Ngadmin @UMMcampus dan Cara Buat Konten Social Media (Untuk Pemula)

By Sophia Mega - September 13, 2016

Dokumen pribadi.
“Meg, apa bisa bantu UMM buat nge-handle sosmed saat Pesmaba besok? UMM sedang membentuk tim media untuk persiapan Pesmaba, tujuannya yah biar jadi viral di sosmed selama Pesmaba berlangsung.”

Begitu isi pesan yang sebenarnya saya tidak terlalu kenal pengirimnya siapa, yang saya tahu akun ‘Maharina Novi’ adalah kakak tingkat dan kami ada dalam satu grup yang sama: Eskalator. Eskalator sendiri adalah Public Relations club gitu di kampus saya, UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Ketidaktahuan itu bikin saya sering salah manggil ‘Mbak Rina’ jadi ‘Mbak Rani’.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung iyakan saja. Awalnya saya kira akan ada tim khusus, tapi saya salah, ternyata cuma sendirian aja (yang lain ngurusin film, liputan, press release, dan masih banyak lagi). Sendiri ngurus sosmed official kampus mulai dari Facebook, Twitter dan Instagram dengan goal besar: jadi trending topic dan viral.

Deg-degan iya, tegang iya. Ngadmin sebenarnya bukan sesuatu hal yang spesial, tapi ketika diminta bikin konten (dan benar-benar dibebaskan), diminta desain padahal sebenernya saya gak jago desain (desain-desain Pesmaba alias ospeknya UMM kemarin tuh satu desain satu jam kali ya), sedangkan akunnya adalah akun official kampus yang bawa nama baik kampus… pusing juga. 

Di balik foto tersenyum maksa ini adalah terburu-buru menentukan foto terbaik, terkeren dan terunik. Sambil sarapan di kantor Humas UMM. Sambil cepet-cepet foto biar gak ketahuan Mas Mbak Humas wkwkwk.
Langkah Pertama.

Beberapa langkah pertama yang saya lakukan kira-kira: 1) Menentukan konten ini untuk siapa, 2) Siapa followers akun tersebut, 3) Narasi untuk caption harus dengan bahasa seperti apa, 4) Ingat ini bukan akun personal!

Saya rasa empat hal ini penting dilakukan, karena ‘konsep bagus, konten asik’ itu bergantung dengan siapa followers atau market mana yang mau dicapai. Eh desclaimer, saya bukan ahli ya hahaha, tapi emang lagi belajar media sosial, belajar dari mengamati, baca-baca dan learning by doing. Mungkin tulisan ini cocok buat yang sama sekali enggak ngerti how-to manage social media. Tapi kalau saya salah, please tell meeeh.

Selama ngadmin @kapankamunikah di Twitter, saya lebih sering bikin konten buat cewek semacam, “Dear girls, mau masak apa nih hari ini? Jangan lupa belajar memasak sesederhana apa pun itu blablablabla.” Tapi setelah saya coba lihat insight-nya, ternyata kebanyakan yang follow, yang aktif mengikuti akun yang followers cuma 140-an itu cowok. Berarti yang lebih tertarik dengan akun ini cowok. Pantes nggak ada yang retweet, ketika akhirnya lebih sering lempar konten buat cowok, responnya pun lebih banyak (padahal cuma satu retweet). Hahaha, tapi satu retweet dengan followers segitu tuh susah taw gaaak? :(

Tentukan bahasa juga penting. Kita nggak bisa maksain konsep bahasa yang interaktif itu berarti menyenangkan dan penuh emotikon, nggak bisa. Lihat dulu, ini akun apa, untuk siapa, umur berapa yang mengikuti.

Kecuali itu akun alay yang membahas cinta-cintaan, sangat boleh bikin caption, “HALAW SEMUWANYA! Semangat pagi ya kayak semangatmu mengejar cintanya :D.” Bahkan, saya diajari sama Mbak Icha, owner Armata Aquatic, bahwa seharusnya media sosial itu menghindari emotikon.

Sederhananya di tahap pertama, kita bukan menerapkan ‘kayaknya asik gini nih, feeling gua bilang gini nih’ tapi ‘hasil riset gimana, lalu apa yang cocok dilakukan sesuai hasil riset tersebut’. Riset itu nggak seseram itu kok, riset itu artikan saja: sering-sering kepo soal 1) kalau orang kayak gini cocoknya bikin konten apa? 2) Market kayak gini sering main sosmed jam berapa ya?, dll.

