Senyum Manis Gama

Anakku sudah hampir berusia tiga bulan dan aku hampir lupa bagaimana rasanya menghadapi bayi yang sedang dalam masa cluster feeding, sebuah fase bayi berkembang pesat, kelimpungan dengan kemampuan-kemampuan baru yang ia dapatkan, dan perlu nutrisi lebih untuk mengimbanginya. Akhirnya bayi akan menyusu terus-menerus dan menangis ketika tak mendapatkan air susu ibunya, cairan hidup yang bukan hanya untuk nutrisi tubuhnya, tetapi juga menenangkan dirinya. Barangkali ia jadi tahu bahwa ibunya ada di situ, tak pernah kemana-mana.

Baru saja ia terlelap manis, aku mengambil buku 'Trocoh' yang ditulis oleh Budi Warsito untuk kubaca sambil menunggu nasi matang. Lapar sekali. Terdengar tangisan dari kamar, anakku menangis lagi. Aku berjalan malas ke arah kamar, dan bertanya lembut padanya, "Terbangun karena apa, Gama?" Anakku diam, tak mengoceh apa-apa, tetap melihatiku. Ia lalu merengek lagi. "Mau minum susu, ya?" Ia tetap merengek. 

Biasanya kalau ia merengek begitu selalu kuingatkan begini: nak, kalau kamu menangis, ibu nggak tahu kamu butuh apa. Menangis seperlunya saja, kalau Gama betul-betul sedih. Kalau butuh apa-apa, bilang aja ke Ibu mau apa. Aku selalu bilang begitu karena yakin bayi sebenarnya pintar dan punya caranya sendiri untuk memahami apa saja. Aku selalu berusaha menempatkan diriku tak tahu apa-apa soal menjadi bayi karena aku lupa bagaimana rasanya menjadi bayi.

Malam itu aku tak punya energi, jadi aku tak memberitahunya ini itu, langsung kupangku anakku untuk menyusu di payudara kiriku. Aku sedang lelah menyusu sambil tiduran, bikin pinggang dan kaki lelah sekali. Kini aku memilih agar pundak dan punggungku saja yang kelelahan.

Ia tersenyum di sela-sela menyusu, aku tidak tahu apakah semua bayi begitu, tetapi itu membuatku meleleh. Meleleh karena senang, dan mendadak teringat pekerjaanku. Beberapa waktu belakangan ini aku merasa agak pusing dengan pekerjaanku, karena tak banyak hal yang bisa kukerjakan dengan benar dan bagus. Aku sebetulnya cinta dengan pekerjaannya, tetapi aku belum cukup bisa mengerjakannya dengan baik. Kadang-kadang, atau mungkin sering, aku jadi takut kehilangan pekerjaan itu. Lebih-lebih aku takut sekali dibenci dan tidak dipercaya oleh tim yang saat ini karena ketidakmampuanku. Sudah banyak orang yang kupikir tak puas dengan kinerjaku, maka tolong kali ini aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Meski seringkali aku juga merasa tak mampu menyelesaikannya atau bahkan memulainya.

Aku hanya jadi sadar, bahwa aku boleh saja mengecewakan orang dan kehilangan kepercayaan orang lain karena aku tak mampu dan tak berhasil, tetapi aku selalu punya suami dan anakku, yang selalu berusaha menerima diriku di saat paling buruk dan paling baikku.

Memori awal-awal kami mulai menjalani hidup bertiga pun terputar begitu saja di kepala. Ketika anakku lahir, menyusu untuk pertama kali ketika perutku dibedah, perawat yang mengucap selama padaku ketika setengah badanku mati rasa, suami yang memelukku ketika aku menggigil, ia juga yang memegangi payudaraku ketika aku masih tak tahu cara menyusui dan ketika terlelap sehingga masih harus menyusu ke anakku, suamiku yang sempat menyebalkan karena meremehkan soal betapa melelahkannya menyusui, dan ia juga yang akhirnya selalu siap ketika aku bangunkan untuk menggendong Gama ketika aku tak lagi mampu menyusuinya karena itu sudah kulakukan berjam-jam, izinkan aku tidur 30 menit atau satu jam, begitu yang selalu kukatakan. Meski saat tebangun aku tak pernah tahu aku sudah tidur berapa jam lamanya.

Meski cluster feeding membuat badanku pegal-pegal, tangisannya begitu kuat tiap mulutnya terlepas dari payudaraku, dan kemudian hidupku akan kulakui seperti zombie untuk beberapa fase rewelnya, bekerja dengan mengantuk, berjalan sempoyongan dengan baju basah karena asi, dan selalu keroncongan tiap baru menyusui pasti akan kurindukan. Sebab tak ada yang pernah membutuhkanku sebegitunya, maunya berada di dekatku selalu dan setia dengan senyum manisnya.

Sudah, begitu dulu, Gama sudah merengek-rengek lagi, tak tahu karena apa.

0 comments