paste. Tapi ngerti bedanya Target Market dan Target Audience. Setidaknya tahu bagaimana kerja marketing 5.0 yang 5A (Attention-Appeal-Ask-Action-Advocate). Sebenernya semua udah dikasih tahu Bu Aroom kok, tapi memang gak semua bisa fokus di kelas dan mengikuti alur sekali belajar.

Dahulu, saya belajar di Bu Aroom juga sering berakhir konyol karena hasil kerjaan saya yang konyol. Makanya setiap konsultasi saya sering gak PD, bahkan setiap kelas tutor, saya sering gak PD karena selalu kurang baca. Nah, makanya ketika kumpul kelompok harus dibahas lagi proses pengerjaannya. Kembali lagi, tujuan saya sebenernya bukan fokus pada: bikin bagus-bagusan. Tapi lebih pengin semuanya paham. Makanya, saya terhitung yang gak suka dan mempermasalahkan ketika ada yang gak kerja. 

Rasa lelah itu sih yang bikin di brief kedua ini ingin memberi waktu untuk diri sendiri istirahat, bentar aja deh. Hingga ada fase yang membuat saya sadar bahwa bilang: lainnya gak kerja tapi aku yang kerja adalah statement egois. Bisa jadi karena kita enggak tahu pola kerja setiap orang, bisa jadi bukan karena orang lain gak bisa ikuti ritme kerja kita TAPI SEBALIKNYA, dan kita terlanjur egois untuk enggak mencoba mencari berkomunikasi secara personal.

Hingga lambat laun, kami menemukan flow kerja yang lumayan baik dan proses belajar yang lumayan asik. Ya tidak bisa dibilang yang terbaik, karena di antara kami tidak ada yang benar-benar dominan dan jago. Proses kreatif dalam program benar-benar digodok bersama, sering hadir dari celetukan saat rapat dan kita tanggapi dengan, "Oh iyo yo, oh iyo yo." Saya cuma lebih tahu cara kerja bikin proposalnya dan berusaha sebaik mungkin menjaga step-by-step rapi dan terstruktur.

Tapi di balik ini tetep ada kok ketidakcocokan, tapi karena ingat sekali lagi: sebenernya kami dari temen-temen sendiri yang "ya udah lah kita satu kelompok aja lah" tanpa melihat potensi masing-masing, jadi kalau ada masalah: ya marahin aja, nyinyirin aja, celathu aja. Perundungan adalah hal sehat bagi pertemanan kami, agar komunikasi lebih mudah lagi.


Akhirnya, hari Rabu lalu, kami pergi ke Pekelingan (kelurahan yang akhirnya kami dapatkan untuk dikerjakan destination branding-nya). Ya, kami pergi ke Gresik, dan ini menjadi hal baru bagi saya. Karena saya gak pernah keluar kota dengan teman-teman, lebih sering sendirian heuheuheu. Sayangnya perjalanan kali ini kurang satu personil, jadi hanya lima orang yaitu Sheren, Nina, Adam, Kak Fito dan saya. Sedangkan Dinar ada keperluan lainnya.

Perjalanan sangat seru, kami karaoke di mobil yang bisa kalian lihat keseruannya di highlight Instagram yang judulnya 'TamasyaGRSK' di Instagram saya @sophiamega. Setiba di Gresik, "Oh ternyata gak panas-panas banget yah?" Gak bikin tiba-tiba gobyos aja gitu, bagi tubuh saya ya. Memang cenderung 'sumuk' atau 'gerah', jadi bukan 'panas terik'. Kami langsung melaju ke kelurahan untuk ngobrol maksud kedatangan kami, wawancara sedikit, mendengar harapan Pak Lurah dan langsung berkeliling Kampung Kemasan.


Sebelum ke Kampung Kemasan, sebenarnya saya sudah menyimpan banyak tanya. Oh ya, karena semangat saya sudah kembali berkat Adam yang nge-back-up dan akhirnya saya memutuskan melakukan riset sekunder dan tenggelam dengan sejarah Kampung Kemasan yang ternyata yang ibaratnya membangun sejarah di sini adalah H. Oemar yang memiliki perusahaan Nv. Kemasan. Saya bener-bener tenggelam dengan sejarahnya yang menarik sekali, mungkin karena akhir-akhir ini banyak baca novel, bikin saya baca jurnal-jurnal jadi lebih enjoy.

Dan, saya memang penyuka wisata urban. Selain mencari kedai kopi, ruang baca dan toko buku. Saya selalu excited datang ke museum. Saya bisa berjam-jam cuma untuk baca satu-per-satu barang kuno. Terutama kalau dengan kekasih saya yang seru banget kalau diajakin ke museum, yaitu Mas Taufiq. Kami pernah stuck pada satu lukisan dan memahami satu-per-satu dan mendapati bahwa informasi berbahasa Indonesia dengan berbahasa Inggris itu lebih lengkap info yang bahasa Inggris hahaha. Cerita lebih lengkap bisa baca post yang ini: Keliling Jakarta Bersama Lovely Guide.

TIPS: kalau kalian melakukan riset sekunder, jangan terpaku dengan google.com. Jangan marah-marah kalau kalian tidak dapat informasi berarti. Beralihlah ke scholar.google.com, riset melalui jurnal, baca satu-per-satu. Hehehe, ini tips penting lho bagi kami. Karena di kampus saya enggak ada istilah membedah jurnal berkala. Wong dapet tugas disuruh ada sumber 5 jurnal aja udah ngeluh kok. Oke, di paragraf ini memang terkesan jadi sok tahu gitu. But please, scholar.google.com is exist to make our task easier. 

