Tamasya Ke Space Roastery, Kopi dan Baked Cookies adalah Kecintaanku


Sewaktu bertamasya ke Yogyakarta April 2019 kemarin, sebenarnya memang tidak ada agenda Tamasya Kedai Kopi khusus. Sebab setiap memiliki kesempatan ke Yogyakarta (yang berarti kini kelima kalinya), hampir selalu terlewat mencicipi makanannya.

Agenda singkat dua hari dipenuhi dengan mencicipi makanan baru yang sebelumnya saya belum coba, dan di hari pertama akhirnya memiliki kesempatan Tamasya Kedai Kopi. Dari sekian nama kedai kopi yang ada di bucketlist, yang buka sampai larut hanya ada Space Roastery. Akhirnya saya pergi ke sana, dan itupun membawa laptop untuk mengerjakan beberapa hal. Sepulang dari Yogyakarta, siangnya saya harus bimbingan hahaha.


Setiba di Space Roastery, kita disambut oleh LED neon sign bertuliskan "Same Shit Different Day". Sebenarnya saya datang di waktu yang kurang tepat, Space Roastery sedang dalam tahap pembangunan jika tidak salah. Tapi tidak masalah, bar yang dimilikinya begitu menyenangkan, lengkap dengan dua barista perempuan yang sama menyenangkannya.


Seperti obrolan basa-basi dari dua orang yang saling asing, pertanyaan dari mana pasti muncul. Nggak usah baper ya kalau ditanya begini, sebab ini hanya bagian dari cara komunikasi dua orang mengurangi kecanggungan, hanya saja kalau pertanyaannya kapan lulus - kapan nikah - kapan punya anak - kapan memimpin negara - kapan menghancurkan alam semesta, memang agak mengganggu. Lalu saya bilang kalau dari Malang, sedangkan Mas Taufiq (iya kami bertemu di Yogyakarta, hashtag pejuang LDR) bilang dari Tangerang, mbak barista yang saya lupa tanya namanya merespon, "Lhoh gimana? Ada keperluan di Yogyakarta atau sengaja bertemu untuk melepas rindu?"

"Yang kedua, hehehe," jawab saya santai.



Saya memesan Halu Pink Banana, yang banyak dibicarakan, dan baked cookies yang almond. Sedangkan Mas Taufiq memesan espresso Strawberry Field, saya enggak tahu juga dia terbiasa minum espresso apa enggak, tapi saat mbak barista menanyakan preferensi espresso Mas Taufiq, saya merasa.. oh pasti enak kok espressonya, bukan espresso jahat, hahaha. 

Memberikan pilihan espresso apa yang bisa dicicipi bagi saya nilai lebih bagi sebuah kedai kopi. Saya yakin kedai kopi hari ini selalu eksplor rasa, tapi nggak banyak yang menyuguhkan pengalaman mengeksplor rasa untuk pelanggannya. Dan ketika diberi pilihan begitu, berarti barista dalam kondisi mengerti jenis biji kopi yang ia seduh.


Sebelum kopi datang, saya dan Mas Taufiq berdiskusi soal "kamu kalo ada yang nanya gitu merasa nyaman nggak?", tentu ini soal obrolan personal dari barista tersebut. Saya bilang. "Gak papa sih, cuma pengin obrolannya cepat selesai aja hahahaha." Kebetulan kami adalah orang-orang yang kepribadiannya cenderung lebih besar sisi introversion-nya. Pertanyaan personal bagi yang belum kenal sebelumnya tentu tidak masalah, hanya kadang bingung meresponnya.

Kalau di kedai kopi, saya tergolong orang yang duduk di bar, tapi hanya untuk diam saja dan melihat mbak-mas barista bekerja. Kadang kan ada tuh yang ngajak ngobrol, menanyakan mulai dari biji kopi yang enak sampai bagaimana alam semesta ini bekerja, sedang saya hanya duduk anteng, paling memotret sana dan sini. 

Selepas obrolan itu, tidak lama kopi datang. Asyik!


Halu Pink Banana yang muncul jadi perbincangan orang ini akhirnya saya cicipi juga, mereka mencatat flavor notes/taste likes-nya Banana dan Peach. Saat suhu masih panas, saya enggak mengingat rasa apa-apa dari lidah saya yang kemarin baru terbakar karena makan bakso terlalu panas hahahahah, hanya terasa buah-buahan banget aja. Setelah ia mulai dingin, mengingatkan pada sale pisang. 

Meskipun tahun lalu saya intens makan buah peach hanya untuk mencoba mengenali bagaimana rasa buah peach, tetap saja buah itu cukup asing untuk benar-benar diingat. Paling yang diingat sensasi segar saat buah mulai kita gigit, juicy sekali, uuuhhhh jadi pengin makan buah peach. 

Saya lebih sumringah ketika mencicipi espresso Strawberry Field-nya! Enaaakkkkk meski tidak bisa terlalu mendeskripsikan rasa enaknya. Yang jelas dominasinya bukan manis yang panjang, tapi kecut manis seger lucu gitu. Saya yakin 'mbak-mas kopi-kopian' kalau baca ulasan ini kesel, kalau nggak ngerti rasa kopi di3m aJ@h d3cH m3nd1Nk qAmu tUh. Saya hanyalah manusia basic yang suka kafein aja kok mbak-mas hahaha.

Penyempurna dari dua rasa kopi yang menyenangkan malam itu adalah baked cookies! Seneng bangeeeet kalau kedai kopi menyediakan cookies yang dihangatkan, jadi lembut saat dimakan, bukan cookies yang kering, ya. Meskipun saya suka kopi, bukan berarti bisa menikmati kopi sendirian, harus ada pendampingnya. Bagi saya croissant atau sejenis pastry nggak jadi favorit untuk pendamping mengopi, karena pastry cenderung kering, dikasih kopi jadi bikin haus hahahaha. 

Jadi bagi saya kopi dan baked cookies adalah kecintaan! Salah satu perpaduan yang pas!

Perpaduan favorit saya yang kedua adalah dengan cake yang teksturnya lembut, bukan yang spongy. Mau rasa apa aja, coklat, lemon, atau apapun kalau teksturnya lembut, uuuhhh jadi bikin nikmat kopinya. Tapi enggak tahu kenapa banyak kedai kopi yang lebih memilih cake-nya bertekstur spongy, jadi sedih huhuhu. Sama perpaduan yang saya suka selanjutnya tapi agak aneh adalah kopi dengan pizza hahahaha, tapi kopi dan baked cookies bersatu tak bisa dikalahkan. Cookies aja udaaaahhh.


Dari segi Meja Bekerjanya memang agak disayangkan di bagian dalam yang ber-AC tidak ada tempat yang nyaman untuk bekerja, hanya ada di luar yang lebih 'meja bekerja friendly'. Untungnya tempatnya luas banget, dan meskipun hari itu termasuk padat, bagi saya cukup aman untuk bekerja. Pelanggan-pelanggannya begitu menyenangkan. Tapi jangan khawatir, sepertinya saat saya datang Space Roastery sedang menyiapkan kedai kopinya untuk lebih nyaman lagi.

Jadi, terima kasih Space Roastery! Pengalaman yang menyenangkan!

Space Roastery ~ Yogyakarta
Instagram: https://www.instagram.com/space.roastery/
Maps:



1 comments