Trisemester 2: Gerakan Bayi, Kelamin Bayi, Panik Ngeflek, Perubahan Fisik dan Persiapan Kelahiran

Memasuki trisemester kedua, yaitu kehamilan masuk pada usia 13-28 minggu (3-7 bulan) yang paling aku sadari mulai berasa adalah gerakan bayi, perubahan fisik dan sempat panik karena pernah ngeflek. Di usia ini aku mulai menyimak aja apa saja yang perlu disiapkan juga untuk kelahiran.

Gerakan Bayi

Gerakan bayi sudah mulai kurasakan sejak usia kehamilan 19 minggu, rasanya sebenarnya sulit dideskripsikan. Kayak ada kupu-kupu dalam perut gitu. Kadang bikin mikir, ini tuh perut laper atau gerakan bayi sih? Ternyata itu gerakan bayi.

Memasuki minggu ke-26, gerakan itu makin terasa dan makin bisa membuat getaran dalam perut. Kadang ngilu juga kalau dia menendang atau meninju terlalu keras. Itu rasa dari fisik ya, kalau secara emosional, berasa enggak pernah sendirian lagi. Kemana-mana ditemenin makluk kecil.

Kelamin Bayi

Kelamin bayi bisa dilihat sejak usia 18 minggu, aku enggak pernah kepikiran pengin gender tertentu sih selama hamil. Lebih mikirin, kalau cewek tanggung jawabnya gimana, kalau cowok harus mendidik seperti apa. Jadi waktu hari USG tiba, ya enggak mengharapkan apa-apa.

Sewaktu di USG, tadinya makhluk kecil ini tidur, jadi sulit dilihat dia cowok dan cewek. Sampai.. di membuka kakinya lebar-lebar dan seakan ingin menunjukkan ke kami (seakan ya, aku juga gak tahu dia ngapain tiba-tiba melakukan itu). Kelamin sudah diketahui tetapi saat ini aku enggak pengin memberi pengumuman atau gimana-gimana sih, cukup teman terdekat dan keluarga saja yang tahu. Tidak perlu diumumkan, untuk apa juga? Aku tidak melihat mengetahui kelamin bayi sebagai sesuatu yang perlu dirayakan, tetapi bagi yang suka merayakannya, aku juga tak masalah.

USG ini momen favorit sih, karena makhluk kecil ini kadang ada aja tingkahnya. USG yang selanjutnya misalnya, bisa-bisanya dong dia menguap saat di USG, lucu banget!

Panik Ngeflek

Hari itu suami harus ke Bali karena adiknya menikah, dan sedihnya hari itu pula tiba-tiba saya ngeflek berwarna coklat. Asli langsung panik dan pengin nangis, enggak tahu juga harus ngapain, apalagi suaminya nggak ada di rumah. Jadi yang kulakukan dua hari selama suami enggak ada di rumah adalah bener-bener rebahan aja. Langsung minum jus buah bit entah juga biar apa hahahah.

Untungnya ngeflek cuma sekali ya, dan kami enggak langsung ke dokter setibanya suami dari luar kota. Yaudah sekalian nunggu jadwal kontrol selanjutnya karena ngefleknya hanya sekali. Kata dokter, kalau ngeflek, itu udah kartu kuning. Berarti kecapean dan harus bener-bener istirahat.

Seingatku, sebelumnya emang sempat sih jalan jauh naik KRL, dari Tangerang ke Jakarta Selatan. Emang capek tapi enggak ada ngeflek. Tetapi, sehari sebelumnya, aku sempat cuci-cuci wadah sambil jongkok, dan selama hamil gak boleh jongkok ya. Ini salah satu penyebab ngeflek juga kata dokter.

Ya gitu deh, karena selalu menganggap hamil bukan sakit, kadang suka kelepasan lupanya, huft!

Catatan lain:

  • posisi plasentaku sewaktu bulan ke-6 agak diatas, jadi dokter menyarankan banyak istirahat agar posisinya bisa sesuai, enggak ada obatnya sih ini, katanya akan turun perlahan kalau kita istirahat
  • harus banyak minum, 2 liter perhari biar air ketubannya enggak kekurangan
  • sebenarnya puasa untuk ibu hamil tuh boleh-boleh aja kok, enggak ngaruh kata beberapa jurnal, tetapi karena kondisiku pernah ngeflek dan air ketubanku masih kurang jadi aku harus banyakin air, sepertinya bulan ramadan ini agak mikir-mikir untuk berpuasa

Perubahan Fisik

Kata teman, baby bumps itu akan mulai muncul pada kehamilan bulan ke-6. Tetapi sampai bulan ke-7, kadang saya lebih kelihatan sebagai mbak-mbak obesitas yang buncit daripada hamil. Berat badan alhamdulillah aman, pada bulan ke-6, bayinya udah 500 gram. Pada bulan ke-7, bayinya udah 1kg, berasa bawa sekarung beras deh kalau jalan.

