Konseling 01: Apakah Konselor itu Peramal?

Pertama kali aku berpikir butuh pertolongan profesional untuk mengetahui apa yang terjadi pada pikiran dan hatiku adalah ketika akhir tahun 2020. Ketika ucapan-ucapan eks-bosku menghantuiku, datang begitu saja lalu membuat hati terasa sesak dan menangis tiba-tiba, sudah begitu menangisnya dramatis sekali. Ucapannya pendek tetapi cukup membuatku sakit hati ampun-ampunan, seperti, ternyata kerjaan lo nggak segitu oknya atau kamu masih niat bekerja di sini enggak, sih? 


Saat itu aku lelah kalau harus tiba-tiba merasakan sakit sebegitunya. Aku mau menyelesaikan ini, aku tidak mau merasakan marah lagi, aku lelah! Lagi pula, aku sudah membaca buku self-help ini itu tetapi tak kunjung tertolong. Mencoba menceritakan perkara ini ke teman, duh, sudah mereka tak bisa memahami permasalahannya, seringkali responnya justru membuat dada yang sesak ini seperti semakin dihimpit ruangan yang sempit. Barangkali orang profesional lah yang memang bisa menolongku.

Pertemuan dengan psikiater pada Desember 2020 lalu cukup membuatku puas, meski terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Namun aku tak pernah lagi datang ke psikiater itu bukan karena tidak cocok, tetapi karena mahal dan antre begitu lama. Belum sembuh sudah miskin duluan. 

Mana urusan begini tak seperti berobat layaknya sakit batuk atau pilek, yang cukup istirahat beberapa kali, minum obat, dan tak perlu biaya mahal. Ada, sih, opsi asuransi, tapi aku begitu malas mencari rekomendasi psikolog atau psikiater yang bisa menggunakan asuransi yang dapat aku akses.

Akhirnya aku konseling lagi dengan rekomendasi konselor yang berbeda, ia bukan psikolog atau psikiater, tetapi konselor yang fokusnya ke permasalahan keluarga, pernikahan, dan semacamnya. Kupikir akan sesuai dengan perkara-perkara yang kupunya, cocok juga dengan kantongku. Kalau sebelumnya kisaran Rp350.000 untuk satu kali sesi yang memakan waktu satu jam, kini cukup Rp150.000 untuk satu kali sesi dengan waktu 50 menit. Tetap mahal, tetapi bisa kubayar dengan bekerja menjadi buruh konten.

——

Meski pernah ke psikiater sebelumnya, ketika akan menghadapi konselor ini, aku juga kebingungan karena harus bercerita seperti apa. Aku punya satu catatan khusus untuk mencatat permasalahanku, kupikir ini akan memudahkanku tahu harus bicara apa ke konselor. Di situ tertulis:

Menuju Terapi
hal-hal yang mengganggu hidup

Cemas:
    1. Setiap abis ngomong, selalu bertanya: salah gak ya aku ngomong gitu? Duuuh ngapain sih Meg? Kadang omongan-omongan yang aku sampaikan zaman dahulu pun teringat begitu saja.
    2. Kalau ada saran dari orang di media sosial untuk melakukan hal yang seharusnya tak aku lakukan, aku langsung panik menghapus. Padahal aku tahu yang aku lakukan benar, tetapi aku bingung sendiri juga dengan diriku sendiri, apa batasan menyuarakan hal benar dan menjaga hati orang lain.
Dendam:
Aku mau orang lain yang menyakitiku tahu dan mengalami rasa sakit yang aku alami.

Menyalahkan diri sendiri:
Ketika ada perdebatan, aku selalu menyalahkan diri sendiri, padahal dia enggak bilang begitu, tapi aku sendiri yang akhirnya berpikir, ya ya ya semua itu salahku, lalu memukul-mukul kepala.

Meskipun sudah aku tulis begitu, ternyata tetap sulit ketika menceritakannya, tidak tahu mengapa. Aku bercerita acak dan agak terbata-bata, seperti mau menyudahinya dan ingin berharap dia tahu begitu saja seperti peramal. Konselor itu lalu bertanya apa harapanku mengikuti konseling ini, aku menjawab, ingin tidak cemas lagi, tidak menyimpan marah karena aku tahu sia-sia menyimpan marah pada mereka, dan berhenti menyalahkan diri sendiri lalu menjadi percaya diri.

Mega ingin memiliki kontrol diri, ya?

Tepat sekali! Aku menginginkan itu! 

Ia lalu bertanya, apakah aku ingin membahas yang sekarang-sekarang saja, atau ke masa lampau? Aku menjawab boleh ke masa-masa lampau, karena kupikir di sana lah letak masalahnya. Aku juga tadi baru bercerita kalau aku sudah memukul-mukul kepalaku sejak aku kecil, kira-kira ketika usia 9 atau 10 tahun, ketika baru saja diomeli ibuku entah karena perkara apa.

