Menjaga Kewarasan Lahir Batin Selama Swakarantina karena Pandemi Covid-19

Foto dari pngwing.com
Ramadan tahun ini jelas begitu berbeda, rasanya hanya menunggu kapan sahur dan buka, lebih lelah cuci piring dan masaknya daripada menikmati makanannya. Tanpa jalan-jalan cari takjil, tanpa bisa main ke mall untuk cari kuliner dan tinggal duduk, dan tanpa bisa mengopi di luar selepas buka puasa serta ibadah lainnya sewaktu malam.

Semua, ya, demi menghindari risiko tersebarnya COVID-19, lebih baik di rumah aja. Mungkin kita merasa diri sendiri sehat, tapi kita nggak pernah tahu orang yang kita temui sudah bertemu dengan siapa saja, melewati jalanan mana saja, dan kalau semakin dibayangkan, semakin memusingkan.

Bukan berarti di rumah aja menjadi satu-satunnya solusi yang paling baik, sebab, luar biasa melelahkannya. Capek banget! Sejak 2015, saya sendiri terbiasa bekerja dengan sistem remote, nggak ke kantor, tapi paling tidak masih punya opsi untuk bekerja di kedai kopi. Atau setidaknya, meski bekerja di rumah, ada opsi untuk membuang lelah di kedai kopi.

Jadi, di rumah aja kali ini tentu berbeda dan saya sebetulnya malas kalau ada yang bilang swakarantina biasa saja karena mereka terbiasa work from home--padahal jelas berbeda. Saya sendiri suka analogi ikan akuarium pada swakarantina kali ini. Ibarat ikan akuarium, yang renang ke depan ketemu kaca, renang ke belakang ketemu kaca lagi.  Yah, kayak gitu, muterin rumah aja tiap harinya.



Situasi yang membuat khawatir atas kewarasan lahir batin juga membuat semuanya jadi terasa tidak mudah. Jadi semacam lebih khawatir takut sakit daripada sebelumya, iya nggak sih? Saya sendiri jadi melakukan keputusan finansial tanpa kesadaran penuh. Ada kali ya beli rempah-rempah padahal belum tahu bakal waste atau enggak. Belum lagi beli lemon lokal untuk bikin sirup biar gak gampang sakit.

Oh, jangan lupa membeli vitamin di Halodoc setelah beberapa menit baca thread di Twitter yang isinya menjelaskan bahwa kandungan vitamin itu bisa membantu pengobatan mandiri bagi yang positif korona di sebuah negara. Emang sempet panic buying sih untuk soal asupan menjaga daya tahan tubuh.

Atau, saya sempat bingung juga ketika suami sempat sakit, mau periksa, tapi kan semua dokter lagi pusing? Terus mau periksa kemana? (Saya emang agak lebay kalau urusan beginin). Baik ke klinik maupun rumah sakit terdekat bikin sama-sama khawatirnya. Di situasi seperti ini, saya memang harus banyak-banyak berterima kasih pada teknologi. Udah nggak perlu bingung klinik atau rumah sakit terdekat, kalau khawatir dan ingin dapat jawaban lebih cepat, bisa ke langsung menghubungi dokter melalui chat.

Bahkan saking pusingnya dan ngerasa diri sendiri makin cranky, ada kali ya, saya hampir menghubungi psikolog di Halodoc (serius hahaha). Ini antara emang kewarasan batinnya terganggu dengan perasaan kesepian yang lebih menguat karena nggak bisa ketemu teman-teman jadi beda tipis.

Emang se-intens itu dampaknya, tapi emang ini realita yang harus diterima. Tapi setidaknya, berikut hal-hal yang membantu untuk menjaga kewarasan selama di rumah aja:


Mencari hal yang bikin lebih 'merasa hidup', dan bagi saya, hal itu adalah belajar skill-skill yang selama ini ingin diperdalam.

Selama swakarantina, sebenernya nggak terlalu banyak kelas yang diikuti, memilih yang emang dipengin aja. Ini juga demi nggak overwhelming dan malah stres. Menjaga excitement-nya juga. Tapi kelas yang paling berkesan menurut saya, ada kelas Penceritaan dari Windy Ariestanty (diselenggarakan narabahasa), sesi ngobrol dengan seorang Senior Copywriting dan festival literasi virtual dari patjarmerah

Selepas ikut sesi itu, langsung bahagia gitu. Benar-benar merasa masih ada hal yang patut disyukuri: belajar tanpa batas ruang dan waktu.

Cerita sama teman dan berbagi tanpa batas di close friends Instagram

Salah satu hal yang bikin waras adalah, untung masih punya teman cerita! Mulai dari kerjaan sampai sekadar mengeluh hal remeh-temeh lainnya. Bahkan kalau lagi stres banget, saya terpaksa harus oversharing di close friends daripada harus ngetweet marah-marah yang bisa dilihat publik dan bikin malah merasa bersalah.



Lebih peka pada rezeki-rezeki kecil

Sejak menjadi "ikan akuarium", saya jadi lebih mudah bersyukur pada hal-hal kecil. Bisa mandi, rasanya kayak abis renang di hotel mewah. Bisa belanja di minimarket dekat rumah, luar biasa senang. Dan semakin peka dengan rezeki kecil lainnya, jadi lebih berkurang rasa stresnya.

Saling bantu

Kemarin ada seorang teman yang belanja di tempat saya bekerja, duh, saya senangnya bukan main! Berasa didukung, padahal mungkin teman saya nggak berniat demikian hahaha. Ketika 'merasa dibantu', jadi semacam terlatih untuk nggak sekadar memikirkan bahwa diri sendiri yang paling susah. Saling bantu meski hanya hal-hal kecil rupanya bisa membuat menguatkan psikis.

Jadi, kamu gimana selama swakarantina? Bagikan tips untuk jaga lahir batin yang siapa tahu bisa saya coba dong! :)

4 comments

  1. Kalau swakarantina berasa diakuariumin, kamu jadi ikan apa, Meg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa ya. Ikan mas sepertinya, karena cantik.

      Delete
  2. Hahaha asli. Ada masanya gue seneng di rumah mulu karena itu berarti gue di rumah mulu. Tapi ada masanya gue sebel karena itu artinya... semua orang juga di rumah. Hahaha. \:p/

    Kalo gue sih biasanya, ya udah pasrahin aja. Kalo emang lagi nggak mood ngapa2in, nggak usah dipaksa2. Atau paling coba dibantu sama "fisik" pake olahraga2an. Walaupun besoknya ngedumel gara2 pegel2 sekujur badan. Hehehe.

    ReplyDelete
  3. Masa-masa ini bener-bener sempet bikin stres, sampe pernah gangapa-ngapain seharian. Mungkin karena juga bosan ya, rutinitas sama terus, tapi kadang ngatasinya diem sambil mikirin hal random yang selama ini ga kepikiran, dan akhirnya browsing, ternyata dapat ilmu baru yang aslinya gaseniat itu nyarinya. hihi

    ReplyDelete