Jadi Kamu Termasuk Tim #InternetBaik atau Mending Ansos Aja?

Foto oleh Sophia Mega
Enggak sedikit teman saya yang memilih untuk non-aktif Instagram daripada harus menjadi 'enggak sehat' karena terlalu banyak melihat kehidupan orang lain. Rasanya emang susah deh jadi pengguna #InternetBaik, berbagai toxic dan hal enggak sehat lainnya jelas-jelas kita lihat setiap harinya. Selain itu media sosial emang udah membuat ruang publik dengan ruang privasi terasa begitu tipis hingga kita bisa mengetahui hal yang sebelum ada media sosial enggak pernah kita tahu, bahkan mengetahui hal-hal yang enggak pernah pengin kita ketahui. Tapi sebenarnya yang salah media sosialnya atau orang lain atau kita sendiri sih?

Kita sering terusik dengan apa-apa yang ditunjukkan orang lain, tapi sebenarnya yang salah orang tersebut, media sosialnya atau kita sendiri sih? Sering kita menyalahkan media sosialnya seperti, "Ya kan Instagram memang tempatnya pamer." Atau, "Dia aja sih yang emang agak norak kalau di media sosial."

Dua hal ini kalau dibahas enggak ada abisnya nih, dan bikin kita capek sendiri nggak sih? Mengandalkan media sosial dan orang lain untuk satu pemikiran dengan kita, menjadi pengguna #InternetBaik. Padahal, kita bisa lho enggak terganggu dengan apa-apa yang orang lain lakukan, yang mungkin menurut kita mengganggu. Di bawah ini adalah tips menjadi pengguna #InternetBaik di Instagram yang bisa kamu lakukan:

instagram.press.com

MUTE
Ini sistemnya seperti saat kita mencari teman di kehidupan tatap muka, ada beberapa orang yang kita kenal dan bagi kita mereka enggak baik untuk menjadi teman dekat. Kalau sama sekali tidak berteman bukan lah sesuatu hal yang baik, kalau unfollow adalah sesuatu yang membuat kita terkesan tidak menghargai (apalagi ternyata orang tersebut adalah teman yang pernah dekat dengan kita), kita bisa memilih tombol 'mute' dengan segala yang ia bagikan di Instagram.

Kita enggak bisa berkehendak kita hanya mau bertemu dengan siapa saja, tapi kita bisa mengontrol frekuensi pertemuan itu kan? Nah begitu analoginya dari fitur 'mute' ini. 

thefreshboat.com

UNFOLLOW
Terkadang di media sosial enggak hanya ada orang yang membuat kita enggak suka, tapi malah sudah masuk dalam level toxic people. Di mana yang selalu dibagikan adalah hal-hal yang negatif, seperti terlalu ikut campur urusan orang, terlibat dengan banyak drama, marah-marah setiap waktu, dan berbagai hal yang membuat hari kita jadi ikut merasakan suasana negatif yang ia bagikan.

Enggak masalah lho untuk mengucapkan selamat tinggal selamanya dengan tombol unfollow. Memang ada orang-orang yang enggak baik kita ikuti di media sosial, tapi tak masalah jika berteman di dunia nyata. 

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI
Instagram kerap membuat kita membandingkan diri dengan yang lain, bahkan bisa sampai membuat kita enggak suka dengan kabar-kabar bahagia yang mereka bagikan. Misalnya kabar pernikahan, kadang postingan bahagia itu terkesan mengintimidasi kita yang belum. Persaan tidak suka tersebut berselimut dengan anggapan kita: kenapa sih harus dibagiin kayak gitu, norak aja.

Dalam hal seperti ini, kalian mungkin mute akun-akun tersebut sementara waktu untuk proses berdamai dengan diri sendiri dan mematangkan. Perasaan tidak suka tidak selalu muncul karena orang lain yang kurang tepat bersikap, karena kita yang belum menyelesaikan diri sendiri. Misalnya dalam kasus di atas, ada pemahaman yang mungkin kita harus pahami lagi, mengambil jeda untuk diri sendiri untuk berpikir bagaimana cara bersikap jika ada orang yang menikah sedangkan kita belum, 

Misalnya kita mengubah dari pikiran bahwa enggak seharusnya orang menikah terlalu mengexpose hari bahagianya di media sosial dengan.. "Oh ya, setiap orang kan punya momen bahagia, dan mungkin ini memang berarti sekali buat dia. Dan ada beberapa hal yang aku bagikan di media sosial juga enggak terlalu berarti bagi yang lain tapi berarti bagiku, ya berarti aku harus sama-sama menghargai."

Sering-sering berkontemplasi diri untuk menemukan pemahaman-pemahaman baru untuk membuat diri kita bahagia tanpa harus mengubah apapun. Happiness is a commitment, komitmen dalam diri sendiri yang bisa dibangun bagaimana pun keadaannya. Mari mencoba berpikir see good in all things! 



Ada banyak hal yang memang harus kita pahami sebelum menjadi pengguna yang bijak di media sosial dan saya begitu mengapresiasi adanya kampanye #InternetBaik. Bahwa banyak perusahaan yang mulau memunculkan kepeduliannya, bertanggung jawab dengan perusahaan yang ia buat, untuk lebih berbuat kepada masyarakat. 


Dalam websitenya, tertulis #InternetBAIK adalah program CSR Telkomsel yang berusaha menghadirkan seperangkat navigasi dan panduan yang digunakan oleh pengguna internet untuk dapat mengambil sebesar-besarnya manfaat dan menekan sekuat-kuatnya dampak buruk yang ada di dalamnya.

Rasanya saya enggak bisa untuk enggak sepakat dengan hal ini, karena untuk menjadi bijak sebenarnya kita hanya perlu tahu petunjuk apa yang baik dan tidak, apa manfaatnya dan kerugiannya. Sehingga kita bisa mengatur strategi untuk mengolah yang baik menjadi lebih baik lagi, dan menjadikan yang buruk sebagai peringatan dan batasan. 

Baiknya lagi, kampanya ini tertuju bagi anak-anak yang masih bersekolah, maju langsung ke pondasi awalnya sebelum masuk ke dunia yang lebih bebas lagi. Buat kalian yang masih sekolah, kalian wajib sih kepoin websitenya siapa tahu kamu bisa ikut berbagai kegiatan seperti seminar dan workshopnya di internetbaik.web.id.


Jadi gimana nih? Apakah kalian jadi pengguna #InternetBaik yang melakukan detox media sosial dalam waktu-waktu tertentu atau tetap pakai media sosial dengan banyak memahamkan diri soal baik dan buruknya agar kita tetap sehat dan baik selama berada di dunia internet? Share pengalaman kalian di bawah ya!

2 comments

  1. Wohoooo. Gue sih seneng-seneng aja karena niatnya buat ngerusuh dan membuat kerusakan di dunia ini. Hohoho.

    ReplyDelete
  2. Kalau aku lebih memilih memanfaatkan #InternetBaik sih :D Memang ada dampak negatifnya juga tapi bijak dalam menggunakan internet juga perlu agar bisa mengambil dampak positifnya :)

    ReplyDelete