Cerita Operasi Caesar/Sesar/SC di Primaya Hospital Tangerang


Sewaktu dokter memutuskan untuk mengambil jalan operasi sectio caesarea (sc)/sesar/caesar, ada dua ketakutanku: 1) operasi itu sendiri; 2) proses pemulihan luka yang lama, sementara aku ingin memulai proses pengasuhan bayi baru lahir berdua saja dengan suami agar lebih tenang dan minim intervensi dari pola asuh yang tidak aku sukai. Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi A-Z terkait operasi sc, pascaoperasi saat di rumah sakit, dan bagaimana pemulihan lukanya.

----

Penyebab Operasi SC

Aku tak sepakat bila lahir secara pervaginam disebut 'lahir normal', bagiku operasi sc pun lahir secara normal. Penggunaan istilah bagiku penting, sebab perbedaan istilah antara normal dan tidak akan membuat banyak Ibu merasa kecewa ketika harus operasi sc, sementara jalan tersebut diambil untuk kepentingan medis. Jadi sebut saja lahir melalui pervaginam atau operasi sc, ya!

Aku harus lahir melalui jalan operasi sc karena retinaku tipis. Ada perbedaan antara retina tipis dengan minus mata yang besar, sebab minus mata besar belum tentu retinanya tipis, begitu pula sebaliknya. Ada dokter yang tak masalah dengan retina tipis dan tetap memperbolehkan lahiran pervaginam, tetapi dokterku memilih jalur sc.

Di akhir USG, ternyata juga ditemukan tali pusar yang melilit badan bayi, ini menjadi tambahan sebab mengapa perlu operasi sc. Namun, karena aku bukan dokter, kamu bisa koreksi kembali ke dokter karena aku bisa saja salah.

Mempersiapkan Diri

Doa yang sering kudengar saat orang akan melahirkan dari orang lain adalah, "Semoga lancar dan minim trauma, ya." Sebab melahirkan dengan jalan apapun tetap saja ada rasa sakit, kalau tak memberdayakan diri dengan menyiapkan mental dan pengetahuan, sulit untuk mengontrol trauma tersebut. Bagiku, mencaritahu segala proses operasi sc akan membuatku tenang karena tahu apa yang akan kuhadapi, bukan tiba-tiba kaget karena tak tahu apa-apa soal operasinya.

Proses Operasi SC di Primaya Hospital Tangerang

 01: Penentuan tanggal kelahiran

Sebab aku sudah tahu dari awal memang akan melahirkan secara operasi sc, jadi bisa menentukan tanggal kelahiran. Beberapa orang bilang, "Kan, operasi SC, sekalian aja menentukan tanggal operasi sc yang cantik atau disamakan tanggalnya dengan tanggal lahir Ibu (karena kebetulan HPL dengan tanggal lahirku berdekatan)." Hehehe, menurutku ini yang kurang bijak dalam memanfaatkan jalur kelahiran operasi sc, kalau harus menunggu sampai tanggal kelahiranku, kasihan juga bayinya keburu keriput di perut.

Aku tetap memilih tanggal lahir, sih, tetapi karena kesiapanku saja. Tanggal 16 Juni 2021, adalah kali terakhir untuk USG sebelum menentukan kapan melahirkan bersama dr. Inneke (dokter kandungan yang selama 9 bulan kemarin kami percaya). Setelah diperiksa, ternyata ada tali pusar yang melilit badan bayi, dan dokter pun bilang, "Besok, ya, melahirkan." Aku jelas kaget, karena kekagetanku, akhirnya kami sepakat menunda 4 hari.

Setelah USG, kami diminta mengurus administrasi untuk rawat inap pada 21 Juni 2021 dan untukku perlu SWAB PCR. Beruntungnya, biaya SWAB PCR ternyata sudah dalam satu paket operasi, jadi tak perlu menambah biaya tambahan. Hanya yang melahirkan yang perlu SWAB PCR, untuk yang menjaga (dan hanya boleh satu orang saja selama pandemi COVID-19), harus SWAB ANTIGEN di hari kelahiran. Swabnya di rumah sakit yang sama, kok, agar administrasinya lebih mudah.

02: Hari Melahirkan - Menuju Ruang Operasi SC

Pukul 10 pagi kami sudah di Primaya Hospital Tangerang. Berikut yang perlu dilakukan:

Pertama, ke lobby untuk konfirmasi rawat inap.

Kedua, yang menjaga selama ibu melahirkan harus Swab Antigen dahulu.

