Ngopi di Starbucks Bisa Jadi Pengakuan Dosa Bagi Coffee Enthusiast

Sophia Mega saat SMP dan SMA, begitu giat menabung atau membujuk rayu orangtuanya hanya untuk membeli segelas frappuccino ukuran grande di Starbucks. Meskipun di setiap mau membeli selalu browsing perbedaan ukuran tall-grande-venti. Bahkan hingga menulis ini pun, saya masih harus browsing urutan perbedaan ukurannya dan penulisannya apakah sudah sesuai.

Coba deh cek di post "Green Tea is Always Good!", post tersebut merupakan saksi betapa noraknya terhadap Starbucks karena pada masa itu di daerah saya, Malang, belum ada satu pun gerai Starbucks. Paling enggak, kalau mau membeli Starbucks, ya harus ke Surabaya. Bahkan sampai saya mulai me-review kopi, saya sempat membeli cappuccino dengan gelas ukuran grande. Atau malah memesan single origin yang dari mesin tinggal pencet saat di Starbucks Universitas Indonesia sekitar tiga tahun lalu.

Lalu sekarang berpikir, "Kok bisa ya Starbucks jual cappuccino ukuran gede? Dan aku dengan bodohnya menjadi salah satu konsumennya?" Apa memang konsumen Indonesia yang paling penting adalah banyaknya isi minuman yang kita beli? Atau berpikir, "I'll never buy the black coffee again there." Padahal dahulu saya enggak terlalu paham kopi, tapi nelennya sambil mau nangis. Hehehe ya gak gitu juga sih, tapi beneran susah buat nelennya.


Ngopi di Starbucks nampak menjadi dosa bagi penggemar kopi atau coffee enthusiast. Maunya tadi ditulis coffee snob, tapi enggak deh, sebut saja coffee enthusiast. Saya enggak jarang mendengar beberapa pengakuan di bawah ini:

"Ya, dulunya aku ngopi di Starbucks gitu kalau lagi nugas."
"Halah, kopi di Starbucks itu b aja kok."
"Aku kemarin diajakin ke Starbucks masa.."
"Ya, Starbucks kan emang bukan spesifik jualan kopi, lebih ke minuman manis."
atau malah secara terang-terangan,

"Kopi Starbucks gak enak."

Ya, sampai sekarang saya juga enggak memungkiri kalau ada kopi yang beneran enak di tempat lain, baik harganya lebih murah atau sama mahalnya. Tapi yang kemudian membuat saya merasa lucu: itu cuma Starbucks lho, ke Starbucks, iya ke star-bucks, bukan sedang mencuri, membunuh atau memfitnah orang, kok ngomong kalau kita pro Starbucks jadi semacam dosa gitu ya? Ya, saya sedang menertawai diri sendiri.

Terakhir kali saya ke Starbucks sekitar dua tahun yang lalu, saat saya lagi-lagi di Universitas Indonesia untuk ngajak ngobrol seorang teman saya yang ceritanya bisa dibaca di sini:  #TemanMengopi 3. Membeli frappuccinonya yang memang enak dan gak tahu lagi kudu beli apa di sana. Tuhkan, kayak memberi pembelaan: soalnya gak ada lagi yang bisa dibeli.

Menganggap Starbucks overpriced, dengan 49.000 IDR baru bisa menikmati frappuccinonya, tapi kalau beli cappuccino enak seharga 44.000 IDR gak masalah. Jadi, problematikanya bukan soal harga, atau bahkan rasa, ya kalau dibilang Starbucks gak enak, frappuccinonya lho enak~. Kalau dibilang Starbucks kopinya gak enak, lho enak dan gak enak itu kan soal selera.


