Belajar Bikin Kopi di Konkopia: Alat Bukan Halangan!

Mas @ahpriyambodo (Mas Samid) dan Mas @enggarabdillah)
Baru sebulan ini mencoba belajar menyeduh kopi sendiri di rumah, selain lebih banyak menghabiskan waktu di rumah (nulis, baca buku, bikin video review buku dan lain-lain), saya emang nggak pede kalau harus belajar menyeduh di kedai kopi. 

Selalu mendadak tremor alias tangannya geter dan penuh keraguan. Di balik saya bisa ngomong panjang lebar di Youtube, di balik saya sering update di media sosial, sebenernya saya punya sisi malu, nggak pede, sering mikir tiap abis ngomong banyak di depan orang atau media sosial (takut salah ngomong), dan segala insecurities yang lain. Basic-nya saya memang punya extroversion dan introversion yang sama-sama kuatnya, di satu waktu saya bisa super introvert, tapi di waktu lain bisa extrovert banget.

Makanya saya lebih nyaman belajar di rumah, tiap digodain Mas Ambon (pemilik kedai kopi Telescope) untuk nyeduh di bar, saya selalu nolak, malu (banget). Tapi hari ini saya belajar untuk lebih pede lagi, mumpung di Konkopia, saya minta ajarin Mas Samid.

Sisi extrovert saya lagi jalan malam itu, malah sok-sok-an live di Instagram (yang selama ini selalu saya hindari, malu aja, bukan siapa-siapa sok-sok-an live hahaha). Anywaaaay, terima kasih yang udah nonton live-nya ya! Kasihan kuotamu lho.....

Kali ini belajar nyeduh dengan V60 dan biji kopi Karang Ploso atau biasa disingkat 'Karlos'. Jadi dalam menyeduh, awal banget setelah kertas filter sudah basah, air panas sudah dalam suhu yang diinginkan dan seluruh alat sudah dipersiapkan adalah proses blooming. Blooming adalah koentji. 

Sederhananya, blooming ini proses kunci biar kopi yang kita minum nggak bikin sakit perut. Niatnya saya bahas blooming di sini, tapi setelah saya baca-baca lagi, ternyata nggak cukup baca satu, dua atau tiga kali. Mungkin di lain waktu bisa ditulis lebih detail.
Nah kopi yang saya seduh nggak ada proses bloomingnya, saya nanya dong ke Mas Samid. Ternyata hal tersebut karena kopi yang lagi diseduh emang udah nggak lagi di 'masa keemasan' yang bikin rasanya jadi enak. Masa keemasan rasa kopi biasanya adalah tiga minggu setelah disangrai, rasanya tetap terjaga, sehingga ada proses ekstraksi kopi yang baik. Sebenarnya ada penjelasan teknisnya, tapi lagi-lagi, daripada salah, saya nggak mau bahas dulu.

"Sak mene," Mas Samid.

Masa keemasan kopi yang jadi catatan tambahan buat saya (karena kemarin nyeduh kopi kok sempet nggak ada proses bloomingnya yang ternyata biji kopinya emang udah lama setelah masa roastingnya). Noted!

Selanjutnya adalah, emang harus sering-sering nyatet ketika belajar. Ya biar tau bedanya setelah nyeduh dengan suhu, berapa gram kopi, berapa menit, teknik yang berbeda-beda sampai nemu yang pas. Karena selama ini masih bingung bedanya kopi yang kemarin sama hari ini apa, mencatat bisa jadi salah satu opsi biar tau proses belajarnya. Noted!

Cortado andalan Konkopia.
Kopi sudah selesai diseduh, yang saya suka dari Mas Samid nih, dia selalu ngajarin buat 'pede sama kopi yang kita buat'. Karena pada akhirnya takaran kopi yang enak dan nggak enak itu bergantung dengan preferensi masing-masing. Apakah lebih suka kopi yang pekat, yang pahit, atau yang lebih fruity. Beda lagi kalau kompetisi, atau cupping, ada standarnya sendiri.
Tapi bukan berarti standar itu tidak penting ya. Terus bikin kita buta mata untuk menganggap kopi yang kita bikin enak dan udah yang terbaik. Saya sempat dengar ada yang bisa ngomentarin kopi di salah satu kedai kopi fancy dengan, "Aku selama ini nggak pernah ngerasain kopi asin, itu kok asin, aku jadi bingung sendiri."

Pede perlu sih, tapi mau belajar terus juga wajib.


Selain belajar untuk pede, Mas Samid bilang bahwa: keterbatasan alat bukan halangan untuk bikin kopi enak. Ketika Mas Enggar, salah satu teman saya yang nyusul ke Konkopia tanya-tanya soal bikin kopi. Mas Samid selalu punya cara untuk tetep bisa bikin kopi tanpa harus beli alat dulu.

Gilak, emang keren banget sih. Mas Samid ini juga tipe orang 'yang bisa ngajarin' pelan-pelan. Bahkan kami diajarin buat bikin foam susu dengan frenchpress, detail banget ngajarinnya. Terima kasih banyak yaaaaah Mas Samid!
Seru banget sih belajar nyeduh hari ini, semoga semakin semangat belajar nyeduh dan Konkopia semakin menjadi kedai kopi yang wasik untuk ber-silaturation. Kalau lagi belajar nyeduh di tempat lainnya, kayaknya asik nih diceritain di sini, selain sama Mas Samid, kadang juga ke Mas Wildan (Bruh Coffee), jadi tungguin di Instagram aja yak! (Ya kalau lagi nggak malu aja sih hahahaha). Kalau di blog pasti lah diceritain, stay tuneeed aja pokoknya.

Konkopia
Warung Kopi dan Silaturation16.00-22.00
Jalan Simpang Piranha Atas No. 7b Malang
Instagram: @konkopia_

1 comments

  1. Ajib banget cara bikin kopinya, trnyta ada teknik khususnya utk menyajikan kopi yg high end ya.

    Mulai dari ukuran suhu, takaran berapa gram kopi, dst.

    Saya penyuka kopi tp sekedar asal bikin kopi. *malu deh*

    #salam kenal, Ririe Yogya

    ReplyDelete

My Instagram