Ketiga, ke Poliklinik 2 (lokasi biasa kontrol kehamilan atau kesehatan anak) untuk pemberian consent (dan tanda tangan) untuk penanganan operasi dan bius, serta ditanya riwayat kesehatan keluarga besar. Sebab di keluarga ada yang punya jantung, aku dites kesehatan jantung, cepat kok, hanya butuh waktu sekitar 5 menit.

Keempat, ke ruang inap, kami dapat yang kelas 2 dari asuransi kantor suami. Kamar kelas 2 berisi tiga tempat tidur pasien dan satu kursi untuk yang  menjaga. Akan ada tirai pemisah antara satu tempat tidur pasien dengan yang lain. Sebab tak ada tempat tidur atau sofa menunggu, ya para penjaga yang ada di ruangan tersebut pada tidur di lantai dengan alas karpet atau sleeping bag. Begini nasib kelas ekonomi menengah hahahah, tapi aku menikmatinya, semoga suamiku juga. 

Kelima, rentetan sebelum operasi sc: berganti baju kimono dari RS, diinfus, dan detak jantung bayi dan frekuensi gerakannya akan direkam.

Keenam, pukul 16:00 tiba, waktunya operasi sc. Sayangnya di Primaya Hospital Tangerang tak mengizinkan suamiku, yang menjagaku selama melahirkan, menunggu di ruangan operasi sc. Kasurku dibawa ke ruangan operasi sc, di situ lah hatiku begitu berdebar! Yaampun, setelah ini aku dioperasi dan bertemu bayi, siapkah dan sanggupkah aku?

03: Hari Melahirkan - Operasi SC

Sebelum melakukan operasi, aku meminta doa agar aku dan badanku dikuatkan serta mencoba mengartikan kembali rasa sakit yang akan dialami agar lebih tenang melalui setiap tahapannya.

Aku memilih tak mau meromantisasi rasa sakit yang kualami sebagai "perjuangan seorang Ibu", bukan karena mengecilkan peran Ibu, tapi aku justru takut pola pikir tersebut malah membuat rasa sakit yang kurasakan menjadi-jadi demi ingin membuktikan perjuangan tersebut.

Pola pikir itu kuubah begini sore itu: kalau rasa sakit, aku punya rentetan peristiwa menyakitkan yang harus kuterima padahal aku tak memilihnya, sementara sakit karena melahirkan bayi, aku dengan sadar memilihnya dan mungkin itu sakit tetapi tak masalah karena ada banyak hal yang lebih menyakitkan lainnya. Aku mencoba berpikir bahwa rasa sakit ini tak masalah dan hanya sementara. Untuk bisa lebih tenang, aku selalu mengatur nafas setiap proses operasi berlangsung. 

BIUS ANESTESI

Tahapan operasi pertama adalah dibius anestesi, dibiusnya di punggung. Saat disuntikkan, sebenarnya tidak sakit, tapi ada efek kesetrum sedikit. Jadi aku sempat teriak karena kaget, bukan karena sakit.

Setelah dibius, badan kita akan mati rasa dari perut ke bawah. Sementara bagian perut ke atas tetap bisa merasakan, meski tak banyak. Kita juga tak diberi obat tidur ya, jadi masih sadar.

OPERASI SC

Setelah dibius, aku dibaringkan dan proses operasi sc dimulai. Aku tak bisa melihat proses bayiku keluar karena diberi kain hijau, aku tak terlalu bisa merasakan apa yang terjadi pada perutku. Tetapi aku mendengar saat dokter bilang, "Tali pusarnya kuat banget ngiket-nya." Aku tetap tenang.

Tak lama, suara tangisan dan teriakan bayi memenuhi ruangan. Aku merinding. Ia tak langsung dibaringkan di perutku, ia harus dibersihkan dan dibedong lalu mulutnya disentuhkan ke putingku untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Memang sebentar sekali, tetapi aku berusaha tenang saja, Saat akhirnya bertemu bayi untuk pertama kalinya, aku lebih pada tak percaya bahwa ia benar-benar ada dan dari perutku, benar-benar sebuah keajaiban.

Ada satu yang berkesan sekali saat melahirkan, entah ia adalah seorang dokter, asisten dokter, atau perawat yang menanganiku sangat membantu prosesku dalam operasi. Ia perempuan, dan selalu mengusap pundakku untuk menenangkanku. Saat bayi sudah lahir, ia pun bilang, "Selamat, ya." Hal seperti itu beri energi untukku agar bisa kuat dan tenang.