Persoalan besar tidaknya perut mungkin lumayan sensitif ya bagi sebagian orang. Sewaktu aku hamil berusia 4 bulan, pernah juga tiba-tiba tetangga bilang, "Perutnya kok gak kelihatan?" Aku mendengarnya enggak sebel sih, justru menahan tawa, konyol aja bagiku, mudah banget ya mengeluarkan kata-kata sok tahu daripada tanya dulu: hamilnya udah berapa bulan?

Bagi yang enggak tahan omongan tetangga dan sanak saudara, terima saja memang di dunia ini ada orang yang hatinya enggak dilatih untuk lebih sensitif dan mampu berempati pada orang. Fokus saja pada kebenaran mutlak dari dokter.

Toh kalau hamil sebenarnya juga gak boleh gendut-gendut banget ya. Coba follow @drtanshotyen di Instagram deh, beliau sangat vokal mematahkan teori-teori gizi untuk bayi, ibu hamil, dll. Salah satu yang dibantah adalah: hamil itu berarti makan untuk dua orang. Padahal obesitas pada ibu hamil juga malah mempersulit kelahiran.

Perubahan fisik 01

Perubahan fisik yang makin berasa adalah perut makin membesar dan bikin pinggang jadi sakit banget kalau duduk terlalu lama. Ini emang harus olahraga sih obatnya. Jadi sudah kusiapkan gym ball untuk olahraga biar persalinan lancar juga dan biar badan gak sakit semua. Untuk sementara, karena gym ball belum datang ke rumah, aku pakai seatbalt pregnancy yang murah aja sih untuk digunakan ketika butuh fokus kerja di depan laptop. Membantu banget agar postur tubuh saat bekerja lebih proporsional dan gak gampang sakit.

Stretchmark belum muncul di perut, tetapi di daerah pinggang dan paha mulai terlihat guratan-guratan putih tapi enggak timbul. Aku enggak tahu ya stretchmark itu biasa munculnya pada bulan berapa. Tetapi sejak awal kehamilan, aku cukup rutin menggunakan bio oil di area perut.

Perubahan fisik 02

Karena makin gembul ya, jadi kaki dan telapak kaki tuh nyeri aja kadang-kadang. Kalau udah begini ya minta tolong suami untuk dipijat agar meringankan. Berhubung masih pandemi, bisa dipijat oleh yang ahli masih jadi harapan yang sulit digapai.

Perubahan fisik 03

Bagian payudara juga makin berasa berubah ya, nyerinya sih beda sama awal kehamilan, tetapi puting jadi lebih sensitif. Mulai harus beli bra yang sesuai ukurannya atau karena di rumah aja, ya mending enggak pakai sekalian aja. 

Perubahan fisik 04

Kasus hamil menjadi glowing enggak terjadi sampai kehamilanku berusia 7 bulan. Jadi di usia kehamilan 5 bulan, aku breakout parah! Sekarang lagi mengobati bekas-bekasnya. Skincare yang kugunakan selama hamil adalah:

  • Facial wash: Safi
  • Toner: Bloomka yang Calendulla
  • Serum: The Ordinary - Niacinamide
  • Pelembab wajah untuk bayi
  • Sunscreen: Wardah
  • Face Oil: Bakuchiol (tetapi tidak digunakan saat menggunakan niacinamide juga)
  • Masker wajah: Teddy Clubs

Persiapan Kelahiran

Di trisemester kedua, aku lebih banyak menyimak pasif untuk persiapan kelahiran, perawatan postpantrum, menyusui dan lain-lain. Akun-akun Instagram yang banyak membantuku adalah: @bidankita, @nujuhbulanstudio, @temanbumil, @housniati, @firstlatch, @homecarebidan, @rahneputri (karena Kak Rahne juga lagi merawat newborn) dan @drstanshotyen.

Baru aja mulai ngelist lagi soal kebutuhan apa yang harus dipenuhi dan mulai mencatat hasil menyimak pasif tadi untuk benar-benar dipelajari. Nanti aku akan menulis perjalanan trisemester ketiga untuk detailnya ya!

Cerita trisemester pertama bisa dibaca dengan klik di sini.

Catatan Lainnya

Selama hamil aku sesekali mendongengi anakku dengan buku cerita, karena dia sudah mulai mendengar. Dan juga menggunakan Baby Plus, tetapi bagaimana efeknya ya baru bisa diceritakan setelah anaknya lahir ya.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Doakan proses kehamilan, persalinan dan merawat anaknya bisa lancar dan diberi kekuatan ya :)  

0 comments