Kenapa Pada Main Tik Tok, Sih?



Tahun ini saya memegang beberapa akun media sosial untuk dioptimisasi. Permintaannya bermacam-macam, dan beberapa permintaannya belum pernah saya lakukan. Misalnya saja optimisasi akun Linkedin, yang memang hari ini Linkedin bukan sekadar tempat mencari pekerjaan saja, tetapi menjadi platform berbagi pikiran dan ladang mencari ilmu terbaru. Tetapi ada permintaan lain dari akun yang berbeda, mereka minta brandnya sudah mencoba membuat konten-konten Tik Tok.

Sebagai seseorang yang agak serius dan membosankan, ya saya belum pernah install Tik Tok sama sekali. Tetapi di lain sisi, saya juga tak begitu sepakat kalau menemui orang yang begitu anti Tik Tok, bahkan sampai harus berlebihan menganggap kita harus idealis atau mengikuti tren. Jadi yang saya lakukan saat salah satu klien meminta untuk mulai bikin konten Tik Tok adalah, ok yuk coba pelajari.

Saya install Tik Tok tanpa sign up (bukan karena nggak mau, tapi karena saya baru sadar kalau kemarin install tanpa sign up), dan mencoba melihat video apa saja sih yang sudah dibuat. Menyimak Linkedin untuk tahu apa pendapat expertise dalam Tik Tok. Tapi beberapa argumennya masih belum membawa di satu titik, oh emang penting nih pake Tik Tok.

Misalnya saja ada yang bilang bahwa Tik Tok penggunanya adalah gen-Z, yang lahir di tahun di akhir 90-an dan 2000-an. Kita perlu main Tik Tok karena perlu mencoba 'merebut hati' calon yang akan tumbuh dewasa dan menjadi target audiences kita. Di kepala saya cuma ada, hah, emang harus banget, yah?



Lalu teman saya yang bekerja di salah satu agensi komunikasi di Jakarta Selatan, Rizkabum, mengajak saya untuk datang ke acara IDN Chat 3 dengan topik Understanding Gen-Z Market, yang mengisi adalah Angga Anudgrah, Head of Content of User Experience Tik Tok. Nggak ada alasan untuk tidak pergi, jadi mari berangkat!
Saat pertama kali Tik Tok menjadi tren, saya pernah melemparkan pertanyaan ini di kumpulan pertemanan STMJ saya (kan, kami tua banget yah? nongkrong aja di STMJ-- Susu Telor Madu Jahe), "Kenapa sih pada main Tik Tok? Padahal kemarin tuh orang anti banget." Salah seorang teman menjawab, "Karena sekarang Tik Tok image-nya jadi positif gitu."

Bukannya merasa puas, saya lalu bertanya, "Sejak kapan image Tik Tok menjadi positif? Karena Tik Tok melakukan sesuatu atau karena tiba-tiba ada video yang dibuat Tik Tokers jadi tren?" Akhirnya, pertanyaan itu saya bisa sampaikan di IDN Chat 3 kemarin.

"Sebenarnya agak susah mengukur timeline-nya, but I'm sure Tik Tok did something. Dulu tuh orang dateng ke Tik Tok, terus pergi lagi (install lalu uninstall). Jadi Tik Tok bounce rate-nya gede banget. Jadi kita benahi sistem kontennya," Angga Anugrah, Head of Content of User Experience Tik Tok.

Pertama, mereka membenahi sistem konten. Sebenarnya agak susah menjelaskan langkah pertama ini, karena saya juga nggak paham sistem mereka. Intinya, yang tadinya topik-topik kontennya terbatas, hanya dancing, mereka ubah jadi bener-bener diverse. Hal yang saya kagumi dari Tik Tok adalah, ketika ada satu video mulai banyak yang gunakan, Tik Tok akan coba kembangkan menjadi stiker baru atau tren video baru. Akan saya coba jelaskan di poin kedua.

Kedua, localize. Kalian tahu kan video dengan efek yang badan kita jadi berputar seakan ada di 'blender'? Nah, tren di luar negeri berbeda, mereka menamainya sebagai 'tornado effect'. Tik Tok akhirnya mencoba localize effect ini, mengubah namanya menjadi anti-lemes effect. Tik Tok juga akan mencari cara gimana video-video tersebut bisa lebih relate atau relevan dengan orang Indonesia.



Ketiga, kolaborasi dengan banyak pihak. Tik Tok beneran melakukan banyak sekali kolaborasi, mulai untuk pariwisata di Medan, dengan Kominfo, dan banyak hal yang sangat jelas bisa mengubah image alay menjadi pelan-pelan pudar.

Keempat, memang orang Indonesia sendiri yang memiliki kecenderungan willing-to-share. Setelah berbenah sistem dan strategi, orang Indonesia sendiri juga yang melahirkan banyak tren-tren baru yang diperhatikan oleh Tik Tok sendiri agar bisa dikembangkan lagi menjadi model-model konten yang baru.