04: Hari Melahirkan - Pascaoperasi SC

Menggigil

Operasi sc selesai, aku tak langsung bisa bertemu suamiku. Aku masih harus menunggu beberapa menit dan di situ lah aku mulai menggigil! Aku bingung, apakah ada yang salah dari operasinya? Ternyata penyebabnya hanya karena ruangan operasi memang begitu dingin! Jadi ketika aku keluar dari ruangan operasi, sangat wajar menggigil. Butuh sekitar dua jam untuk meredakan rasa menggigil itu.

Memberi kabar keluarga

Sekembalinya ke ruangan rawat inap, aku merasa tenang karena kembali bersama suami meski tetap sambil menggigil. Ini sebab aku lebih memilih melahirkan di sisi suamiku daripada pulang kampung dan jauh dari suami, aku lebih merasa tenang saat di sisinya.

Kesalahanku setelah itu adalah, aku buru-buru video call Ayah dan Ibu atau mertua setelah operasi. Kalau aku boleh mengulang momen itu lagi, mungkin aku akan menunda video call atau telepon siapa saja sampai aku benar-benar di rumah.

Alih-alih merasa penuh syukur dan bahagia, justru karena video call itu, aku tertekan dan tak stabil saat di rumah sakit hingga menangis resah karena memikirkan banyak hal yang dipertanyakan oleh mereka. Salah satu pertanyaannya adalah, asinya apa sudah keluar, aku baru saja operasi yang bisa saja hal gawat terjadi, bukannya diucapkan syukur dan selamat, malah langsung mengkhawatirkan ASI. Padahal ASI pada umumnya memang keluar di hari ketiga dan keempat, ini nanti akan kujelaskan di tulisan khusus soal menyusui, ya.

Atau tiba-tiba disuruh membersihkan puting dengan alkohol, kepalaku pusing sekali mendengarnya. Membersihkan puting itu tak perlu pakai alkohol sebenarnya, perlu bahan-bahan yang mild atau ringan, cukup dengan minyak kelapa dan kapas, puting bisa bersih, lalu jangan lupa bilas dengan air. Aku membersihkan putingku cukup rutin saat hamil.

Sebenarnya pertanyaan itu cukup dijawab iya-iya saja, tetapi namanya orang sedang tak stabil, baru selesai operasi, lalu kepalanya dipenuhi A-Z alih-alih diberi doa dan dukungan agar bisa melalui masa selanjutnya, siapa yang tak pusing? Ini membuatku super khawatir dengan ASIku yang tak kunjung keluar sampai menangis-nangis padahal aku sudah tahu bahwa ASI akan keluar di hari ketiga atau keempat. Intinya, pikirkan dan pulihkan diri sendiri dahulu, kamu dan bayimu yang paling penting!

Seruangan bersama bayi

Syukurlah di Primaya Hospital Tangerang menggabungkan ruangan bayi dengan Ibunya setelah enam jam pemeriksaan. Setelah digabung, perawat langsung bilang agar segera menyusui si bayi.

Menyusui

Menyusui memang bukan perkara menaruh puting dan langsung jago dengan mengandalkan insting Ibu saja, perlu dukungan moral dan bantuan tenaga kesehatan agar Ibu baru bisa menyusui dengan baik. Untungnya, perawat-perawat Primaya Hospital Tangerang mengajarkan pelekatan menyusui. Jadi bukan rumah sakit yang cuma bilang, "Anaknya disusui, ya." Tapi tak ada yang mengajari sama sekali. 

Aku cukup bersyukur dengan itu, meskipun sepulangnya dari RS, ternyata beberapa pelekatan yang kupelajari di RS ada banyak yang kurang tepat. Coba aku bisa ajak konselor laktasiku ke RS, mungkin aku akan lebih nyaman di hari-hari awal mengasuh. Yah, tapi, kan, korona ~ Tak ada yang bisa membesuk selain yang menjaga.

Pada hari itu, asiku belum keluar, aku masih bisa tenang dan tetap menyusui bayiku dengan berbaring karena belum boleh duduk di hari pertama. ASI sifatnya supply and demand, harus ada yang kasih kode 'demand' atau kirim kode bahwa perlu produksi susu, yang bisa mengirim kodenya adalah si bayi. Untuk itu lah mengapa penting tetap menyusui meski kita tak benar-benar tahu apakah asi sudah keluar atau belum.

ASIku akhirnya keluar di hari ketiga pada malam hari sekali, tetapi ini akan kuceritakan di tulisan selanjutnya khusus menyusui, ya!

Pemulihan Luka

Luka dari operasi sc memang ngilu, apalagi kalau kita tak rajin bergerak. Jadi selama seminggu pertama, tahan rasa lukanya, pikirkan bahwa semua ini sementara dan demi bisa beraktivitas seperti semula memang harus rajin bergerak, ya!

