SibukBaca, Review Buku Building WOW Indonesia Tourism & Creative Industry

By Sophia Mega - April 09, 2017


Bertahan di toko buku selama satu jam dua jam, mengamati satu rak ke rak yang lain bukan tanpa alasan. Memang jadinya lebih asik sendiri atau mengajak temen yang emang punya kesukaan sama, biasanya sih ada teman saya Ira (lostintowns.com) atau Sarah yang setia diajakin ke toko buku baik dia sedang di Malang atau saya ke Jakarta.

Eh, jadi inget, ada temen cowok saya namanya Charies, dulu banget dia pernah menemani saya ke toko buku sebagai rayuan agar saya mendengar curhatannya. Saking sabarnya dia, ketika udah selesai, dia tanya, “Udah beneran, Meg? Yakin? Gak papa lho kamu muter lagi.” Dan akhirnya saya muter lagi yang ujung-ujungnya hanya membeli satu buku dari Rhenald Kasali yang Self Driving.

Bukan sekadar gabut dan emang suka, tapi ada gunanya juga kok. Kemarin, ketika baru aja menerima brief lomba dari Pekan Komunikasi UI 2017, ternyata topiknya tentang pariwisata. Seketika inget banget sama satu buku bercover putih, punya Markplus yang tentu saja selalu ada unsur ‘WOW’-nya. Suka banget sama covernya, tiap lihat bukunya sih penginnya bawa pulang, tapi nggak saya beli karena belum merasa butuh tentang topiknya.



Berkat kebiasaan yang mungkin kebanyakan orang menganggap hal tersebut membosankan, besoknya saya udah nggak bingung lagi cari buku untuk referensi ikut lomba. Langsung ke Gramedia Malang Town Square dan membeli buku ‘Building WOW Indonesia Tourism and Creative Industry’ (IDR 93.000) dengan sisa-sisa uang di ATM pada Februari lalu.

Lama banget nih nggak nulis review buku, biasanya sih video aja. Pembahasan yang banyak dan seru kayaknya kalau di video bakal nggak detail. Jadi lebih baik saya tulis juga di sini dan biar gampang baca dan pemahamannya, per-poin aja ya?

Bahasa
Butuh satu bulan lebih untuk menghabiskan buku 221 halaman yang ditulis oleh Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014 ini. Bahasanya memang baku tapi tetep asik kok, mengalir dan nggak kayak buku kuliah. Tapi ada satu bab yang emang bener-bener saya lewati karena isinya hanya data statistik yang nggak terlalu saya butuhkan.

Data statistik rata-rata data tahun 2013.     
Di setiap bab sebenernya banyak data statistik penting dan membuat kita mudah dalam pemahaman dan penggambaran, tapi karena ini buku cetakan 2014, jadi data-datanya kebanyakan data tahun 2013. Tetep bisa jadi patokan, misalnya di buku tersebut menjelaskan tentang peringkat Indonesia dari 144 Negara berdasarkan potensi wisatanya, karena masih data 2013, kalian bisa browsing untuk data terbaru dengan keyword yang ada di buku tersebut.

Ada juga data-data yang udah kadaluarsa, seperti destinasi prioritas kementrian 2013 tentu berbeda dengan yang sekarang. Di buku ini, Parekraf memiliki delapan lokasi yang menjadi target prioritas investasi di Indonesia, yaitu Sabang (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Bintan (Kepulauan Riau), Belitung (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Bugam Raya (Kalimantan Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), serta Wakatobi Sulawesi Tenggara.

Sedangkan era Jokowi, Kementrian Pariwisatanya (Arief Yahya) mempunyai 10 destinasi prioritas atau lebih dikenal dengan istilah 10 Bali Baru, yakni ada Candi Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Mandalika, Labuan Bajo, Danau Toba, Kepulauan 1000 dan Morotai. Untungnya sih saya baca buku ini sambil ngerjain kasus terbaru, jadi bisa fit & match data lama dan baru.



Komplit dan terstruktur.
Di awal kita diajak paham dulu dengan potensi pariwisata, apa domino effect-nya pada perekonomian Negara dan bagaimana gambaran Negara yang udah memberikan perhatian penuh dengan potensi wisata. Lanjut ke sejarah, potensi wisata Indonesia, tantangan yang dihadapi, strategi yang bisa digunakan sampai contoh kongkritnya. 

Serunya sih, di sini juga dibahas tentang pro dan kontra mengangkat ‘wisata budaya’.

Kontranya adalah:
Ada anggapan bahwa pariwisata sejara langsung “memaksa” ekspresi kebudayaan lokal untuk dimodifikasi, agar sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Ekspresi budaya dikomodifikasi agar dapat “dijual” kepada wisatawan. (hal. 90)
Sedangkan pronya:
Dengan mengembangkan wisatabudaya, kita telah mematenkan harta kekayaan yang dimiliki negeri ini, sehingga tidak diklaim begitu saja oleh Negara lain. (hal. 90)
Kalau nggak dilestarikan dan nggak ada yang tau budaya tersebut (karena nggak dikembangkan), ya jangan protes kalau diklaim. Tapi dalam pengembangannya, nggak lantas ‘wisata budaya’ sekadar jadi ‘komoditas’. Tapi ada tiga elemen penting untuk pelestarian budaya, yakni perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.