Itu lah yang membuat saya menyimpulkan dengan sangat dipermukaan (karena gak semua dan banyak coffee enthusiast yang biasa-biasa aja dalam hal in) kalau ngopi di Starbucks bisa jadi pengakuan dosa bagi coffee enthusiast. Dan ya sah-sah saja, ketika kita punya paham tertentu pada standar kopi dan apapun yang enak lainnya, kita jadi punya standar mana yang gak enak. Cuma ya sesekali boleh lah kita menertawai apa-apa yang kadang kalau dipikir-pikir lucu juga ya. Kenapa sih harus sensi sebegitunya? Pun untuk saya, wong kalau ditraktir ke Starbucks ya mau.

Meskipun setiap melewati rest area di kawasan Sidoarjo saya enggak lagi membujuk rayu Ayah agar mampir ke Starbucksnya, bahkan ketika ditawari malah menolak. Meskipun hari ini telah ada dua gerai Starbucks di kota Malang (dulu sempat ada tiga), saya belum pernah ke sana sama sekali (pengakuan seperti ini terkadang dianggap keren bagi coffee enthusiast karena bangga dengan kedai kopi lokal), ya padahal karena saya emang jarang ke mall.

Tapi, di postingan ini mari sejenak menertawai kenapa ngopi di Starbucks menjadi pengakuan dosa bagi sebagian orang. Sekaligus lebih santai lagi kalau ada orang yang ngopi di Starbucks, jangan kayak supir angkot yang emosi kalau ada ojek online, rezeki enggak tertukar dan kita enggak pernah bisa memaksakan apapun yang kita pikirkan akan bisa dipahami juga oleh orang lain. Membagikan vibes untuk setia ke local coffee shop masih harus dooong, tapi lebih santai aja gitu. 

Selamat mengopi, ya (di mana pun kamu ngopinya). Kalau kamu baca post ini hingga akhir, kasih tahu dibawah dong kamu sukanya kopi atau ada kecenderungan minuman lain yang bener-bener kamu suka nggak? Saya tunggu, ya!

5 comments

  1. Some ppl lbh memilih prestige, ada yg milih karena 'aman' drpd coba ke kedai kopi baru, atau emg untuk pengakuan sosial 'ini loh aku ora berdua bisa ngopi disini'. Apapun alasannya, kita harus ttp menghargai :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, enggak ada abisnya juga kalau cari cacatnya orang~ Mending berhenti di saling apresiasi~

      Delete
  2. Sebenarnya sih kalau kopi zaman sekarang harga sbux sama kedai pada umumnya dihitung2 sama saja. Ukuran 1 venti (20oz) kira2 50 ribuan. Kedai kopi umum satu gelasnya 25 ribu sampai 30 ribu untuk 8-12 oz. Artinya kalau mau "seporsi" dg sbux beli 2 gelas. Ya jatohnya segituan juga. 50 ribuan.

    Aku justru lebih worth sbux terutama untuk kopi2 milk-based. Ukurannya besar, Susunya jelas berkualitas, sirupnya berkualitas tinggi, kemasannya lebih oke dan kokoh, tempatnya enak dan bersih, dan suasananya.

    Kopinya enak sebenarnya. terutama buat orang2 kayak aku yang lebih suka kopi morning blend yang nendang. Lain cerita sama orang2 yang lebih ke speciality coffee. Ya salah ke sbux.

    #teamsbux

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda lidah, beda kebutuhan, beda standar mana yang lebih worth it.

      Delete
  3. Aku sih nggak ke starbuck, karena nggak pengen aja sih hahaha. Selama ini kalau ngopi ya mending ke kedai kopi, sih. Mau nongkrong cantik juga tetep nggak milih starbucks, karena banyak cafe atau bistro lain yang lebih nyaman atau instagrammable.

    Berhubung belum pernah coba, jadi aku nggak punya penilaian tentang kopi starbucks. Cuma bagi aku sendiri bukan masalah enak nggak enak, tapi worth the price or not. Mahal nggak apa-apa, kalau emang sesuai lidahku. Biasanya baru nyambat kalau ke tempat ngopi atau makan, bayar e beberapa puluh atau ratus ribu, tapi nggak masuk blas ke seleraku.

    ReplyDelete