Brother Baba Budan Melbourne, Mengenal Cappuccino di Australia


Seorang teman pernah bertanya, "Apa beda kopi Indonesia dengan yang ada di luar negeri?" Sering saya berpikir, jawaban dari orang awam seperti saya akan cenderung dipenuhi ego dibandingkan dilengkapi dengan data dan pengetahuan cukup. Tapi, semoga post kali ini akan bisa menjawab sedikit dari pertanyaan itu. Setidaknya dari perbedaan cappuccino yang ada di Australia dengan yang ada di Indonesia. 

Tapi sebelumnya, saya bukan expert. Tulisan ini berdasarkan observasi langsung di lokasi, mencicipi beberapa cappuccino di beberapa tempat dan sedikit membaca di beberapa media lain tentang kopi di Australia, khususnya di Melbourne.

Di hari kedua, pukul 7 pagi, saya langsung menuju Brother Baba Budan dengan jalan kaki. Letaknya di Little Bourke St, sekitar 20 menit dari tempat tinggal saya. Tapi jalan-jalan di Melbourne dengan suhu 4-9 derajat celcius, enggak bakal bikin keringetan meskipun jalan-jalan jauh. 


Hari pertama menikmati pagi di Melbourne, di mana banyak sekali orang jalan kaki berlalu lalang sambil membawa cup kopi. Hingga akhirnya sampai di Brother Baba Budan, sebuah kedai kopi yang kecil dan sangat hangat suasananya.

Ruangannya sedikit gelap karena lampu yang warm, ditambah suasana interior dominan kayu dan pasti yang paling diingat adalah atap yang dipenuhi kursi-kursi kayu menggantung. Hanya cukup 12-15 orang di dalamnya, tapi karena kebutuhan orang Melbourne dalam mengopi berbeda dengan Indonesia, kedai kopi yang kecil tidak masalah.


Jika di Melbourne, orang lebih banyak mengopi untuk dibawa pulang/kerja, mereka pasti pesan untuk take-away baik dengan cup yang sudah disediakan atau membawa keep cup-nya sendiri. Sedang kalau di Indonesia, khususnya di Malang dan kota pendidikan lainnya (karena setiap kota sebenarnya punya karakter konsumen yang berbeda-beda), mengopi adalah kebutuhan bersosialisasi. Ngopi ya untuk nongkrong, jadi punya kedai kopi dengan ruangan yang luas seringkali dibutuhkan.


Seperti pagi itu, meski kecil dan masih pagi, Brother Baba Budan dipenuhi pelanggan yang sedang antri menunggu kopinya datang. Saat kopinya sudah datang, ia akan langsung pergi.

Setelah kemarin mencoba cappuccino di Brunetti, saya kembali memesan cappuccino di sini. Sekitar 4$ sudah bisa mendapatkan satu cangkir cappuccino dan bubuk coklat di atasnya. Melihat cappuccino yang di atasnya ada bubuk coklat bagi saya sebenarnya sedikit asing, karena jadinya mirip dengan mocha karena ada rasa coklatnya.

Lalu saat iseng browsing, saya menemukan komentar seperti ini di tripadvisor saat ia ke Brunetti: 'Ordered some cappuccinos, just warm and no chocolate sprinkled on top, you would think Brunetti would know how to make a cappuccino!" dan memberikan satu bintang saja.

Cappuccino di Brunetti memang tidak pakai bubuk coklat di atasnya, tapi saat saya mencoba beberapa cappuccino di tempat lain, memang kebanyakann menggunakan bubuk coklat tepat di atas foam. Beberapa orang yang pernah ke Melbourne juga bilang ke saya, sebaiknya pesan latte saja karena tidak ada bubuk coklat di atasnya.


Saya simpulkan, di Melbourne memang karakter cappuccinonya diberi bubuk coklat di atasnya. Serta kebanyakan memiliki rasa yang cenderung caramel sweet, tapi tidak semua. Sedang kalau di Indonesia, hanya sedikit tempat yang melakukan hal itu, lebih banyak yang seperti Brunetti, tidak pakai bubuk coklat. 

Untuk rasa, ternyata tetap dominan caramel sweet. Pak Sivaraja, pemilik Amstirdam Coffee, yang pernah hidup di Melbourne pernah bilang kalau saat winter memang kebanyakan coffee shop memilih biji kopi yang akan membuat cappuccinonya cenderung rasa coklat, caramel dan manis. Tapi saya belum menanyakan langsung ke barista-barista di sana, jadi belum bisa memastikan hal ini.


Sedang kalau cappuccino di Malang, Jawa Timur, tidak terlalu banyak yang punya cappuccino yang bener-bener enak. Anggap saja semua kopi itu enak, tapi kalau mencari yang bikin saya kembali lagi dan cocok dengan apa yang pengin saya coba, engggak semua punya. Karena di Malang cenderung cappuccino itu pahit, atau rasanya full kacang, atau ditambah sedikit asam. Nah jika dibandingkan dengan yang bisa keluar rasa caramel sweet, lalu ada rasa biskuitnya, atau rasa-rasa lainnya.. ya saya lebih suka yang rasanya rich semacam ini.

Notes.
Karakter cappuccino yang 'rich' bukan dari flavor tambahan. Tapi bergantung karakter biji kopi yang dipilih. Nah dari biji kopi tersebut lah yang memiliki rasa-rasa tersembunyi secara natural. 

Tapi mungkin belum banyak yang memiliki preferensi rasa cappuccino yang seperti yang saya suka. Sehingga banyak kedai kopi (tidak semua) lebih banyak memilih apa yang diminta kebanyakan konsumen. PR selanjutnya, kalau di Malang, harga cappuccino di atas 20.000 IDR itu ya udah dianggap mahal, karena konsumennya banyak mahasiswa. Jadi untuk membuat cappuccino yang rich itu tadi enggak gampang kalau pakai biji kopi yang mahal tapi dijualnya murah. 

Di Brother Baba Budan, selalu pakai biji kopi dari Seven Seeds Coffee, termasuk cappuccinonya yang menggunakan Espresso Blendnya. Saya menikmati cappuccino sambil melihat suasana pagi yang sibuk sekali. Tapi kerennya, barista hanya perlu sekitar lima menit saja membuat cappuccinonya.


Sebenarnya mengumpulkan cup kopi di setiap kedai kopi di Melbourne nampaknya menyenangkan. Tapi saya bukan orang yang suka mengoleksi hal semacam itu, saya lebih memilih menyimpannya dalam blog seperti ini, dan berharap suatu saat kembali lagi.

Selesai menikmati satu cangkir cappuccinonya, saya beranjak. Perjalanan #TamasyaKedaiKopi hari itu belum berakhir, saya melanjutkan ke Patricia Coffee Brewers. Nantikan tulisan selanjutnya yah! 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram