Mencicipi Walida PB Darat Coffee Lab di Konkopia

by - January 01, 2019


Tak jadi mengopi pagi, sebab ada pekerjaan yang baiknya dikerjakan di rumah saja, akhirnya mengopi sore saja lah. Ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan di Konkopia, urusan event #kamipakailagi yang saat ini sedang dikerjakan laporan pertanggungjawabannya, dan brainstorming beberapa hal yang akan dilakukan Konkopia selanjutnya serta proyek personal saya (yang lebih banyak soal kepenulisan).

Setelah menulis tentang bagaimana kita sebagai pelanggan seharusnya mengapresiasi kopi di segmen Krisis Kedai Kopi dalam blog ini, saya sudah berkomitmen untuk lebih banyak mencicipi manual brewing dan cappuccino (serta teman-temannya), dibandingkan 'es kopi susu'. Untuk melatih lidah juga dalam memahami rasa, bonusnya membuat pemilik coffee shop tak harus menyesal: 'menghabiskan arabika kini susah sekali' hahahaha.

Aslinya mau pesan Kenya yang dari Tokyo, tapi saya nggak mau boros di awal bulan lah hahahaha, jadi pesan yang lokal dulu saja. Dari beberapa coffee beans di Konkopia, saya hanya pilih random dari coffee beans apa yang belum saya coba. Akhirnya ditawari Mas Gomes, pemilik Konkopia, untuk pesan Walida PB, dari Darat Coffee Lab (Jogja). Baiklah, mari kita coba.


Perlu diapresiasi sih untuk Darat Coffee Lab yang rela meluangkan waktunya menulis profil kopi selengkap itu. Mungkin pemilik kedai kopi kini bertanya-tanya, apa perlu dan apakah orang peduli, jawabannya adalah (bagi saya): bergantung pada pasar siapa yang ingin kamu tuju. Kalau ingin menuju pasar yang mau mengapresiasi, ya pasti orang yang mengapresiasi peduli pada hal-hal semacam ini, sehingga orang yang datang untuk membeli adalah orang-orang yang peduli.

Hari ini adalah hari pertama saya mengenal istilah peaberry yang kalau di Indonesia ada sebutan 'kopi lanang'. Saya masih enggak paham mengapa disebut 'kopi lanang', tapi kopi lanang ini adalah biji kopi yang anomali. Bentuknya beda, kalau normalnya akan ada dua biji, kopi lanang ini cuma satu biji. Selengkapnya kalian baca di artikel yang ditulis Otten Coffee ya, klik di sini. Mendengar bahwa 'kopi lanang' dan merupakan 'anomali', mungkin image-nya gak bagus-bagus amat. Saya juga gak berekspektasi apa-apa, belum pernah coba yang peaberry, belum lihat flavor notes-nya. Ya nyoba aja lah.


Saat sudah tiba, aromanya sebenernya wangi banget sih. Tapi karena enggak pernah mencoba melatih indra penciuman, jadi bagi saya semua aroma masih sama saja. Langsung saja dicicipi, dan fruity banget. Tiba-tiba merasa ada lemonnya begitu terasa, citrus tapi tetep manis. Lalu saya nyeletuk dong, "Apa cuma perasaanku aja ini lemonnya terasa banget?" Mas Gomes menanggapi, "Nggak tahu ya, tapi kalau aku terasa banget peach-nya."

Saya beberapa kali coba makan peach, agar bisa familiar, tapi ya karena sehari-harinya nggak makan peach, jadi lupa aja rasanya. Akhirnya saya cicipi lagi, memang ya manisnya di awal lebih ke arah peach. Diingatkan kembali rasa peach dengan makan peach yang agak kering dari teh "Greentea Peach" yang ada di Konkopia lagi. Rasa yang lain tidak terdeteksi di lidah, namanya juga masih belajar. 


Setelah mencicipi kopinya, tamasya kedai kopi hari ini ditutup dengan nggeragas (rakus) beli cemilannya Konkopia. Satu risol dan dua pisang coklat cukup dengan 10rb saja. Ditambah kopi yang saya pesan, totalnya 30rb. 

Di tahun ini, saya mau lebih rutin menulis selama tamasya kedai kopi agar tidak numpuk seperti tulisan-tulisan yang belum saya publish sejak November 2018. Jadi, sampai jumpa di perjalanan tamasya selanjutnya, ya! 

You May Also Like

1 comments

  1. Gue juga nggak terlalu sering beli es kopi susu. Tapi tetep aja lebih suka yang robusta. uehehe. Gak terlalu suka yang berasa asem2 gitu soalnya. enakan yang pahit doang. \:p/

    ReplyDelete