Menentukan Target Pembaca untuk Siap Menerima Apresiasi & Kritik (#MejaBekerja Bagian 2)


Banyak teman yang bertanya, "Seneng nggak udah punya buku sendiri, Meg?" Bagi saya yang baru menulis, jawabannya adalah.. nggak tahu. Iya, nggak tahu. Antara senang dan enggak jadi satu. Senang karena punya keberanian mengeksekusi sebuah impian, enggak terlalu senang sebab ada banyak tugas yang perlu saya selesaikan setelah menulis.

Rentetan tugas tersebut salah satunya adalah, mengevaluasi hasil karya. Bagaimana cara evaluasinya? bisa dimulai dari mendengarkan opini pembaca.

Cara alam semesta bekerja adalah menghadirkan dua sisi, negatif dan positif. Bukan baik dan buruk. sebab dalam kenegatifan nggak selalu buruk, dalam kepositifan nggak selalu baik. Tidak ada yang benar-benar baik, dan tidak ada yang benar-benar buruk. Sebab cara bekerja alam semesta demikian, maka dalam menulis dan merilis karya kita, akan selalu menerima pembaca yang suka dan tidak. Harus siap menerima apresiasi, serta kritik.

Sekali lagi dengan rumus di atas, tidak ada yang benar-benar baik, dan tidak ada yang benar-benar buruk, berarti apresiasi tidak selalu baik, kritik juga tidak selalu buruk. Bahkan menurut Jenji Kohan, pembuat series Orange is The New Black yang disampaikan oleh Samira Wiley (Poussey di OITNB), "There are no black and white only. But you have different shades of grey."

Sebelum masuk ke evaluasi hasil karya, cara agar kita lebih siap menghadapi apresiasi dan kritik adalah: menentukan target pembaca. Dalam hal ini tentu konteksnya buku non-fiksi, saya belum paham bagaimana cara bekerja buku atau tulisan fiksi. 

Dalam menulis buku atau karya non-fiksi, ada tiga tugas utama yang perlu dikerjakan: (1) melihat posisi menulis, (2) menentukan target pembaca dan riset akan kebutuhannya, dan (3) karya tulis yang menjadi perpaduan nomor satu dan dua.

Saya akan memadukan mendengarkan pembaca untuk mengevaluasi hasil karya dalam memahamkan target pembaca.

Beberapa pembaca setelah membaca, bilang bahwa cerita-cerita personal yang saya tulis di buku "Lo Ngerti Siapa Gue" membuat buku non-fiksi jadi nggak membosankan. Salah satu dampak selanjutnya, buku ini bisa jadi bacaan yang habis dalam sekali duduk.

Sedang ada satu komentar di Goodreads, ia bilang: "Hanya saja bukunya kurang panjang penjelasannya, wkwk." Atau ada juga yang beri komentar: "Tapi, sayangnya aku merasa masih kurang "nendang" buat membangun personal branding secara nyata. Maksudnya, sulit untuk aku aplikasikan. Atau akunya aja yang belum becus mungkin ya, LOL.

Bahkan saat bedah buku kemarin, Taqin mengungkapkan bahwa buku ini lebih banyak cerita personal, jadinya buku ini terkesan subjektif. Serta ada beberapa teknis yang kurang dijelaskan, yaitu soal konsistensi. Lebih banyak membahas soal cara mencari ciri khas diri. Tapi ia juga bilang bahwa buku ini bersifat teknis.



Bagaimana mengolah apresiasi dan kritik secara sekaligus?

Berdasarkan pengalaman, saya sendiri orang pernah tidak siap menerima keduanya. Setiap ada apresiasi, saya pasti menggumam, "Basa-basi aja nih pasti, bohong kan pasti?". Tapi saat diberi kritik, saya malah mutung dan berhenti menulis. Pernah terjadi dalam menulis tentang kopi. Kritiknya banyak dan cukup keras, membuat saya emoh dan berhenti menulis tentang kopi lagi (meskipun sekarang dalam tahap rindu Tamasya Kedai Kopi, ok, ini dibahas di lain kesempatan hahaha).

Sebelum menulis buku ini, saya mengerjakan tiga tugas utama yang saya ditulis di atas. (1) posisi saya menulis adalah sebagai pekerja media sosial dan mahasiswa komunikasi. (2) target menulis saya adalah orang yang mulai bikin konten media sosial dan pengin lebih mengoptimalkan. (3) tentu menuliskannya hingga jadi buku ini. Sehingga bagi saya, buku ini adalah bagian dari perjalanan memahami personal branding dan media sosial. Hanya saja, saya bagikan melalui buku.

