Menjadi Social Media Officer Pertama Kalinya Saat Sekolah (#MejaBekerja Bagian 1)


Berarti lima tahun yang lalu menjadi tahun yang penting, sebab banyak hal dimulai karena Mas Kiki. Obrolan awal sederhana saja, katanya, mau ngiklan di Beware Magz. Ini majalah online yang diinisiasi oleh Kak Pertiwi Yuliana, blogger Jakarta, dan pada saat itu saya menjadi salah satu kontributor di Malang.

Rupanya, Mas Kiki tidak benar-benar ingin ngiklan di Beware Magz. Ia membawa planning untuk Kabar Malang yang baru ia pegang di tahun 2014. Saat itu Twitter masih menjadi media utama, Instagram baru muncul dan sedikit yang menggunakannya. Hanya ada Twitter Kabar Malang yang isinya hanya memberi kabar berita sehari-hari di Malang. Kontennya sebatas beberapa kata pembuka di awal, link berita dari media lain, selesai. Dan pekerjaan itu yang ternyata ditawarkan kepada saya.

Sebagai anak sekolah, saat itu di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang yang kini menjadi MAN 2 Kota Malang, masih berusia 17 tahun, jelas saya girang. Apalagi dapat uang saku untuk paketan internet setiap bulannya. Meski saya anak asrama yang tidak diperbolehkan bawa laptop ke asrama dan sama sekali tidak diperbolehkan bawa handphone baik di asrama dan sekolah, semua itu tidak berlaku bagi anak bandel seperti saya hwahahahah. Tetap gas boskuuuuu.

Catatan pertama.
Ada yang masih ragu berbagi passion dan pekerjaannya di media sosial? Berbagi kesibukan kita hari ini bisa membuka pada peluang-peluang lainnya. Itulah sebab saya membagikan proses pekerjaan, yah meski pasti ada aja yang mengomentari: biar kelihatan sibuk dan keren ya? No darling. Ini semata-mata karena suka dan terbuka pada peluang yang lain.

Sebenarnya job saya bukan "Social Media Officer", tapi saya diberi title sebagai "Social Media Strategist & Community Manager". Sebagai anak sekolah yang nggak ngerti itu ngapain dan yang penting keren, saya mengiyakan. Setelah dewasa, saya jelas sadar apa yang saya kerjakan jauh dari itu semua, dan merasa nggak layak aja hahahahah, jadi di Linkedin pasti saya ubah sebatas Social Media Officer.

Jobdesk saya kala itu hanya: 1) Planning konten Instagram  dan Twitter (Instagram udah mulai dijalankan); 2) Scheduling twitter di Tweetdeck; 3) Menjadi admin keduanya; 4) Datang ke event yang bekerja sama media partner untuk live report; 5) Membangun relasi saat di event.

Sebenarnya saya nggak tahu apa-apa soal social media content planning, yang saya tahu, konten yang lucu aja untuk dibuat hahahahah. Ya gimana, kan nggak tahu. Tapi lambat laun saya ngerti apa yang dibutuhkan, dan enggak.

Dahulu, saya pernah bikin konten lifehack yang nggak nyambung blas sama Kabar Malang, nih postingannya:


Yah, ngapain juga sih orang cari tips cara makan kreatif good time di Kabar Malang. Nggak sesuai dengan value-nya, dan juga.. siapa yang butuh. Tapi kan lucu ya kan ya kan ~ hahahaha.

Catatan kedua.
Sekarang, dengan kemampuan yang masih alakadarnya. Setidaknya dalam membuat konten media sosial, saya mencoba mengutamakan lima aspek yang paling utama ini: 1) lihat posisi brand; 2) value brandnya apa; 3) tone suaranya gimana sesuai posisinya; 4) siapa target marketnya dan cari apa kebutuhannya dalam media ini; 5) selalu memperhatikan tren hari ini.

Satu-satunya konten yang paling saya suka selama di KabarMLG adalah tips waspada begal. 


Bekerja di media/perusahaan/atau apapun yang baru memulai adalah siap dengan mengerjakan job yang ada di luar kita. Setelah reporter KabarMLG saat itu resign, saya nge-cover beberapa penulisan berita. Long story short, saya merasa kerjaan saya terlalu banyak, pekerjaan saya berhenti di bulan keenam.

Masih ingat, saya hari itu sedang sakit typhus, membuka pesan di handphone saat sedang di kamar asrama. Pesannya berisi ditawari untuk hadir di acara gala premiere Filosofi Kopi yang pertama. Hari itu adalah di mana saya merasa kayaknya nggak lanjut lagi deh, badan saya yang berusia 17 tahun itu masih terlalu lemah untuk pekerjaan yang berat ternyata hahahahah. Lagian saya juga mau Ujian Nasional dan memikirkan masa depan setelahnya. Cye.

Yang paling berkesan selama kerja bareng Mas Kiki dan di Kabar Malang adalah,

Pertama, kenal sama teman-teman media dan ambil bagian dari trendingnya hashtag #NGALAMKIPA.

Malam-malam saya kabur dari asrama ke lokasi yang telah ditentukan demi menjadikan #NGALAMKIPA trending di Twitter. Lokasinya ada di sebelah sekolah saya, DW Coffee, seluruh akun buzzer berkumpul di sana. Sebagai anak sekolah, bersyukur banget bisa tahu setidaknya satu persatu di balik akun yang besar.

Hari itu saya juga sudah mulai kambuh asam lambungnya, detik-detik menjelas typhus hahaha. Tapi ya namanya juga senang, ya lanjut dong.

Kedua, pertama kalinya tahu bahwa website bisa dibisniskan. Dua bulan kerja di KabarMLG, saya menelurkan website bernama kapankamunikah.com. Kalau bukan karena Mas Kiki, ya mana saya tahu? Kalau bukan karena Mas Kiki, website itu tidak akan pernah lahir dan saya mungkin harus menunda beberapa bulan untuk bisa menulis buku.

Sebab saya bisa menulis buku karena website tersebut ditemukan oleh editor Metagraf dan lalu saya dikirimi email untuk menulis buku di sana. 

Catatan ketiga, jangan pernah abaikan pekerjaan sesederhana apapun, karena rezeki tidak selalu soal uang. Rezeki bisa berupa dibukanya jaringan pertemanan, bisa juga dalam bentuk kesempatan besar yang lain. 

Terima kasih Kabar Malang dan Mas Kiki! Sampai hari ini saya masih terus berkomunikasi dengan Mas Kiki jika butuh kalimat-kalimat positif dalam menjalani mimpi yang saya bangun. :) Jadi pekerjaan official pertamamu apa nih? Share dong di kolom komentar di bawah.

Simak cerita Meja Bekerja lainnya.

0 comments:

Post a Comment