Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapi Kopi 10rban

by - December 24, 2018



Seorang pelanggan, kami cukup saling mengenal, bertanya pada saya, "Kamu sudah coba kopinya di sana?" Sebagai pelanggan kedai kopi yang tak mengejar mendapatkan pengalaman 'kedai kopi baru', saya tentu menjawab 'belum'. Sebab yang selalu saya cari adalah pengalaman rasa, tentu pertanyaan saya akhirnya, "Gimana cappuccinonya?"

Ia menjawab dengan sederhana sekali, "Ya gimana sih rasa kopi 10.000?" Hwah, ternyata arah pembicaraan itu mengarah ke sentimen harga kopi di Malang "ujung-ujungnya akan menjadi"10.000-15.000, sebuah angka yang cukup membuat sedih bagi pejuang Third Wave Coffee, katanya. Sudah coba sajikan kopi dari petani yang berusaha diajak petik merah, membeli mesin roasting yang terbaik, ditambah harga mesin dan peralatan membuat kopi yang tolong jangan dikira hanya ratusan ribu atau jutaan rupiah, belajarnya tak mudah lagi. Sudah berusaha bangun ekosistem yang bagus dalam industri kopi.. eh ujung-ujungnya sepuluh ribu juga.

Mungkin pembaca yang dari kota Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya akan merasa 'i can't relate' membaca tulisan ini, maka selamat mendengar keresahan industri kedai kopi di kota-kota kecil. Tulisan lain terkait keresahan menikmati kopi bisa dibaca di segmen Krisis Kedai Kopi.

Klik di sini untuk menyimak kisah krisis kedai kopi.

Tulisan kali ini pure opini semata, sangat bisa salah dan terbuka pada diskusi.


Ada dua hal bagi saya yang penting untuk menyikapi kasus ini. Pertama, mengetahui perbedaan menikmati dan mengapresiasi. Menikmati akan sampai pada kesimpulan: enak dan tidak saja atau bisa diminum dengan nyaman dan tidak. Mengapresiasi akan sampai pada kesimpulan: bagaimana bisa menghargai kopi dengan karakter yang seharusnya, yakni ragam dan njelimet. Apresiasi yang mengantarkan kita akan selalu mendapatkan pengalaman berbeda dalam mengopi dari cita rasa kopi itu sendiri. Apresiasi yang membawa kita tertarik mencoba berbagai ragam rasa kopi lainnya. Tidak cukup pada: yang penting ngopi.

Sekarang, bagaimana pola kebanyakan konsumen menikmati kopi? Meski third wave coffee berkembang pesat, tapi kita perlu riset lebih dalam (dan bijak menyadari) bahwa kopi masih diposisikan sebagai minuman yang dicari sensasinya dan dibutuhkan kafeinnya. Sensasi agar bisa produktif, yang penting rasa kopi dan akan menghadirkan preferensi "bagaimana kopi enak" yang berbeda setiap pelanggan berdasarkan latar belakangnya sendiri-sendiri. Kalau mengikuti standar dicari manisnya, asam yang seimbang dan less-bitter yang dianggap paling ideal, tak berarti juga semua orang akan bilang itu enak jika ada di ranah menikmati.

Sebab di ranah menikmati, kadang yang ideal kalah sama yang lebih murah. Yang ideal kalah dengan yang bisa memberikan ambience kedai kopi yang menyenangkan baginya. Yang ideal kalah dengan alasan-alasan lainnya yang seringkali tak ada hubungannya sama sekali dalam kopi. 

Saya ngobrol dengan seorang teman lama, ia tanya, "Meg, menurutmu kopi di kedai kopi A enak gak?" He he he kebetulan saya kok hari itu keceplosan bilang enggak soalnya saya sensi sama kedai kopi yang bangunan sama nama menunya njiplak, hehehehe amit. Lalu ia bilang, "Kok menurutku enak yah, Meg?" Hmm, saya coba pahami bagaimana ia menikmati kopi. 