Hanya saja memorinya tergambar jelas, aku yang masih kecil itu duduk bersandar di tembok, memukul-mukul kepalaku sambil menangis, dan sesekali membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Aku juga cerita, ketika kecil ada satu pikiran yang masih begitu menempel hingga saat ini: mengapa sebelum Ayah Ibu memarahiku, ia tak pernah bertanya ‘kenapa’ padaku?

Pokoknya ceritanya begitu acakadut, sampai aku bingung, sebetulnya aku cerita apa saja, sih. Tapi konselornya begitu pandai menyimpulkan isi kepalaku! Sungguh-sungguh seperti peramal!

Misalnya saja ketika ia memintaku mendeskripsikan ibuku dengan lima kata. Lalu aku menjawab, “Agak sulit sebenarnya mendeskripsikan ibu, karena aku sedang berusaha memaafkannya.” Ia berkata kira-kira begini, cukup menarik ketika dia sebetulnya tak sedang bertanya soal maaf, tapi aku duluan lah yang berpikir aku harus memaafkan itu. Hehehe, betul juga, tapi ya aku bingung juga mengapa begitu?

Konselor itu juga bilang, “Semacam ada yang gak nyambung dalam diri Mega, kamu menceritakan hal-hal yang menyakitkan, tapi kamu ketawa.” Aku mengangguk-angguk padahal aku menahan tawa, IYA, YA, MENGAPA BEGITU, SIH? Aku memang dikit-dikit tertawa, mengucapkan sesuatu yang tak perlu ketawa, tetapi dengan ketawa. Aku sadar itu, tapi aku juga enggak tahu sebabnya. Tuh, kan, peramal dia memang!

Yang paling membuatku terkejut, konselor itu bilang seperti ini, apakah kamu merasakan ketika kamu akan bicara, kamu sudah menduga-duga lawan bicaramu akan berucap apa, lalu ketika kamu mengucapkan itu, kamu merasa, tuh, kan, bener, kan, lalu kamu akhirnya enggak mau bicara lagi?

Aku menyambut perkiraan itu dengan, YA BETUL SEKALI, BAHKAN AKU PERNAH BANGGA SEKALI KARENA MENGANGGAP DIRIKU SELALU BISA MENEBAK BALASAN CHAT DARI ORANG LAIN! Bodoh, bodoh sekali.

Barangkali itu lah yang membuatku gelisah bukan main ketika menerima pesan baru, meeting yang aku tidak tahu agendanya apa, telepon tiba-tiba, dan hal mendadak lainnya. Aku tidak siap kalau belum memiliki persiapan kira-kira nanti akan bicara apa dan mempersiapkan jurus-jurusku agar tidak merespon terlalu bodoh.

Di akhir sesi konseling, ia bilang, bahwa aku sudah begitu ahli dalam urusan logika. Maka sebaiknya ketika bicara dengan dia, lupakan logika itu dan saatnya aku mengeluarkan segala perasaanku. Sebab itu yang tak pernah aku dapatkan sejak dahulu, dipahami atas segala perasaanku. Sejujurnya itu merepotkan, aku harus mengorek-ngorek masa lalu yang aku tak ingat betul kejadiannya, tetapi tak begitu ingat pun rasanya sakit bukan main! Hatiku sesak dan ingin menangis.

Aku juga bilang, “Aku agak sulit ketika bicara, kadang lebih enak ketika ditulis, kayak aku enggak bisa menyampaikan apa yang ada di kepalaku.” Ia menjawab, “Boleh, boleh ditulis, tetapi mungkin bisa mencoba menuangkan apa saja yang ada di kepala.” Ya, ya, menuangkan, akan kucoba.

Konseling itu berakhir karena anakku mau menyusu lagi, aku akan kembali tentunya, tetapi ketika aku sudah gajian nanti. Semoga anakku tidak perlu repot-repot bayar konselor karena ulahku yang tak becus menjadi orang tua huhuhu, soalnya mahal dan merepotkan. Jumpa lagi di cerita konseling selanjutnya, ya. 


Share:

1 comments

  1. Hai.
    Perkara keadaan diri kadang memang suka gitu, sih. Kayaknya salah satu hal yang bikin orang makin tertekan mentalnya di era yang modern ini adalah, kurangnya orang yang bisa mendengar dengan benar. Ya gak, sih? Dari cerita lo aja, sesi konseling lebih seperti curhat dan konselor bisa menanggapi curhatan lo dengan tepat sasaran karena dia memberi telinganya dan fokusnya buat mendengarkan.

    Menurut gue, sih. Semoga lekas membaik semuanya, ya.

    ReplyDelete