Penting juga untuk memberi pengertian pada diri soal: ini bukan akun personal! Biasanya ini dialami para newbie dan saya pernah melakukan kesalahan ini. Saya belajar media sosial sejak kerja di KabarMLG kelas 3 SMA lalu, saya sempat agak ngawur ngadminnya dan terlalu personal yakni menyapa dan ngobrol dengan akun partner tapi berlebihan.

Menyapa akun partner penting untuk menjaga engagement community, halah ngomong apa sih kamu Meg, ya gitu pokoknya, tapi kalau berlebihan ya malah nggak baik.  Tapi setidaknya kengawuran itu buat saya belajar, meski harus diingatkan dulu sama Mas director-nya. Salah ketika baru belajar itu bagus, tapi jangan ngeyel kalau udah salah, kapan belajarnya?

Sebelum ngadmin, foto dulu pake Go Pro pinjaman Arif.
Langkah Kedua.

Waktunya bikin konten, kesalahan saya selama ditugaskan manage media sosial UMM adalah: terlalu fokus dengan Instagram dan Twitter lalu lupa Facebook hwehehe, maafkan daku Humas UMM.

Bikin konten juga nggak asal bikin, sama kayak langkah pertama, jangan pake ‘feeling dan kayaknya’. Tapi pake metode cold-to-warm, ini saya pelajari di kelas Denny Santoso.


Sebelum paham cold-to-warm itu gimana, simak kasus di bawah ini (tulisan ini udah kayak soal ulangan yah).

Ibarat cowok lagi deketin cewek dia langsung bilang, “Yuk jadi pacar aku! (Bapak) Aku punya uang banyak nih.” Pasti cewek yang waras akan merasa terganggu, belum kenal eh udah nyamber, pede banget lagi.

Beda dengan cowok yang pelan-pelan deketin, sampaikan pemikiran dengan ngobrol day-by-day, saling cerita kehidupan sehari-hari, dengan ngerti karakter si cowok, seenggaknya si cewek akan mempertimbangkan terlebih dahulu. (Eh tapi kalau ada cowok yang tiba-tiba ngelamar ke orang tua gimana Meg? Beda kasus, jangan bandingkan dulu, ini hanya untuk memahamkan teori cold-to-warm ya).

Kasus pertama itu ibarat gelas kaca yang abis dikasih air es dingin terus dikasih air panas, selain bisa kaget, jadinya malah pecah. Jadi prosesnya dari yang dingin alias nggak tau apa-apa, mengenalkan diri pelan-pelan (kalau di media sosial beri konten edukasi—produk kita untuk apa, kalau jualan jilbab ya jilbab itu lebih keren kalau pake pakaian yang gimana, dll), ketika udah hangat nih alias udah kenal siapa kita, dirasa sudah tepat timing-nya, ya tanya mau gak dipacarin?

Jadi selama ini kalian belajar pendekatan itu sama aja belajar jualan kok hahaha.

(Hasil flashmob Pesmaba UMM 2016 nih)

Kembali lagi dengan konten media sosial, khususnya untuk Pesmaba, jelas nggak tiba-tiba saya bikin konten, “Selamat hari pertama Pesmaba ya!” Perlu konten edukasi, pasti para Maba akan berpikir ulang untuk nge-follow sebuah akun, “Buat apa saya ngefollow akun ini kalau cuma dikasih semangat?” Beberapa hari sebelum Pesmab, bikin konten edukasi dulu (info-info yang dibutuhkan Maba dengan visual menarik) seperti hasil flashmob di Pesmaba tahun lalu dan yang paling viral adalah: pakaian yang harus digunakan di hari pertama Pesmaba.

Pakaian hari pertama Pesmaba.
Talent foto di atas adalah mahasiswa baru, karena dengan ‘ada temannya yang masuk akun official’ teman-temannya yang ngefollow pasti bakal rame di grup dan berkemungkinan besar ikut nge-follow. Yang lebih penting lagi, meningkatkan conversation seperti: “Wih ini @blablabla ya?” “Hits rek @blablabla.”

Kancingnya itu lho :(
Alhamdulillah, meskipun foto yang cowok jasnya kurang dikancing satu karena saya yang motret kurang teliti, responnya baik. Bahkan di-repost oleh beberapa media yang lebih besar. Di-repost oleh Mahasiswa Malang, beberapa akun BEM dan lain-lain. Makasih banyak, khususnya Mas Yoga dari MHSMLG yang selalu support tanpa diminta, pun ke @kapankamunikah gitu.

