Ngopi di Gordi HQ Jakarta Selatan, Indonesia First Coffee Subscription


Pada Tamasya Kedai Kopi di Jakarta Selatan April lalu sebenarnya tidak memasukkan Gordi HQ dalam bucketlist. Tapi Pak Sivaraja dari Amstirdam Coffee menyarankan untuk pergi ke sini karena yakin saya bakal suka dengan cappuccinonya. Hari itu adalah hari terakhir di Jakarta Selatan, jadi tetep bisa menyempatkan untuk ke Gordi HQ. 

Kesan minimalis berwarna biru yang tersembunyi di balik perumahan serasa menemukan hidden gems. Kedai kopi yang terkenal ini, baik dari kopinya sendiri sampai acara terakhir adalah konferensi pers Chicco Jerikho yang baru saja menikah dan memilih Gordi HQ sebagai lokasinya, ternyata ada di kompleks perumahan. Selain itu, kecenderungan kedai kopi sering kali memainkan warna-warna hitam, putih, abu-abu atau coklat. Menemukan kedai kopi dengan dominasi warna biru, menjadi pengalaman yang berbeda kali ini.


Dari suasana, memang terasa tempat ini bukan spesifik untuk ngopi. Tempatnya luas banget, bahkan bisa piknik di taman belakangnya, dan ada dua lantai. Saking luasnya kadang membuat suasana lebih terasa ada di restoran dibandingkan kedai kopi. Saat jam makan siang memang mendadak ramai, dari yang saya lihat, memang lebih banyak yang beli makan dan minuman dingin dibandingkan kopi itu sendiri.

Saya sendiri memesan cappuccino dengan guest beans-nya Uganda Bugisu. Meskipun tadi saya bilang suasananya cenderung seperti restoran, tapi kalau udah ke bar dan memesan kopi, entah cuma perasaan saya atau memang hospitality-nya begini ya, kamu bakal merasa disambut sangat baik. 

Kirain, di bar hanya akan memesan cappuccino lalu balik ke meja. Tapi enggak dong. Baristanya menjelaskan banyak soal kopinya, sempat merasa aneh karena bagaimana bisa barista tersebut jelasin 'rasa' kopi pada orang asing yang bisa aja lho saya enggak ngerti kopi. Ya karena saya merasa perempuan dan berkerudung gitu sih yang alakadarnya gitu sih, dan tidak pernah mendapatkan treatment seperti ini karena mungkin dikira anak nyasar, jadi berasa spesial huhuhu *terharu*.




Barista: "Mau cobain guest beans kita nggak? Ada Uganda Bugisu. Chocolate creamy dan a little bit peach." 
Saya: "Peach ya?"

Pertanyaan itu hadir karena belum pernah merasakan cappuccino yang tersembunyi rasa peach. Jadi bingung juga hahahaha. Eh... malah direspon gini dong,

Barista: "Hehehe insyaAllah ya, Kak."

Lucu juga ya, sudah berkenan menjelaskan rasa kopinya, terus tetap rendah hati dengan bilang 'insyaAllah'. Selama menunggu cappuccino datang, saya lihat mereka sepertinya enggak punya biji  kopi yang mereka sangrai sendiri. Saya kira sebelumnya Gordi HQ ini semacam roastery, karena persepsi saya kedai kopi besar selalu dilengkapi komplit roastery-nya. Yang saya lihat, biji kopi dari berbagai kedai kopi 'telah dikurasi' oleh Gordi HQ dan setahu saya kedai kopi ini memang sering membuat cupping baik secara terbuka dan tertutup.



Belakangan ini saya melihat lagi media sosial dan websitenya, ternyata mereka memang spesialisasi 'first coffee subscription' dan memang menjadikan dirinya sebagai 'kedai kopi yang mengkurasi kopi'. Ketika saya selalu datang ke kedai kopi dengan konsep yang enggak jauh berbeda, kali ini mereka memposisikan diri sebagai kedai kopi yang memiliki sistem berbeda.

Untuk first coffee subsciption ini, kalian kalau ikut program mereka yang ini, bisa dapat biji kopi yang telah dikurasi secara berkala. Biji kopi tersebut akan selalu dari petani Indonesia, sebagai bentuk dukungan dari Gordi HQ. 

Ketika saya mencari tahu siapa kuratornya, muncul lah nama Arief Said, sebagai pendiri Gordi. Ternyata Arief Said dahulu kuliah di Australia dan pernah menjadi roaster di Sensory Lab Specialty Coffee yang juga ada di Melbourne. Beliau juga sempat menjadi co-founder dari Morph Coffee. 

Menjadi ide yang menarik ketika kedai kopi malah menjadi kurator dari sekian banyak kedai kopi di Indonesia. Ketika akan mencari kopi apa yang worth to try, bisa ke Gordi HQ untuk mencari mana yang terbaik. Bagi saya, ini benar-benar menarik dan membuka wawasan gitu sih ketika karir di kedai kopi enggak selalu pemilik kedai kopi dan barista saja, tapi begitu luas.



Untuk cappuccino dengan Uganda Bugisunya yang bisa dinikmati dengan 44.000 IDR, emang terasa chocolate creamy-nya. Ringan di mulut tapi creamy dan manis banget. Karena saya belum pernah tahu rasa peach, jadi kurang tahu sih apa dapet  peachnya apa enggak. Tapi kecenderungan manisnya emang berbeda gitu, yang jelas worth it untuk 44.000 IDR. Kalau untuk cappuccino yang tidak dengan guest blend, harganya 35.000 IDR aja kok. 

Jika kembali ke Jakarta Selatan, saya harus balik sih ke Gordi HQ untuk sekadar ngopi atau semoga bisa ikutan cupping session-nya! :)



Gordi HQ
PLACE:
Jalan Jeruk Purut Dalam No.25, RT.6/RW.3, Cilandak Timur, Pasar Minggu, RT.6/RW.3, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12560
OPEN:
Mon-Sun: 09.00-17.00 WIB
INSTAGRAM:
WORTH TO TRY:
Cappuccino 35.000 IDR (guest blend 44.000 IDR)
HOSPITALITY:
Great
AMBIENCE:
Great for luch, work, even if you really want to picnic in Jakarta, you can do here in the small garden.
HYGIENE:
Great.
WI FI:
Yup!    

2 comments

  1. Mantap, mbak Sophia. Bener2 pengetahuan menarik bagi orang2 yang suka dunia kopi. Sekali-kali coba mampir Semarang, Mbak. Di sana, terutama di daerah kota lama, banyak kedai-kedai kopi yang menyediakan nuansa tempat dan cita rasa kopi yang recommended. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih! :) Semoga bisa segera ke Semarang yah

      Delete