Wisang Kopi, Ruang Kopi yang Mungkin Jarang Kamu Temukan di Jakarta

wisang kopi jakarta

APRIL 2018 - Karakter coffee shop di setiap kota pasti berbeda, bergantung dengan siapa konsumen utama kopi di kota tersebut. Ketika di Jakarta, saya lebih banyak menemui coffee shop yang fancy dan rasanya agak susah membuka ruang-ruang di mana satu customer yang sering ke sana lalu berkenalan. Ruang coffee shop di Jakarta lebih banyak didesain untuk keperluan orang-orang yang bekerja, bukan ruang bersosialisasi dengan antar customer yang sebelumnya saling asing.

Sampai akhirnya saya datang ke Wisang Kopi, dan langsung membatin, "Wah, di Jakarta ada kedai kopi yang seperti ini." Dalam ruangan yang tak terlalu luas, ada beberapa meja saja yang sifatnya personal use. Sedangkan yang lain hanya ada kursi panjang tanpa meja, yang mengharuskan satu customer dengan yang lain duduk bersebelahan. Lalu ada beberapa kursi menghadap bar. Serta ruang untuk merokok di belakang, yang juga tak banyak meja untuk penggunaan personal.

Tidak ada sekat antar meja membuka ruang-ruang baru bersosialisasi antar penikmat kopi.  

alamat wisang kopi

Ini yang saya maksud membuka ruang bersosialisasi antar customer. Desain ruangan mengharuskan tak ada jarak antar satu customer satu dengan lainnya. Terbukti, saat saya di sana bersama beberapa #TemanMengopi, yakni teman Booktube Indonesia (Litsa dan Kak Aya) dan teman-teman Kebun Kancil, kami masih bisa berkomunikasi dengan customer lainnya. Ya obrolannya tiba-tiba nyambung terus saling ngobrol aja tanpa mengenal nama, karena itu tadi: tidak ada sekat antar meja.

Sebenarnya, banyak ulasan tentang Wisang Kopi karena mereka kuat dengan idealismenya bahwa ini adalah kedai kopi tanpa gelombang. Entah gelombang yang dimaksud adalah: susah dapet sinyal di sana, atau terkait gelombang gerakan mengopi yang anak kopi-kopian pasti paham dengan "first-second-third-wave" dan seterusnya. Tapi karena saya belum bertanya langsung, jadi saya enggak bahas tentang ini ya?

kopi bukan untuk difoto

Tapi, saya memang melihat ada sesuatu yang berbeda dari Wisang Kopi. Rasanya, dia ingin mencoba lari dari apa yang dilakukan kebanyakan orang. Selain 'tanpa gelombang', di kemasan Es Kopi Susu Wisangnya ada tulisan: 'diminum bukan difoto'. Bahkan ketika saya memotret, dan beberapa teman Kebun Kancil mengambil beberapa momen untuk video, salah satu orang Wisang Kopi nyeletuk, "Difoto udah kayak kebun binatang aja."

Celetukan tersebut dengan 'diminum bukan difoto' membuat semuanya jadi terkesan enggak sebercanda itu. Bagi orang yang datang untuk mereview kopi, sebenarnya saya enggak nyaman, tapi ya lagian saya siapa bukan siapa-siapa untuk berpengaruh pada dunia perkopian. Tapi saya enggak menyalahkan hal tersebut, kayaknya ada alasannya deh, pikir saya.

kucing wisang kopi
Syarat jadi barista Wisang Kopi harus bersahabat dengan kucing (serius). 

Wisang Kopi nampaknya memang begitu kritis dengan perkembangan kopi. Bukan sekadar pokoknya bikin kedai kopi dan menyeduh manual.

Melihat apa yang dibagikan di feed Instagramnya, frekuensi membalas komen, dan topik-topik yang ia bahas. Saya pikir, Wisang Kopi adalah salah satu kedai yang kritis dalam perkembangan kopi. Dan, saya sangat menyukai hal tersebut. 