Behind the scene bersama Maba yang gemash, udah jadi talent foto, si Lely (cewek) jadi talent film Pesmaba tahun ini juga. Gila gila gila, sukses ya Lel! 

Ada yang penting juga dalam konten sosmed, jangan lupa CALL-TO-ACTION-nya, tujuan utamanya untuk meningkatkan engagement. Ini saya diajari Mas Nasrul waktu lagi ngobrol santai dengan tim External Relation Kelas Inspirasi Malang 4. Mas Nasrul bilang, “Sering kali kita bikin konten bagus terus lupa call-to-actionnya. Setiap caption nggak jarang kan nemu ada yang ‘Tag temen kalian’ atau ‘Like kalau kamu sayang Ibu’ dan lain sebagainya.”

Saya jadi punya pemahaman baru tentang budaya, “Like kalau kamu sayang ibu, lewati kalau enggak.” Sebenernya nggak masuk akal, rasa sayang ke Ibu diukur oleh sebuah like. Tapi ya ini cara jualan hahahaha. Pada akhirnya ketika ada call-to-action-nya, conversation dan engagement-nya meningkat, orang nggak selesai dengan baca konten yang bagus, selain likers-nya jadi banyak, komentarnya juga dan yang pasti konsumen atau target market jadi dekat dengan media tersebut.

Sebenernya followers banyak tuh percuma ketika like dan komentarnya kurang. Mas Nasrul juga bilang, “Aku sih gak terlalu seneng kalau followers atau like banyak (karena caranya dan strateginya banyak), yang paling penting exit-nya, ada yang beli produkku nggak?” Itu kalau jualan, berarti kalau konten kampus, goalnya sederhana kok: bermanfaat dan tambahan sesuai yang diminta Humas UMM: viral serta memberi image yang keren.

Ketika sering nangkring di Humas UMM, saya jadi tau kerumitan menjadi ‘humas’. Mulai dari bikin film Pesmaba yang punya story (belum di-upload sama mas-masnya nih, masih editing lagi, jadi maafin yah nggak bisa kasih link di sini), bikin berita untuk media massa sampai ngurusin para jurnalis ‘bodrex’ yang ceritanya penuh huru hara.

Suasana ruang MCR yang sempat karut-marut karena gensetnya sempat mati, lalu LCDnya nggak nyala dan keruwetan lainnya.
Langkah Ketiga.

Yasudah itu saja, di poin ketiga saya mau cerita kesannya ngadmin @UMMcampus aja deh. Selebihnya saya juga perlu belajar, kalian bisa tetep belajar dengan rajin cari tips di Pinterest.com, lihat media sosial official (saya suka ikutin Bukalapak sih) dan masih banyak lagi. Meskipun saya nulis panjang lebar di langkah pertama dan kedua, sebenernya saya punya banyak kesalahan dari yang sepele sampai yang agak parah, tapi cara menanganinya adalah: perbaiki, perbaiki, perbaiki. :'D

Kesempatan ini buat saya pengalaman yang sangat berharga, bisa praktekkin hasil sharing dan baca sekali lagi. Lalu, saya jadi tau mekanismenya trending topic. Learning by doing-nya dapet banget. Bisa kenal pihak Humas UMM dan sempat makan-makan bareng di Baegopa setelah kecewa karena OTW Foodstreet masih tutup jam 3 sore. Mereka baik-baik kok dan syeru, asal jangan masuk ke MCR (tempat yang ngatur sound, LCD, dsbnya), pusing!

Target followers yang dari 8700-an jadi 10K alhamdulillah terwujud dalam lima hari. Makasih ya Lely yang udah mau direpotin dan Ervina yang paling mau bantu saya soal koar-koar kalau segala informasi bisa diakses di @UMMCampus. Terima kasih Mas Mbak BEM dan kepanitiaan Pesmaba yang udah ikut support hashtag #WeLoveUMM jadi trending topic, yang nggak bales DM saya.. yaudah saya ikhlasin :(. 

Makan-makan di Baegopa.

Pertanyaan yang akan muncul setelah ini mungkin: “Dapet fee nggak, Meg?”