Hari pertama setelah operasi, kita diminta untuk rajin memiringkan badan ke kanan dan ke kiri begitu kaki sudah bisa digerakkan pasca diberi obat bius. Tak boleh mengangkat kepala pada hari pertama. Jadi posisi menyusui di hari pertama sambil rebahan, ya.

Hari kedua, kita boleh duduk. Sebab belum boleh jalan, di hari ini perawat akan memandikan dengan menyeka badan kita. Hore, sudah boleh menyusui dengan posisi duduk, deh!

Hari ketiga, boleh berjalan! Di hari ini juga sudah diizinkan untuk mandi dan keramas. Perbannya tahan air, jadi aku tak perlu khawatir. Rasanya lega sekali bisa mandi sendiri!

Di minggu pertama rasa sakitnya memang terasa ngilu. Jalan belum bisa tegak sempurna. Kalau mau berdiri dari duduk harus pelan-pelan agar tak sakit. Kalau mau duduk dari rebahan juga masih berat. Tadinya aku sok kuat aja gitu, ujung-ujungnya nangis juga hahahah, sok kuat juga melelahkan!

Nangis bukan karena kesakitan, kok. Sakitnya masih bisa ditahan. Cuma capek aja masa mau duduk sulit banget hahahaha.

Di minggu ini aku rajin makan telur rebus, boleh 6 telur/hari (putihnya saja, kuningnya maksimal 2 telur perhari). Proteinnya baik untuk menyembuhkan luka. Ikan Gabus juga baik untuk mempercepat penyembuhan luka. Tadinya aku beli pil ikan gabus, tetapi dokterku kayaknya enggak suka ada jamu-jamu begitu yang ikut campur hahahah, jadi aku hargai saja dengan tidak meminumnya lagi. Cuma dibantu telur rebus saja dan obat sesuai resep dokter.

Minggu kedua, aku pergi ke RS untuk dicek luka bekas operasinya sudah kering sempurna atau belum. Rupanya bagian dalamnya belum kering sempurna, jadi diperban lagi dan dicek minggu selanjutnya.

Pada minggu ini, jalan sudah enteng banget, untuk duduk dari rebahan bisa tanpa meringis kesakitan, dan diajak duduk di lantai pun bisa. Ketika luka sudah lebih pulih dari sebelumnya, emang ngebantu proses merawat bayi baru lahir jadi lebih nyaman, soalnya kalau sambil nahan sakit jadi terasa lebih capek.

Biaya Operasi SC Kelas 2 Primaya Hospital Tangerang

Aku tak tahu angka pasti, ya, karena kami dibiayai asuransi kantor suami, Mandiri Inhealth. Suamiku hanya melihat kwitansinya sebentar saja. Di akhir, biaya yang perlu kami bayar untuk operasi sc sekitar 19jt dan biaya untuk perawatan bayinya sekitar 2jt, tetapi yang perlu kami bayar hanya 90rb saja berkat asuransi.

Secara keseluruhan, aku merasa senang melahirkan di Primaya Hospital Tangerang. Hanya ada satu catatan yang menurutku kurang, meski rumah sakit ini tak memberikan susu formula pada bayi baru lahir dan mendukung para ibu untuk menyusui ASI dengan edukasi menyusui, rupanya rumah sakit ini masih bekerja sama dengan susu formula untuk pemberian susu formula sebagai souvenir. Dalam souvenir itu ada susu Enfa**l dan sebetulnya secara etika pemasaran ini tak boleh dilakukan. Menyusui dengan ASI harus benar-benar didukung oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Pemberian susu formula sebaiknya sesuai dengan resep dokter.

Kalau boleh kasih bintang, sebenarnya aku bisa beri 4 bintang dari 5 bintang untuk pelayanan melahirkan di sini. Tetapi karena ada souvenir susu formulanya, aku beri 3.5 bintang, deh! Bakal bisa 5 bintang kalau perawatnya benar-benar bisa ajari menyusui yang nyaman dan minim rasa sakit, karena aku masih merasa edukasi yang diberikan selama aku di RS masih terlalu sedikit. Sementara sekarang RS mulai bersaing untuk jadi RS atau faskes yang "PRO ASI" banget.

----

Cukup panjang, ya, aku menceritakan rentetan operasi sc. Semoga bisa membantu kalian yang sedang mempersiapkan proses kelahiran buah hati, ya! Bila ada yang dibingungkan silakan bertanya di kolom komentar atau melalui Instagramku @sophiamega. Semoga proses melahirkanmu bisa lancar, minim trauma, dan penuh keberkahan! :)

Share:

0 comments