Pak Lurah banyak menceritakan tentang Kampung Kemasan, dan ada satu kalimat yang bikin saya suka banget dan merasa seperti sedang mengikuti sejarah daerah ini. "Jadi ada satu rumah yang emang gak mau dijadikan cagar budaya sama yang punya. Karena mungkin udah kaya ya, jadi mereka merasa tidak ada untungnya dijadikan cagar budaya. Akhirnya rumahnya ditelantarkan. Nanti ya saya tunjukkan, setelah ini lewat kok."

Terus sesampainya di rumah tersebut, Pak Lurah nunjukin, "Itu, Mbak. Lihat di atas situ, rumahnya yang ada (patung) singanya." Cara Pak Lurah yang bercerita sedemikian rupa membuat kita jadi enggak terasa jalan cukup jauh. Bener-bener enjoy! 

Sheren - Kak Fito - Adam - Saya. Foto dari Nina.
Saya, Sheren, Nina, Kak Fito dan Adam benar-benar menikmati perjalanan kali ini. Meski Adam sering mengingatkan untuk, "Foto-fotonya nanti aja." Hoho tentu aja tidak benar-benar kami dengarkan hahaha. Sheren paling suka nanyain bapak-bapak becak dan warga sekitar, Nina sibuk berfoto-foto mengambil cerita dari potret anggota kami masing-masing, Kak Fito diam-diam ambil gambar dan tiba-tiba dia upload di stories, feed dan Twitter! Gila! Ini suatu momen yang langka bagi seorang Kak Fito sampai upload di feed dan Twitter karena abis jalan-jalan. Dan Adam yang dengan tenang dan sabar mengingatkan kita agar tetap on-the-track, tidak hiperbola tanpa esensi.

Kami sepakat salat dhuhur lagi. Seperti anak kurang beriman lainnya, setelah salat dhuhur, saya main HP dan melihat beberapa foto di beberapa rumah tadi. Dan lucunya, Ibu-ibu tersebut nyeletuk, "Lho itu rumahku lho, Mbak." Saya langsung jawab, "Iya, Bu? Rumahnya bagus banget lho, Bu." Saya enggak lamis lho ya, memang super vintage and cool af. Ibunya langsung tersipu malu dengan, "Kok iso i lho Mbak. Dibilang bagus rumahku." Terus ada Ibu-ibu lainnya yang ikut menimpali, "Nah yang merah ini rumahku, Mbak." Heuheu Ibu-ibu ini lucu sekali. <3

Foto dari Facebook Pak De Noot.

Setelah itu, kami bertemu dengan Pak Dhe Noot, beliau adalah budayawan. Tentu saja saya menyampaikan banyak pertanyaan, karena ya wisata urban memang kesukaan saya. Dan kesempatan dengan Pak Dhe Noot bukan kesempatan biasa. Beliau orang cendekiawan yang banyak diundang kemana-mana. Bahkan, beliau adalah generasi ketiga dari keturunan H. Oemar. Ini kesempatan yang kalau kata orang Malang: mbois. 


Terutama ketika diceritakan kenapa namanya menjadi 'Kampung Kemasan'. Entah saya yang terselip atau enggak sabaran, saya selalu kesusahan dapat informasi ini. Ternyata, tahun 1850, seseorang dari China datang ke Gresik, dia adalah pengrajin emas yang bernama Bag Liong. Dia membangun rumah pertama yang dengan sentuhan China pertama di sini (arsitektur di Kampung Kemasan lebih ke Eropa China, meski katanya ada unsur Arabnya juga). Serunya, Pak Dhe Noot langsung menunjukkan, "Nah rumah di sebelah ini yang jadi rumah pertama." Dan pengrajin emas atau tukang emas, di Gresik disebut 'kemasan'. OALAAAAAH, teriak batinku. 

Pak Dhe Noot bercerita ala-ala dengan tembang jowo atau nyanyian jawa gitu. Kami berasa freezing dan mengagumi sosok Pak Dhe Noot. Dan bagi saya sendiri, sekaligus sayang dengan sejarah kota ini. Pikiran saya enggak mau bolak-balik Malang-Gresik berubah MAU DONG PASTINYA ASAL DISETIRIN ADAM! Hahaha dasar pemalas!


Kami pulang dengan bekal dua bungkus makanan khas Kampung Arab Gresik, saya lupa namanya. Ya santan yang berisi daging, tapi kulit yang biasa digunakan untuk membungkus daging kebab yang biasa kita nikmati di depan minimarket itu dibakar hingga jadi keripik. Dengan tambahan satu kotak martabak berisi bihun yang menemani buka puasa hari itu. Jangan tanya rasanya keduanya, tentu enak sekali! Katanya kuliner di Gresik memang cenderung bersantan. 

Katanya gak ke Gresik kalau gak makan Krawu di alun-alun. Tapi babahno alias biar deh, kami sudah cukup puas perjalanan hari ini. Dan melanjutkan ke Pakuwon Mall Surabaya. WKWKWKWK sok-sokan suka sejarah tapi ujung-ujungnya excited saat ke mall. Dan ditutup dengan makan Sambel Mak Yeye yang sebenernya biasa aja lho menunya, tapi enggak tahu kenapa enak banget. 

Sheren - Nina
Perjalanan kali ini ceritanya panjang banget, karena saya excited sekali menceritakannya huhu. Kalau kalian yang berhasil baca dari awal hingga akhir, kasih tahu saya ya! Harus diajak ngopi karena segitu baiknya membaca tulisan saya kali ini <3 Kalau kamu ke Gresik, jangan lupa ke Kampung Kemasan. Lain waktu, nanti saya ceritakan potongan sejarah apa yang bisa didapatkan di sana. 

2 comments

  1. Aku baca sampai akhir lho, dan kusadar Kak Mega tidak sepemalas yang kukira. Ah kamu xP

    ReplyDelete

My Instagram