Dari awal saya emang nggak mempertanyakan soal ini selain di awal emang dimintain tolong, karena pengalaman baru yang lebih penting daripada fee itu sendiri untuk seseorang yang ‘masih belajar’ kayak saya. Selain itu, beberapa minggu lalu saya diajari soal nggak baik jika standarnya ‘berdasarkan uang’ terus-terusan.

Malam itu, saya lagi kumpul dengan kakak kelas saat dulu di MAN 3 Malang. Mas Zain, Mas Haqqi dan Mbak Putri. Kami sharing banyak hal, terus saya sampaikan keresahan saya kepada mereka.

“Boleh gak sih Mas kalau aku kesel kalau aku yang selalu diminta hunting foto di Malang karena ada kamera, yang lainnya ya re-write ajah. Kan liputan juga capek, foto kan juga bisa diperjualbelikan?”

Dan saya yakin ‘pikiran idealis’ itu akan muncul di banyak benak anak muda.

Mas Zain pun merespon,

“Tapi seenggaknya dari situ kamu jadi dikenal baik, Meg. Siapa tahu dari hal tersebut kalau ada kerjaan lain, kamu yang ditawari. Ya gitu sih anak muda sekarang, udah ngerasa jago terus maunya dibayar.”

Kemudian saya ingat dengan Pak Jamroji, dosen saya, pernah menyampaikan, “Anak Ilmu Komunikasi tuh nggak ada yang nggak jago sebenernya, cuma attitude-nya aja.”

Bener banget, sejago apapun kita, kalau nggak diimbangi attitude yang baik seperti: nggak sombong, mau belajar, mau mengaku salah, bisa jaga lisan dan sikap, nggak pernah merasa puas dalam cari pengalaman dan masih banyak lagi pasti lebih lebih lebih keren.

Akhirnya saya punya pandangan lain soal ‘totalitas’ dan ‘passion’. Pikiran berdasarkan uang juga malah bikin kita egois dan nggak mau belajar lebih, kalau nggak dibayar ya nggak mau kerja. Nggak jarang karya yang lebih keren itu dihasilkan oleh orang yang mau terus berkarya meski nggak dibayar, semuanya dilakukan karena passion.

Tapi, jangan terlalu lama mau kerja tanpa dibayar ya. Karena itu pasti capek saudara-saudara. Ada masanya memang perlu diapresiasi dengan pemasukan, sekecil apapun itu. Ada masanya kita perlu menghargai diri sendiri. Tapi harus tau ukurannya ya, jangan maunya profesional tapi skill seadanya, tapi juga jangan kasih murah kalau seharusnya bisa lebih mahal (tapi inget jangan semua-semuanya patokan uang, tau kondisi, kapan ambil kesempatan yang bagus meski gak dibayar, kapan nggak ambil kesempatan tersebut). Pelan-pelan, mulai dari nggak digaji, sampai digaji sedikit-sedikit hingga jadi praktisi dengan gaji yang profesional. 

Yaudah, panjang banget yah tulisannya? Semoga bisa bermanfaaat buat temen-temen yang lagi manage media sosial dan bisa punya pandangan baru soal tidak menjadi sombong karena baru punya skill dan ilmu sedikit terus nggak mau kalau gratisan. Semangat terus belajar dan berkarya! 

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Woho, walaupun panjang tetep aku baca sampe habis kok, Meg.
    Sebenernya ngadmin itu enak, lho. Pernah ngadmin di kommaksi, tapi banyak kesalahan banget 😬 Tapi dari sana belajar banyak banget.

    Mungkin karena ngadmin di kommAksi itu bagus, elah. Kemarin ditawarin kakak tingkat buat ngadmin salah satu akun, tapi karena belum cukup semesternya, jd nggak bisa deh :')


    Bener sih Meg banyak yang nanya2 soal dapet apa dapet apa, diisiin pulsa gak, gini nggak, yah kadang kecewa ditanya gitu, masa semuanya uang? Ada yg lebih penting, pengalaman 😂

    Yaudah deh segitu aja dulu komennya 😂

    ReplyDelete
  2. Halo, Mega! Salam kenal dari anak Bekasi-Depok! Hehe, pernah komen2an kayaknya udah lama banget.. dan baru ngeh sama blog2 yang aku follow until I found this post! Seneng bacanya.. hehe aku jg lg belajar ngadmin nih di humas fakultasku. Makasih share nya ya! Btw pernah baca jg ternyata kamu pernah ke FISIP UI Depok yaa wah tau gitu kenalan langsung :D

    ReplyDelete