Q&A: Gimana Caranya Suka Baca Buku?

Meet Me at The Library
Pertanyaan pertama dengan orang baru yang mengerti kalau saya suka baca buku adalah, "Gimana sih caranya suka baca buku?" Saking seringnya pertanyaan ini hadir, saya sampai harus menyiapkan jawaban template biar enggak kebingungan lagi jawabnya. Sebenernya pertanyaan ini mudah sekaligus susah. Hayo lho, apa maksudnya?

Seorang teman di kedai kopi, Mas Dhito, pernah menyampaikan, "Orang-orang di Indonesia itu membaca buku hanya untuk memenuhi kemauannya membaca." Ya sekadar biar baca aja. Mungkin itu sebab adanya pertanyaan: gimana sih caranya suka baca buku. Padahal ya kalau dipikir-pikir enggak ada cara khususnya, adanya: kamu lagi pengin tahu apa? Lagi mau belajar apa? Nah, buku adalah media yang cukup baik untuk memenuhi rasa ingin tahu dan belajar.

Jadi jawaban tempale untuk pertanyaan yang cukup template ini adalah: jangan cari tahu gimana suka baca buku, coba cari tahu apa yang kamu suka dan apa yang bikin kamu penasaran.

Saya membaca buku mulai SD, dari novel anak-anak, lalu SMP lanjut baca novel teenlit dan doyan banget ngabisin majalah. Ketika SMA, enggak lagi baca novel, bahkan hobi membaca bisa dibilang angin-anginan. Satu buku bisa tiga bulan. Bacaan pada masa SMA lebih banyak non-fiksi, karena waktu itu saya lagi pengin punya kepribadian yang baik, yang sampai sekarang sebenernya kepribadian saya gak bagus-bagus amat.

Hingga kuliah, masih doyan beli buku non-fiksi. Khususnya buku bisnis, marketing dan kehumasan atau Tapi pada suatu waktu, feminisme lagi rame diobrolin orang seumuran saya (yang mungkin bagi orang yang gak seumuran saya itu udah topik basi). Womenmarch di mana-mana dan perempuan makin vokal bicara kalau dia layak dihargai. Terus saya bertanya: ini orang-orang pada ngobrolin feminisme, tapi saya kok enggak ngerti apa-apa ya, kayaknya harus baca banyak nih.


Eh, jodoh dong, di waktu yang sama Susano Books nawarin saya untuk dikirimkan buku. Melihat katalognya, mereka punya stok buku yang memiliki kecenderungan feminisme cukup banyak. Terus saya bertanya: "Aku gak ngerti apa-apa soal feminisme, tapi ingin mencoba baca, ada rekomendasi gak buku apa yang harus saya baca?" Lalu mereka mengirimkan Perempuan di Titik Nol, yang sudah saya review di sini. Serta masuk ke dalam daftar buku terbaik yang saya baca di tahun 2017, untuk tahu buku terbaik lainnya juga klik di sini, ya.

Di situ lah saya mulai terjebak pada literatur yang memiliki kecenderungan menceritakan tentang perempuan. Ya semua buku yang ada perempuannya sebenarnya kita bisa melihat dari sudut pandang mana buku tersebut menceritakan perempuan, tapi saya lebih suka yang spesifik. Hingga bacaan berkembang seiring bertemunya banyak teman yang suka baca juga. 

Jadi, bisa disimpulkan dong proses suka bacanya gimana? Saya juga di awal enggak punya 'rasa lapar untuk terus membaca', kok. Sekarang pun masih jauh rajin bacanya. Bacaan saya masih itu-itu aja, jadi kalau kalian menemukan cara berpikir saya gak mencerminkan kegemaran membaca saya, ya maklumi aja lah. Ibarat games, saya hanya noob alias anak kemarin sore yang suka baca buku. 

Semoga dari artikel ini kalian bisa terbantu, ya! Seenggaknya mulai mencari tahu buku apa sih sebenernya yang kamu butuhkan, kamu suka, hingga akhirnya terbiasa membaca. Di awal saya baca novel teenlit dan majalah kok, kamu bisa coba dengan apapun kecuali caption Instagram. 

Dan, satu lagi. Untuk menjadi berwawasan luas, setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Ada yang emang dari sananya suka sesuatu yang terstruktur (salah satunya adalah saya), jadi lebih suka kalau baca buku. Ada yang lebih suka nonton film, berarti semakin diperluas lagi apa yang ditonton. Atau ada yang lebih suka mendengarkan orang lain bicara? Berarti semakin dibanyakin lagi temennya. 

Just enjoy your process! Kalau kamu berhasil menaklukan diri kamu dan jadi doyan baca, jangan lupa kabarin saya ya! Bisa di Instagram atau email sophiamega97@gmail.com, siapa tahu ceritamu bikin saya lebih semangat untuk membaca lagi. 

0 comments:

Post a Comment