"Mas minum kopi kalau lagi apa?" Ia lantas menjawab, "Kalau lagi butuh fokus gitu, Meg. Kalau udah pusing skripsi, pokoknya aku harus ngopi." Saya tanya lagi, "Tapi kalau cappuccino nggak suka yah?" Ia jawab enggak, gak bisa menikmati kopi yang seperti itu, tapi ia sangat suka es kopi susu. Kopi dibutuhkan untuk fungsinya, untuk sensasi rasa es kopi susu yang memang kadang susah ditolak karena segernya itu lho~, serta dalih agar produktif.

Menikmati adalah soal selera berdasarkan pengalaman rasa dan latar belakangnya masing-masing.

Di sini lah sebagai pengulas (orang yang mereview) ketika menemukan kopi yang tidak oke bagi saya, ya bukan berarti bisa seenaknya bilang tidak enak. Tapi saya akan bilang, "Mungkin kopi ini akan cocok pada orang yang mencari A." Yang dalam terjemahannya: this coffee is just not for me, tapi orang lain bisa saja suka.

Tapi kalau sudah masuk ke ranah apresiasi? Lain ceritanya, ini akan masuk ke poin kedua yang akan dijelaskan nanti. Nyatanya sekarang lebih mudah menghabiskan biji kopi untuk produksi es kopi susu atau manual brewing atau setidaknya cappuccino dan teman-temannya? Akhirnya kita bisa melihat pola konsumen menikmati kopi adalah butuh kesegaran kopinya, catatan yang penting ada rasa kopinya dan sugesti lebih produktif. Dari cara berpikir sederhana (yang tak ada jaminan kebenrannya), kita bisa menyimpulkan bahwa: lebih banyak orang yang menikmati kopi, daripada mengapresiasi kopi.

Memang dampaknya apa sih dengan perbedaan dua prinsip ini?



Oke, kita masuk ke poin kedua ya. Poin kedua adalah ada uang yang perlu dibayar untuk kopi yang layak diapresiasi, bukan untuk dinikmati semata. Usaha barista membersihkan alat kopinya, kalibrasi setiap hari, dan harus belajar dari hari-ke-hari untuk memahami bagaimana njelimet-nya membuat kopi. Ada mesin-mesin kopi yang layak dibayar dan 'ora sumbut' kalau yang dijual kopi 10rban dan setiap harinya hanya ada 10 pelanggan saja. Ora sumbut dapat diterjemahkan dengan kapan balik modalnya nich? Apa harus pakai sistem subsidi silang nich? Ada roaster yang harus beli mesin mahal dan berani bereksperimen, harus dibayar juga. Ada prosesor yang dalam hal ini menjadi salah satu faktor penting bagaimana kopi rasanya bisa kompleks. Dan ada petani kopi yang perlu diedukasi untuk petik merah. Ekosistem ini perlu uang.

Apakah penikmat kopi peduli? Belum tentu. Yang mampu mengapresiasinya saja yang mau.

Apabila ekosistemnya baik, kita bisa mendapatkan sebuah kopi yang ragam rasanya dapat diapresiasi. Ada harga ada barang. Tapi bagi penikmat kopi, apa penting mendapatkan kopi yang cita rasanya kompleks? Mungkin bagi para penikmat kopi, ragam rasa tersebut tak lebih ia diajak pergi ke toko jamu, ora onok enak-enak e. 

Harus nggak sih persepsi menikmati kopi harusnya pada dengan ragam rasanya? Kita nggak bisa bilang harus, tapi alangkah baiknya, kan? Agar tak ada lagi pemisah antara menikmati dan mengapresiasi. Agar kopi mampu meningkat juga harga jualnya sebab mereka sadar jika ingin rasa kopi yang kompleks, ada yang perlu dibayar. Tapi, bagaimana kita bisa memaksa orang untuk mnemukan asiknya menikmati kopi yang rasanya kompleks saat ia masih berpikir bahwa kopi adalah sensasi kafein dan produktivitasnya?



Menikmati cukup yang penting dibikinkan kopi. Mengapresiasi adalah pengalaman mengopi yang jauh lebih dalam menikmati dan perlu biaya yang lebih untuk menjawab rasa puas apresiasi tersebut. Menikmati belum tentu mengapresiasi, mengapresiasi sudah pasti menikmati.

