Incredibles 2, Tentang Membangun Persepsi & Peran Suami-Istri

Foto: cnet.com
Sebelum hari raya idulfitri, saya (akhirnya) menyempatkan diri ke bioskop dan nonton film Incredibles 2. Saya sempat mengira film yang saya tonton ini adalah film minion, ilmu pengetahuan umum tentang film di kepala saya memang sangat cetek. Sering kali tertukar dari satu film ke film lainnya. Ketika adik saya bilang, "Bukan, Mbak. Itu film yang sekeluarga jadi superheroes itu lho." HAHAHA ASTAGA!

Jadi sebelum kalian menganggap saya tidak punya kapasitas dalam dunia perfilman, saya mau bilang terlebih dahulu, memang saya tidak paham tentang film dan cenderung awam. Bahkan saya terhitung jarang sekali menonton film. Tapi film kali ini, Incredibles 2, membuat saya tergerak untuk menulis karena bagi saya.. ini bukan sekadar film kartun. 

Film ini masih menceritakan keluarga Bob (Mr. Incredibles) dan istrinya Helen. Dalam sinopsis, diceritakan bahwa mereka terpaksa harus menyembunyikan 'kemampuan super'-nya dan menjadi 'keluarga normal'. Setidaknya dalam film ini, saya mendapatkan dua hal penting: tentang membangun persepsi dan peran suami-istri. Semoga tidak ada unsur spoiler di dalam tulisan kali ini, kalau pun ada, teman-teman bisa memberi komentar di bawah untuk menjadi evaluasi dan bahan pembelajaran untuk tulisan selanjutnya.

Bagi yang belum nonton trailer, silakan nonton video di bawah ini:



IT IS ALL ABOUT PERCEPTION

Sering kali kita sudah melakukan hal baik, tapi masih saja dianggap melakukan hal buruk menurut orang lain. Lalu akhirnya kita berbesar hati dengan, "Ah enggak apa-apa, yang penting niatku baik." Sekali, dua kali, masih bisa dong berbesar hati. Gimana kalau terus-menerus kamu dianggap buruk? Atau bisa gak sih sesuatu yang buruk kembali dilihat menjadi baik? Atau malah hal buruk akan dilihat menjadi baik?

Bisa, karena semua itu bergantung persepsi siapa yang melihat. Bagaimana kita bisa membangun persepsi orang lain? Ada caranya.

Yah, kira-kira ini yang mau disampaikan di Incredibles 2. Bagi saya yang belajar public relations, di kepala saya udah langsung berpikir, "Gila nih ngajarin soal personal branding." Dalam film ini, setidaknya di trailer, kita tahu bahwa Elastigirl bilang, "Superheroes are illegal." dan seseorang laki-laki berjas yang bilang, "It's time to make some wrong things right." dan "We need to change people perception about superheroes, and Elastigirl is a best plan."

Kita tahu bahwa masalahnya adalah superheroes dianggap ilegal dan tidak boleh mengeluarkan kekuatannya, tapi ada orang yang mau membangun persepsi masyarakat bahwa superheroes adalah orang baik. Cara awalnya adalah: Elastigirl yang pertama kali dikenalkan. Perempuan sering kali menjadi objek yang paling ampuh untuk menarik target komunikasinya. Bahkan Naomi Wolf di bukunya The Beauty Myth bilang kalau, "Perempuan dengan daya tarik seksualnya menjadi salah satu senjata andalah iklan untuk menarik perhatian target komunikasinya." 

Foto: wired.com
Kalau dibilang akhirnya film ini malah menunjukkan perempuan menjadi nilai tukar atau komoditas, enggak kok *malah jadi kemana-mana*. Yang saya fokuskan dan nikmati... yah membangun persepsi orang tuh sebenernya bisa-biasa aja dan ada caranya. Bagaimana rangkaian caranya kalian harus nonton filmnya sendiri ya :p.

Menariknya lagi, di akhir kita juga bisa tahu kalau puncak masalahnya juga hanya karena: persepsi yang berbeda. Di film ini kita jadi bisa melihat persepsi bisa dibangun, sekaligus bisa tahu bahwa persepsi yang berbeda malah bisa jadi bencana (bagi yang sudah nonton, ini terkait dengan kehadiran screenslaver).

Foto: scroll.in
AYAH BEKERJA, IBU MEMASAK

Kalimat sederhana ini diam-diam masuk ke dalam otak setiap anak yang sedang belajar membaca. Oooh, berarti cowok bekerja, cewek memasak. Malah adik sepupu saya ketika melengkapi kalimat rumpang, "Ayah bekerja, Ibu _____" yang biasanya diisi 'memasak'.. ia malah memilih 'Ibu cuci piring'. Baik, dia kreatif dan sepakat bahwa Ibu tugasnya tidak hanya memasak, tapi selalu di dapur.

Mungkin anak saya nanti kalau mengisi kalimat rumpang tersebut, akan mengisi dengan, "Ayah Bekerja, Ibu menggapai cita-citanya menjadi penulis" hahahaha I WISH! Bagaimana nanti saya harus menjelaskan setiap kalimat yang diam-diam membuat paham-paham dalam kepala anak saya sejak kecil? Bagaimana nanti saya harus menjelaskan bahwa setiap peran dalam rumah tangga tidak bisa didelegasikan sesuai gender? Ternyata, Incredibles 2 bisa menjelaskan.

Ketika Elastigirl (Helen, istri Bob) bilang selamat tinggal (masih di trailer) untuk bekerja dalam pekerjaan barunya, Bob bilang, "I watch the kid, no problem." Di awal terlihat sekali Bob harus menggugurkan gengsinya untuk mengurus anak. Dia begitu banyak mendapat kesusahan saat 'hanya di rumah mengurus anak'. Tapi karena Bob (bagi saya) sosok yang mengagumkan, dia akhirnya mau belajar untuk handle rumahnya dan gengsi bilang enggak bisa ke istrinya sendiri.

Di sini kita bisa tahu bahwa mengurus anak dan rumah adalah kerja tim, enggak bisa didelegasikan. Saya sering berjumpa dengan sosok Ayah yang lebih jago memasak dibanding istrinya atau anak yang lebih bangga pada Ayahnya karena jago memasak. Di sini bisa dilihat bahwa pekerjaan rumah seperti itu enggak bisa didelegasikan karena dia perempuan atau laki-laki. Ini bukan berarti saya cari alasan untuk tidak pandai memasak yah, karena saya sendiri malah seneng banget belajar masak.

Meskipun yah di awal orang yang nonton pasti merasakan kekesalan Bob yang cuma kerja di rumah dan ngurus anak. Alih-alih berpikir Bob adalah representasi suami atau laki-laki yang gagal, kita malah jadi tahu bahwa Bob adalah Ayah yang wajiiiib diacungi jempol atas segala usahanya mengurus anak. Kita jadi ingin punya Ayah yang jago kayak Bob, dan menjadi Ayah yang jago juga incredible!

Foto: teachablemommy.com
Dua hal itu yang membuat saya ingin membagikan tulisan ini di blog, yah karena salut dengan apa-apa yang Incredibles 2 coba sampaikan kepada penonton. Di sini saya tidak ada niat untuk me-review film, tapi hanya membagikan dua yang menarik bagi saya dari Incredibles 2. Kalau misalnya kalian punya hal lain dalam film ini, jangan lupa tinggalkan komentar di kolom komentar di bawah, ya! 

2 comments

My Instagram