Review Buku Gadis Pantai,Tentang Perempuan 14 Tahun dan Kejahatan Priyayi


Cukup banyak yang meminta saya untuk segera baca Pramoedya Ananta Toer. Siapa yang tidak kenal Pram? Dan rasanya berdosa sekali jika suka membaca buku tapi belum baca salah satu karyanya. Tapi salah satu sebab belum membaca adalah: saya takut tidak bisa paham dengan karya-karya Pram. 

Terutama saat Bumi Manusia akan difilmkan, banyak orang yang sudah membaca karya Pram marah-marah karena film tersebut akan membuat orang-orang membeli karya Bumi Manusia hanya mengikuti trend. Bahkan ada yang lebih parah bilang kalau jangan harap anak-anak alay membaca karya Pram. Sebab, Iqbal Ramadhan yang kabarnya akan menjadi Mingke (Bumi Manusia).

Sebenarnya agak sedih, itu membuat saya jadi berpikir orang-orang yang membaca karya-karya Pram hanya orang jenius saja. Padahal saya yakin, Pram menulis ini untuk membuka mata setiap orang. Di lain hal saya ini ya ndak pintar dan terlalu banyak baca hal yang remeh-temeh, ya saya takut dong kalau selepas baca ini ternyata nggak paham apa-apa.

Akhirnya saya menceritakan keresahan tersebut pada beberapa teman yang suka membaca buku dan baik hatinya. Katanya, coba mulai dengan karya-karya Pram yang tipis-tipis dulu untuk membiasakan.  Selepas itu, saya membeli 'Panggil Saja Aku Kartini' dan 'Midah'. Lalu teman-teman bilang, yang paling wajib dibaca adalah 'Gadis Pantai'.

Agak susah awalnya mencari novel ini, hingga akhirnya saya menemukannya di Gramedia Surabaya. 

Sejarah adalah pelajaran membosankan selama sekolah. Saya masih ingat meninggalkan guru sejarah saat di SMA tidur berkali-kali dan membiarkannya ngoceh sendirian. Membaca karya Pram seperti kembali mengingat potongan sejarah, namun dengan sisi lain yang tidak diceritakan di buku pelajaran anak sekolah.

Dahulu, sebatas kalimat masyarakat dibagi dengan 'santri-abangan-priyayi' dan memahami definisi singkatnya. Saat kuliah, saya hampir tidak pernah baca sejarah lagi, dan membaca Gadis Pantai membuat saya bersyukur tahu akan sedikit potongan sejarah Negara ini. Karena, di Gadis Pantai, saat kita hanya tahu kaum Priyayi adalah kaum bangsawan yang bisa sekolah, kalian akan melihat sisi lain dari Priyayi. Bahwa Priyayi juga melakukan kejahatan.

Kejahatan itu dirangkum manis dalam kisahnya seorang Priyayi yang menikahi perempuan bernama Gadis Pantai berusia 14 tahun. Di buku ini kalian akan mendapatkan komplit bagaimana Priyayi menikahi seseorang perempuan hanya dengan kerisnya saja, istri sesungguhnya Priyayi itu seperti apa, bagaimana kehidupannya, sistem feodalisme apa yang diterapkan hingga berakhir dengan kejahatan yang membuat kalian tidak habis pikir. Karena di awal kejahatan-kejahatannya tidak terlalu terlihat.

Ah, jadi ingat! Di novel ini juga menceritakan seorang Priyayi tersebut sering sekali menggunakan lintah untuk menghisap darahnya. Rupanya, itu cara bekam tradisional yang orang dahulu lakukan. Jadi selain membuka wawasan soal Priyayi dan bagaimana perempuan diperlakukan, di sini juga bisa tahu detail-detail sejarah semacam itu. 

Selengkapnya tentang Gadis Pantai sudah saya rangkum dalam sebuah video, nah kalian bisa tonton lebih lengkapnya di channel Youtube Sophia Mega atau tonton saja video di bawah ini:

2 comments

  1. Gue malah belum baca karyanya Pram selain Tetralogi Buru lho. Huehehehe. Tapi bener juga sih. Pas kuliah dulu, agak-agak takut mau baca karena berasa 'Apakah saya yang cupu ini bakal ngerti' Lalu setelah baca.. ooo saya langsung muntaber karena iq-nya terlalu jongkok. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk sepakat! Aku juga berpikir yang cupu ini bakal ngerti gak yaaah. :') Wkwkwk semoga otaknya gak capek yah jongkok terus :') suruh lari-lari kecil coba.

      Delete