Saya pun sepakat kok, kalau kopi difoto-fotoin terus, menurut saya itu jadinya membuat vibes kopi jadi melelahkan. Kok ya kopi difotoin terus demi kebutuhan visualmu itu~ lha kamu itu kapan bersosialisasinya? Dalam beberapa waktu, saya sering ngopi tanpa membawa kamera, maunya hanya ngopi dan ngobrol. Kadang-kadang, kebutuhan visual media online membuat kita jadi lupa menjadi manusia. Halah, ngomong apa sih kamu itu. 

booktube indonesia
Bertemu dengan teman-teman Booktube Indonesia, tengah Litsa, kanan Kak Aya. 
Kita enggak bisa menyamakan satu kedai kopi dengan kedai kopi lainnya. Kedai kopi lebih dari sekadar satu ruang komersil. Setiap tempat punya idealisme dan prinsipnya sendiri. Sering ke kedai kopi yang hanya untuk kebutuhan komersil, lalu tidak mengikuti dan krisis pada perkembangan kopi, bisa ngefek lho pada ambience kedainya. Jadi membuatmu rindu akan kedai kopi yang punya idealisme tinggi.

pigar wisang kopi
  
Menurut saya, kedai kopi yang bertahan dengan idealisme tertentu gak semudah itu. Lebih mudah mengikuti pasar butuhnya apa, kan? Apalagi di Malang, agak susah jualan cappuccino full arabika (tapi ada kok beberapa yang full dan emang enak), karena kalau full, jadinya mahal dan pasar Malang belum terlalu sadar cappuccino enak ya harus dari beans yang oke. Kalau kita bilang tingkat kesadaran orang pada pengetahuan kopi udah semakin tinggi, saya bilang iya, tapi enggak sejauh itu. Kalau di Malang, iya banyak yang jual manual brewing dan cappuccino, tapi enggak semua menawarkan rasa dan kritis yang lebih pada kopi yang ia buat.

Yang punya kedai kopi mungkin paham, tapi customer yang enggak mau tahu beans yang dipake di kopinya, kopi enak berdasarkan asumsi sendiri tapi enggak mau belajar, ya perkembangan kopi masih sebatas: yang penting diseduh manual atau cappuccino yang dari kedai kopi lokal. Selera pasar akan membentuk kedai kopi seperti apa yang ada di kota tersebut.

Melihat Wisang Kopi bertahan dengan idealismenya, itu keren banget.

Soal rasa, saat saya ngopi di Suasanakopi, satu barista bilang, "Kalau di Wisang Kopi tuh enak (single origin) Pugar, sama teh hibiscus." Ya tapi karena saya keduluan ke Wisangnya daripada Suasanakopi, jadi kemarin saya sih pesan single origin Honey Solok Surian. TAPI, beruntungnya Litsa pesan Pugar Panyabungan. 

pugar dan solok wisang kopi
Kopi disajikan melalui cangkir seperti ini secara langsung.
Sebenernya saya belum terlalu paham untuk mendeskripsikan kopi yang diseduh manual ya, tapi yang Pugar Panyabungan ini emang manis banget. Baru kali ini ngerasain single origin yang semanis itu, ya saya emang kurang banyak nyobain kopi seduh manual akhir-akhir ini. Belajarnya satu-satu dulu ya hehehe.


Yang menarik selanjutnya adalah: saat bikin donat! Mereka punya space khusus dalam membuat donat dan bisa kita lihat. Huhu ini momen yang paling saya suka! Karena kan saya lagi belajar bikin donat yang enak dan digoreng, nah jadi ikutan belajar gitu lho hahaha. Meskipun enggak nyobain, tapi saya yakin itu enak banget donatnya.

Perbedaan lainnya, Wisang Kopi punya jam buka berbeda dengan kebanyakan coffee shop di Jakarta, yang setidaknya saya datangi di #TamasyaKedaiKopi kali ini. Biasanya memang buka pagi dan tutup tidak terlalu malam, nah Wisang Kopi jadi pilihan coffee shop Jakarta yang buka sampai pagi, yakni jam 12 siang hingga jam 2 pagi.

Kalau ke Jakarta lagi, saya harus mampir lagi sih ke Wisang Kopi. Sekadar ngopi dan menikmati donatnya yang sungguh nampak lezat itu. Terima kasih Wisang Kopi atas pengalaman ngopinya yang begitu berkesan. :)


Wisang Kopi
PLACE:
Jl. Abdul Majid Raya No.67, RT.4/RW.11, Cipete Utara, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12150
OPEN:
Mon-Sun: 12.00-02.00
INSTAGRAM:
WORTH TO TRY:
the manual brew!
HOSPITALITY:
Good
AMBIENCE:
Great for meeting with friends aaaaand love cat. 
HYGIENE:
Not really that clean.
WI FI:
Yup!

0 comments:

Post a Comment

My Instagram