Poin apresiasi di atas, berarti ia adalah target pembaca yang saya tuju sebelumnya. Orang yang bisa menikmati cerita personal. Saya sendiri lebih banyak membaca buku non-fiksi dan memang banyak terpengaruh dari buku-buku yang lebih banyak mengisahkan sebuah perjalanan, sebab itu yang bikin nggak bosan. Ketika buku sifatnya penuh praktik, itu tentu buku yang nggak harus sekali baca habis.

Masuk ke poin kekurangan di Goodreads, itu berarti jadi tugas saya selanjutnya. Gimana caranya kisah dan teknis sama-sama jelas. Ini sih semangat yang selalu membuat nggak berhenti menulis, selalu ada kekurangan yang perlu disempurnakan lagi. Sebagai pembaca pun, saya juga sering banget menemukan kekurangan-kekurangan buku non-fiksi, itu hal biasa. Jadi nggak perlu khawatir ketika orang menemukan kekurangan kita. Sebab tanpa mereka, jadi nggak tahu kelemahan dan kekuatan kita apa, ini berperan besar dalam progres menulis selanjutnya.

Terakhir, memang argumen Taqin menarik, sebab ia sudah membaca Personal Branding Code dan mencoba membandingkan buku saya dengan buku tersebut, yang sebenaranya kurang apple-to-apple. Sebab buku Personal Branding Code lebih untuk pekerja profesional, sedangkan buku saya untuk dedek-dedek yang punya obsesi jadi selebgram atau terkenal.

Nah, di sini lah peran kita udah tahu posisi kita sebagai penulis dan menentukan target pembaca buku kita. Ketika kita nggak sadar akan target pembaca, akan muncul perasaan bersalah: emang jelek yah buku kalau cerita terus? Apa iya terkesan subjektif? Pikiran ini kalau diterusin, nanti bisa gila wgwgwgwg.

Ingat, target buku saya kan memang buku yang bisa habis dalam sekali baca, untuk pembaca-pembaca yang kurang betah buku dengan bahasa terlalu baku. Banyak juga kok buku yang konsepnya demikian, banyak ceritanya. Tapi, jangan lupa untuk memperhatikan kekurangan-kekurangan seperti pembahasan yang misalnya kurang saya tulis lebih komperhensif lagi.



KESIMPULAN

Demikianlah cara mengolah apresiasi dan kritik untuk progres menulis kita yang lebih baik, yakni dengan menentukan target pembaca dahulu yang disesuaikan dengan di mana posisi kita sebagai penulis. Sehingga kita lebih siap menerima apresiasi dan kritik, lebih siap mendengarkan mana kekurangan yang perlu kita sempurnakan lagi tanpa perlu kepikiran berlebihan.

Dalam buku "It's Not HOW GOOD YOU ARE, It's HOW GOOD YOU WANT TO BE", menjelaskan bahwa kita nggak perlu jadi seseorang yang terbaik dalam melakukan sesuatu. Mau jadi baik aja banyak kok levelnya, apakah mau jadi quite good? Good? Very good? The best in your field? atau The best in the world? Semuanya sama-sama baik, dan tidak masalah jika belum di tahap very good, sebab kita quite good. 

Semoga selepas membaca tulisan ini, kamu lebih percaya diri dalam menulis dan nggak terlalu takut opini orang ya! Sebab, opini juga bisa membuat kita tumbuh. Ingat, tidak ada yang benar-benar baik, dan tidak ada yang benar-benar buruk. 

Cerita Meja Bekerja lainnya bisa kamu baca di sini.





4 comments

  1. Wooow sekalinya main ke sini lagi udah bikin buku aja si mega. Gue mau cari aaah. Hehehe. Anyway, suka gue sama template blog yang inii. \:p/

    ReplyDelete
  2. Saya paham gimana rasanya pengin berhenti menulis. Terus lebih baik menempatkan diri sebagai pembaca aja. Hahaha. Tapi enggak tahu kenapa malah tetep balik nulis lagi. Wah, kritik dari orang lain yang pedes (apalagi sekelas Goodreads, novel yang dapat penghargaan nobel pun ada yang ngasih bintang satu), kadang bisa menghancurkan kepercayaan diri. Kudu kuat-kuat mental, sih. Saya sepakat soal mengevaluasi tulisan sendiri. Baca tulisan lama itu cukup sering muncul rasa ingin memaki. Berarti ada progres sejak hari itu.

    Paling enggak kamu udah berani memulai, Meg. Kalau kata Pandji: keluarin aja dulu karya pertama, lalu belajar atau bertumbuh dari situ.

    ReplyDelete
  3. Dulu aku juga gitu, pernah ingin berhenti menulis. Sampai kemudian aku juga sadar bahwa, tulisan kita punya pembacanya sendiri. Trimakasih untuk semua sharing tulisannya, mbak Mega. ;)

    ReplyDelete
  4. terkadang rasa malasnya itu membuat saya jadi malas menulis,tapi saya kan semangat untuk menulis kembali

    ReplyDelete