----

Sebenernya kemarin dapet ilmu banyak banget, tetapi nggak semuanya saya bisa share di sini karena saya pun belum paham seutuhnya. Tapi setidaknya saya ingin bagikan empat hal di bawah ini:
  • Tik Tok isn't social media
  • Everyone can be creators
  • Gen-Z Market & Tik Tok as a leading destination for short-form mobile apps
  • Recreating in exceptional ways
TIK TOK ISN'T SOCIAL MEDIABut, TIK TOK IS CONTENT DISTRIBUTION PLATFORM


Kalau di Instagram dan kebanyakan media sosial lainnya, kita harus punya followers dahulu baru ada orang yang mengikuti konten kita, berbeda dengan Tik Tok. Meskipun kita tidak memiliki konten, sistem Tik Tok yang akan mendistribusi konten kita ke banyak orang yang memiliki minat yang sama.


EVERYONE CAN BE CREATORS

Tik Tok bisa jadi platform untuk bersosialiasi (well actually Tik Tok is a social media with different system tho) sekaligus tempat kita bisa memproduksi konten tersebut hanya dengan smartphone. Ibaratnya, Tik Tok nih memberikan fitur untuk editingnya mulai dari efek, musik, stiker, dan lain-lain. Dari teknologi, semua orang bisa membuat konten dengan begitu mudah. 

Di lain sisi, juga banyak topik-topik yang begitu beragam. Ada seorang dokter yang juga mengedukasi lewat Tik Tok. Ini membuat saya agak senang ya, oh orang semembosankan saya bisa nih main Tik Tok hahaha. Kalian coba cek tagar #samasamabelajar. 


GEN-Z MARKET &
TIK TOK AS A LEADING DESTINATION FOR SHORT-FORM MOBILE APPS


Ada dua fakta yang bagi saya penting menjadi rujukan kreator konten. Pertama, kalau boomers hanya menggunakan konten media sosial sekedar 'consume', berbeda dengan millenials dan gen-Z (saya lampirkan perbedaan generasi dari standar US, sebetulnya Indonesia sendiri punya rujukan sendiri untuk studi pembagian generasi). Millenials dan gen-Z di media sosial selain berperan menjadi konsumen konten-konten tersebut, mereka juga memproduksi pada saat yang sama.

Fakta kedua, ketika menonton video di lini masa, millenials hanya dapat fokus (attention span)-nya hanya 10 detik, sementara gen-Z, hanya dapat fokus 8 detik pertama saja. Jadi ini menjadi peluang bahwa video dengan model sangat pendek menjadi penting untuk dipertimbangkan. Dan saya jadi bisa melihat bahwa sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan melalui video dengan durasi pendek.

RECREATING IN EXCEPTIONAL WAYS

Sebenarnya saya adalah generasi gen-Z (saya lahir tahun 97) yang terjebak pada pemikiran boomers, seringkali begitu. Ketika saya melihat model-model konten di Tik Tok, alih-alih menganggapnya seru, saya malah semakin pusing, huft. Bingung mau bikin konten dari mana dan bingung efek-efek tersebut bisa digunakan dengan cara apa.

Ternyata di Tik Tok tdak punya aturan bahwa musik ini hanya bisa digunakan dengan 1 model atau 1 cara. Tidak pernah ada batasan dan ini yang membuat ketika satu video menjadi tren, bisa bikin kita eneg banget dengerin lagu tertentu (overheard). Karena dari satu tren atau satu challenge, tantangannya bisa leveling-up dan menjadi model-model lainnya.

----

Ya setidaknya itu yang bisa saya bagikan. Semoga bisa membuka pikiran bahwa ternyata Tik Tok melakukan banyak perkembangan dan kita bisa ambil celah mau memanfaatkan tren ini dengan cara apa di Tik Tok. Oh tentu saja sekarang saya sudah punya akun Tik Tok, username-nya @sophiamegareads karena sedih sekali sudah ada yang menggunakan username @sophiamega. Tetapi tentu saja belum ada kontennya dan masih belum tahu akan dibuat bagaimana hahaha.



IDN Media rutin membuat acara IDN Chat yang bisa kalian ikuti informasinya di Instagram @idnmedia.

2 comments

  1. fenomena yang dulu dipandang sebelah mata sekarang malah jadi banyak yang pake utamnya cewek remaja sih kalau saya lihat. Kata beberapa teman yang pake aplikasi ini bilangnya banyak fitur dan filter unik di dalamnya ketimbang ig. Jadi merasa enjoy aja main tiktok dan bisa kreasi sebebas mungkin.

    ReplyDelete
  2. Nggak tau kenapa sekarang di eksplore IG selalu muncul video tiktok cewek joget-joget itu, belum pernah kedapetan video yang bagus 😣

    ReplyDelete