Review Cantik Itu Luka dan Segala Kekiriannya


Seneng banget ketika baru aja bikin channel Youtube untuk review buku terus diajak oleh Kak Dhyn gabung ke komunitas Booktube Indonesia. Sejak saat itu, referensi buku semakin beragam, bahkan jadi lebih semangat untuk baca buku.

Apalagi sejak kenal Litsa, Smoglit Reviews. Kami sering ngobrol dan bertemu beberapa kali, hingga membuat movement #Collabooks. Di mana #Collabooks ini adalah gerakan baca bareng buku yang sama, baik penulis atau judulnya yang sama, di Instagram. Lalu saya dan Litsa akan membagikan final thought tentang buku tersebut di Youtube. Sedangkan yang udah ikut baca bareng #Collabooks, akan diberi apresiasi buku. Yay!

Selain kita bikin #Collabooks, Litsa banyak beri referensi buku. Salah satunya #Collabooks di bulan Maret adalah Cantik Itu Luka dari Eka Kurniawan. Buku ini cukup terkenal, tapi ya saya enggak ikut keramaian buku ini sampai akhirnya punya kesempatan baca dengan versi yang udah dicetak kembali versi hardcover. 

Review sebelum versi hardcover, ada versi cover yang lebih lama dari ini.
Foto didapatkan dari blog: http://raungsurya.blogspot.co.id

Seperti hardcover pada umumnya, jadi lebih mahal cuy. Kalau buku dengan cover biasa kan harganya sekitar 90.000-an aja, nah ini jadi 175.000 IDR. Tapi karena saya beli di Togamas, jadi diskon tinggal 148.750 IDR aja. 


Novel Cantik Itu Luka udah saya review di Youtube, tapi izinkan kali ini saya menceritakan apa-apa yang menarik dan enggak sempat disampaikan di Youtube. Kalau di Youtube saya lebih fokus pada jalan cerita yang 'sia-sia', yang hidup ternyata seberusaha apapun kita, ujung-ujungnya gak ada gunanya. Atau pemikiran ini disebut absurdisme. Sedangkan di review kali ini saya pengin bahas soal komunisme.

Sejujurnya, saya enggak terlalu paham komunisme. Bahkan di semester lima, saya masih bertanya soal: sebenarnya yang kiri itu gimana yang kanan itu gimana? Ya apalah saya yang cuma doyan kelas public relations saat di kampus meskipun di Fakultas Sosial dan Politik. Tapi melalui novel Cantik Itu Luka, sedikit banyak saya mengerti bagaimana komunisme ada.

Di novel ini cukup lengkap membahas komunisme, mulai dari cara berpikirnya. "Sama rata dan sama rasa" ternyata menjadi prinsip dasar dari ideologi ini. Banyak menjelaskan seberapa kuat Marxis di dalam bagian komunisme. Dan yang paling penting: bagaimana perjuangan komunisme di Indonesia, salah satunya di Halimunda, salah satu pulau fiksi yang dibuat oleh Eka Kurniawan, penulis Cantik Itu Luka. 


Kamerad Kliwon, sosok laki-laki yang dipuja-puja seluruh perempuan di Halimunda, akhirnya memperjuangkan ideologi komunisme. Padahal sebelumnya telah diwanti-wanti oleh Ibunya agar tidak mengikuti paham bapaknya, yang menurut Ibunya, orang-orang komunisme tersebut selalu murung. Bahkan Ibunya tak masalah jika Kliwon yang dahulu sangat bandel bahkan sering berbuat onar di Halimunda, dibandingkan harus menjadi komunis. 

Yang paling menarik menurutku adalah alasan kenapa Kamerad Kliwon harus memperjuangkan rakyat, khususnya nelayan di Halimunda. Ia tahu bahwa ideologinya itu tak akan mengubah banyak, tapi ia pun benci pada segala hal yang tidak adil di luar sana. Tapi tak banyak hal yang bisa ia lakukan, selain memperjuangkan hak-hak para nelayan yang membuatnya tak terbebani dengan segala hal yang tidak adil. Itu mengapa ia selalu menolak jika akan naik jabatan di partai, karena bukan karir partai yang ia butuhkan, ia hanya ingin memperjuangkan hak para nelayan.

Ini yang membuat saya lantas paham, oh sebenarnya ini nilai yang ada dalam komunisme. Tapi ya dalam novel ini enggak langsung bisa kita tahu mengapa komunisme lantas dibenci. Atau mengapa komunisme terkesan 'memberontak'. Memang, novel adalah media baca yang pas untuk kita yang males belajar sejarah terus jadi kepo untuk belajar. 

Di novel Cantik Itu Luka meskipun fiksi, dia emang tergolong historical fiction. Di mana, alur sejarahnya emang sesuai, tapi ada beberapa yang fiksi. Banyak yang bisa kita dapat dan tahu, tapi ada juga jalan cerita yang emang fiksi. 

Novel ini emang bukan menceritakan Kamerad Kliwon, tapi novel Cantik Luka memang punya karakter kepenulisan yang akan menjelaskan setiap tokoh yang ada di dalamnya. Meskipun tokoh utama Dewi Ayu, kita akan tetep tahu jalan cerita dan apa yang ditempuh dari setiap tokohnya. Pantes lah ya novelnya tebel~, tapi sama sekali enggak bikin kamu bosen kok (meskipun di cerita gerilya Shodanco itu ngebosenin banget, Shodanco adalah salah satu tokoh di novel ini).

Nah untuk review lebih lengkapnya, bisa kamu tonton di sini ya:


1 comments

  1. Sama kayak di IG ya, Meg. Fokusnya bahas buku dan kopi. Mantap. :D

    Tapi saya masih nggak abis pikir kenapa Kamerad Kliwon matinya begitu. :( Terus masih bingung soal Alamanda yang perutnya isi angin. Meski surealis, itu lucu jadinya. XD

    ReplyDelete