Tapi setidaknya kita telah selesai dengan problematika: ngopi mending kopi sachet. Maka soal nilai jual kopi yang segitu-segitu aja karena massa orang yang sekadar menikmati adalah tantangan, bukan permasalahan. Jika hari ini kita sedih dengan harga kopi tak seimbang dengan perjuangan dan cost-cost yang perlu dibayar, tak apa. Besok, kita mulai pikirkan apa selanjutnya yang perlu dilakukan.

Intinya adalah kita tidak boleh sensi-sensi amat dengan kopi sepuluh ribu, mau gak mau menyadari bahwa pola konsumen menikmati kopi untuk sensasinya saja. Daripada sensi, mari coba lihat apa permasalahannya. Maka bagi sobat-sobat sekalian yang menyadari pentingnya mengapresiasi kopi.. buka lah ruang-ruang diskusi untuk mengapresiasi kopi. Agar orang-orang yang sebenarnya mengapresiasi kopi ini semakin kuat keinginannya untuk mampu membeli kopimu yang mahal itu dan tak tergoda dengan kesegaran es kopi susu atau ngopi sepuluh ribu saja lah tak apa~.

Mari kita bermain sebab-akibat. Itu lah sebab saya tak terlalu suka acara kopi gratisan, akibatnya membuat orang datang menikmati kopi tanpa mau tahu isinya apa. Sebab kemudahan itu, akibatnya membentuk budaya bahwa begitu pula lah cara kita menikmati kopi. Sebab tak seimbang dengan acara-acara edukasinya, lalu mau berekspektasi apa? Sebab kedai kopi terus-menerus highlight es kopi susunya, akibatnya mau sampai tahap tidak tahu jadi tahu saja susah. Yang mengapresiasi kopi itu-itu saja, susah sekali menumbuhkan orang baru.

Jadi, bagaimana kalau besok kita pergi mengopi untuk memesan manual brewing dan mengapresiasinya? Sampai jumpa di cangkir kopi yang menawarkan ragam rasa dan semoga kita terus dijaga dalam semangat mengapresiasi kopi yang sesekali tergoda rasa betapa segarnya es kopi susu (meski lebih segar coca cola yang diberi banyak es batu). 

You May Also Like

2 comments

  1. Haii nice writings !
    Walaupun awalnya aku tidak sepeduli itu pada hal ini.
    Tapi setelah baca tulisanmu, jadi "Iyaa juga yaa."
    Semakin ke sini aku menjadi penikmat, bukan lagi seseorang yg bisa mengapresiasi.
    Cuman bisa bilang mana Cappuccino yg nyaman di lidahku sama yg nggak.
    Filter coffee udah lama nggak nyoba.
    Sepertinya memang sudah saatnya yaa lebih apresiasi kopi.
    Ngomongin soal kopi 10 ribuan. Ada loh yg harga segitu tapi nyaman di lidah.
    Anyway good luck buat Sophia !!!

    ReplyDelete
  2. Sebagai orang Jakarta, sejujurnya saya enggak paham soal 10 ribu itu. Harga itu kenapa? Termasuk murah juga di sana? Intinya tuh diremehkan? Kok masih bingung, ya.

    Gimana ya, sejak baca kumcer Dee, lalu difilmkan dan menonton filmnya, saya mulai berusaha mengapresiasi kopi, sih. Ternyata proses bikinnya emang susah. Dari mulai petaninya. Kemudian Barista perlu mencoba berkali-kali demi mendapatkan satu rasa yang luhur. Sayangnya, sekarang hampir enggak pernah ngopi lagi saya. Tanpa kopi aja pola tidur udah ngawur begini. Huhu.

    Namun, saya udah jarang protes juga ketika sekalinya ngopi di suatu kedai kopi dan harganya 35 ribuan. Tentu ada proses di balik secangkir kopi yang bikin harganya jadi semahal (bagi saya) itu. Rasa apa yang membedakannya dengan tempat lain, yang menunya sama, tapi cuma sekitar 20k. :)

    ReplyDelete