Mempertanyakan mau dibawa ke mana amarah ini?


Perjalanan akhir bulan puasa hingga ke idulfitri saya mempertanyakan semua amarah yang ada dalam diri, mau dibawa ke mana? Dengan kesadaran penuh, nggak ada gunanya meminta pertanggungjawaban kepada orang yang sudah menciptakan amarah tersebut, karena letak yang tidak beres sebenarnya ada di diri. Susah melapangkan perasaan, perlu waktu yang lama untuk menyembuhkan lukanya dan benar-benar membersihkan residu perasaannya.

Dalam waktu yang seperti ini, sebelum mengucapkan mantra: harus ikhlas dan memaafkan, setiap perasaan mencoba untuk dibedah satu-persatu. Apa yang sampai hari ini masih mengganggu? Jawabannya terkumpul menjadi catatan yang membawa beban berat.

Mulai dari yang mengucapkan kalimat maaf template tapi jelas masih merendahkan (dengan begitu menyakitkan yang rasa sakitnya sampai membuat sesak). Yang minta maaf tapi malah memilih kultum daripada jujur merilis segala perasaannya. Orang-orang yang saya berikan waktu luang dan usaha lalu tiba-tiba ia kecewa dan menghilang tanpa sebab. Atau obrolan-obrolan menyakitkan yang sebenarnya saya sadar mereka tidak bermaksud. Hingga kekecewaan pada orang lain yang masih saja meninggalkan residunya hanya karena orang tersebut masih sama saja.

Memikirkan semua ini membuat saya menertawakan diri, sebab terlalu detail pada setiap hal hanya karena tidak mau terjebak pada kalimat "harus ikhlas dan memaafkan" tapi tak benar-benar melakukannya. Bicara diri ini sudah lebih baik, tapi nyatanya hati masih begitu lusuh. Mengucapkan kalimat-kalimat bijak tapi dada masih begitu sesak jika bertemu dengan sesuatu yang membuat tidak nyaman.

Sebab pada kata maaf sering kali malah menumbuhkan harapan ia berubah. Dalam kata maaf masih saja ada yang merusak niat baik tersebut yang akan mengembalikan pada jebakan yang sama. Lalu mau dibawa ke mana semua amarah ini?

Foto, studiodiy.com

Saya mencoba membayangkan maaf tidak seabstrak kata dan perasaan, maaf adalah kumpulan stok kue yang kita punya. Kita memiliki stok kue maaf yang banyak dalam diri, karena setiap orang memiliki jatah satu kue yang utuh. Tak apa jika rasa sakitnya masih menyisa, tak apa, akan tetap saya berikan satu potongan kue maaf untuknya, meski tak bisa seutuhnya. Membesarkan hati untuk mau memaafkan dengan secukupnya, melegakan hati untuk tidak terjebak pada maaf yang sia-sia atau malah memunculkan harapan baru, tapi tak memaksa diri untuk berpura-pura untuk bisa menjalani semuanya dengan sama.

Kue itu kini sudah diberikan seiring selesainya tulisan ini, dan akan terus memproduksi kue maaf untuk hari-hari selanjutnya baik untuk orang lain dan diri sendiri. Jika ingin memesan kue maaf, bisa hubungi nomor telepon di bawah ini hahaha.



1 comments