Di sini saya jadi paham juga, dari pada rewel ke pemerintahan untuk segera potensi wisata atau budayanya diresmikan skala internasional karena prosesnya juga nggak sebentar. Ada kok cara yang bisa kita lakukan sejak sekarang untuk ‘mengklaim’ setiap budaya yang kita miliki, yakni dengan terlibat dalam kebudayaan tersebut baik sebagai wisatawan atau menjadi inisiator pelestarian. Memperkaya foto-foto kebudayaan di Instagram juga jadi langkah awal yang impact-nya nggak hanya sekadar like dan followers saja. Teman kita akan tau tentang kebudayaan-kebudayaan yang kita share asal rajin berbagi di situ. 


Asik banget lah buku ini, cocok buat temen-temen yang memang perlu referensi dalam marketing pariwisata, pengin tau soal tourism advocate atau bagaimana pemerintah bekerja. Tapi ada satu inti dalam pengembangan potensi wisata dalam sebuah daerah, kalau kata dosen saya Bu Arum: cari benang merahnya, sedangkan kalau di buku ini memilih dengan istilah: helicopter view. 

Indonesia beragam banget kebudayaan dan potensi wisatanya. Nilai plus (banget) buat kita, tapi karakternya jadi buram. Nggak ada karakter yang bener-bener stick on people head tentang Indonesia. Contoh deh salah satu wilayahnya, tempat yang sedang saya tempati sekarang: Malang.

Dear Abah Anton, nggak ada karakter yang bener-bener mau diangkat dari pemerintah. Mulai dari ‘Beautiful Malang’, ‘Malang Kota Bermartabat’, atau ‘Malang Kota Pendidikan’, wes sak karep panjenengan nggae istilah lah Pak.

Wisata Malang ini mau dibawa kemana masih buram, meskipun kemarin ada peresmian Malang Sejuta Kopi, oke sih, tapi bikin orang bingung juga. Kemarin saya dapet brief dari Bu Arum, dosen saya, tugasnya adalah bikin program gimana caranya menguatkan city branding 'Beautiful Malang'.

Berdasarkan yang saya pahami nih, selama ini yang telah dilakukan Pemkot Malang tuh, membuat Malang 'beautiful' dengan melakukan hal-hal yang mempertahankan julukan-julukan yang selama ini diberikan ke Malang sejak zaman Belanda. Misal Malang Flower Carnival untuk mempertahankan julukan Malang Kota Bunga atau pembuatan taman-taman cantik untuk mempertahankan julukan Paris Van Oost Java.. Semua julukan dipertahankan tapi nggak rajin mengkaitkan ke Beautiful Malang ya bingung juga dong masyarakatnya, ini memang tugas humas pemerintahan sih. Semangat ya Bapak Ibu hihihi, boleh lah kolaborasi sama yang muda-muda.

Nah, di sini kegunaan cari benang merah-nya, cari satu keterkaitan yang bisa mudah mendeskripsikan Kota Malang. Gunanya, biar orang-orang lebih mudah paham dan inget, jadi mau melakukan perjalanan ke Malang, dan nggak bingung lagi kalau mau ke Malang. Lagian ya, orang Malang sendiri kalau ditanya, “Enaknya kalau ke Malang ngapain ya?” Nggak semuanya bisa tau, pun dengan saya sendiri hehehe.

Nggak hanya tugas besar pemerintah kok, saya sendiri juga perlu berkontribusi dengan cara yang kecil dan sederhana dulu, misalnya terus sounding Malang Sejuta Kopi yang baru diresmikan 1 April 2017 lalu. Kalau kalian, gimana nih? Potensi wisata kalian udah dikembangkan belum sama pemerintah setempat? Share di kolom komentar di bawah ya!

Anyway, kalau ada yang kurang paham soal pembahasan saya di atas, dibahas di kolom komentar ya! Atau langsung lah beli bukunya biar makin paham. Untuk video reviewnya, you can watch on this:





  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. bukunya bagus ni sepertinya. ada jual di gramedia tidak ya

    ReplyDelete
  2. kak videonya ngedit pake adobe premier ya ?
    kalo boleh tau itu download dimana atau beli dimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Adobe premiere cc2015. Boleh cari di gugel yah. Gampang kalo CC cari yg gratisan heheh. (Kecuali laptop kamu mac sih).

      Delete
  3. Penasaran sama "tempelan2" di buku itu.. :) tulisannya apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma inti dari tulisan yg penting aja kok :D

      Delete
  4. Asyik baca review buku di blogmu. Foto bukunya keren2

    ReplyDelete