Kara Coffee Culture, Malang: Mending Pesan Cappuccino atau Piccolo?


Jadi gimana, apakah di kota kamu semakin tumbuh banyak sekali kedai kopi? Di Kota Malang, Jawa Timur, cukup gila sih pertumbuhannya tahun ini. Banyak banget yang baru, bahkan dalam sebuah wilayah bisa aja hampir 80%-nya kedai kopi, dan itu enggak cuma di satu tempat! Everybody is craving coffee, but I hope you guys don't forget to eat something, at least.

Tapi saya enggak pernah memaksakan diri untuk selalu Tamasya Kedai Kopi ke tempat-tempat baru kalau sedang di kota sendiri. Ketika bener-bener pengin dan penasaran banget aja, dan salah satunya yang bikin saya merasa harus banget ke sana adalah Kara Coffee Culture.


Beberapa dari pembaca mungkin mengenal Vens Coffee, salah satu kedai kopi yang lama ada di Malang sebelum kopi menjadi hype seperti sekarang. Sekarang Vens Coffee hanya sebagai roastery yang memiliki dua kedai kopi berbeda, Kedai Kopi Gelis yang difokuskan pada kopi lokal sedangkan Kara Coffee Culture dengan konsep yang berbeda (enggak semua dari impor juga sih).

Baru dua kali ke kedai kopi yang resmi dibuka pada 1 September 2018, tapi saya udah nyobain piccolo, cappuccino, kopi seduh drip dengan coffee beans dari Hungry Bird, bahkan hot red velvet dan donatnya. Di post kali ini saya akan beri rekomendasi yang paling oke untuk dicoba dari Kara Coffee Culture.


Untuk manual brewing, kopi seduh manual dengan metode drip, saya pesan dengan coffee beans Ethiopia Aricha G1 Natural dari Hungry Bird. Memesan ini atas rekomendasi Mas Ian, barista Kara Coffee Culture, katanya bakal dapet rasa seperti lychee. Kalau dari Hungry Birds-nya sendiri memberi 'tasting notes'-nya dengan jasmine, lemon, purple grape, black tea dan chocolate.


Mencoba menebak-nebak tapi enggak kunjung ketemu rasanya, semakin mencicipi kopinya, saya semakin bingung dapat rasa apa. Karena pada hakikatnya kopi untuk diminum, bukan buat dipikirin, yaudah saya melanjutkan kopi saya sambil membaca buku.

Cerita Tamasya Kedai Kopi lainnya: klik di sini.
Tapi yang menarik adalah menu milk-based-nya yang bernama blend-nya "Live Like a Racer" dengan 50% Gayo Washed, 30% Garut Washed dan 20% Konga Natural. Pertama kali datang ke Kara, saya langsung pesan piccolo tanpa ekspektasi apapun. Saat diminum, agak terkejut sebenarnya, manisnya lebih ke floral. Tapi saya enggak komentar apa-apa ke Mas Ian, saya bukan orang yang biasa mengawali pembicaraan, saat berkenalan pertama pun Mas Ian yang ngajak ngobrol duluan.

Kali kedua, saya pesan cappuccino, dan enggak merasakan floral itu. Enak, tapi ya enak aja. Enggak enak yang bikin terkejut seperti saat nyobain piccolonya. Heran dong, saya coba tanya Mas Ian (setelah melakukan banyak pertimbangan enaknya nanya apa enggak karena malu), "Mas, aku kan udah cobain piccolo sama cappuccinonya yah? Aku kok lebih suka piccolonya yah? Pas waktu itu nyobain, kayak ada floral-nya, bener gak sih?"


Mas Ian pun menjawab, "Iya, blend kita yang sekarang enak banget untuk espressonya, dan emang enggak semua espresso kalau dijadiin milk-based jadi enak. Nah kalau yang ini emang kurang terasa kalau pake cappuccino kita yang 6oz, kalau piccolo bisa terasa. Memang ada floralnya, dapetnya dari Kongo Natural ini, Mbak."

Barista yang mengerti karakter biji kopinya.. is a plus! Selain menyenangkan diajak ngobrol dan jadi bisa belajar kopi meskipun bukan barista atau homebrewer, mengerti karakter biji kopi bagi penyeduh kopi rasanya penting. Ibaratnya, chef yang akan masak suatu bahan makanan, pasti tahu makanan tersebut lebih pas kalau dimasak dengan seperti apa karena enggak semua bahan makanan enak dipanggang misalnya.

Sama halnya dengan kopi dan yang dijelaskan oleh Mas Ian, ternyata blend "Live Like a Racer" meski saya enggak merasa like-a-racer setelah minum kopinya lebih enak kalau dibikin piccolo atau bener-bener dinikmati espressonya saja. Jadi kalau ke sini wajib cobain piccolonya!

He he he sebenernya racer ini kayaknya dari mesin kopinya yang bernama Cafe Racer - Sanremo Coffee Machines. Baru kali ini sebenarnya saya mendadak suka sama mesin kopi cuma gara-gara warnanya putih dan terlihat canggih sekali sampe ngerti namanya. Sepertinya Kara mencoba memberi nama espresso blend-nya sesuai dengan nama mesin kopinya.


Untuk segi tempat, mungkin kalian akan bingung sedikit yah. Akan saya coba beri petunjuk arah.
  • Kara Coffee Culture ini berada di kawasan Ruko Soekarno-Hatta.
  • Kalau kalian dari jembatan Soekarno-Hatta, jalan aja ke Jalan Soekarno Hattanya.
  • Lurus aja terus sampe menemukan tugu pesawat, belok kanan.
  • Nah letaknya ada di ruko kanan jalan di sebrang Lalapan Cak Pi'i, tapi karena enggak bisa langsung belok, kalian harus lurus sampai menemukan titik yang bisa memutar arah di depan Universitas Widyagama.
  • Setelah memutar arah, lurus aja terus dan masuk ke ruko yang ada di sebrang Lalapan Cak Pi'i.
  • Lurus sampai ujung, di kiri jalan ada kedai kopi yang dominan putih abu-abu Sampai deh.

Tempatnya asik banget sih buat ngerjain tugas atau kumpul dengan dua sampai lima orang. Full AC dan ada Wi Fi-nya juga. Kedai kopi yang nyaman banget untuk kerja juga nih! Untuk harganya sendiri, cappuccino 18.000 IDR, piccolonya sayang sekali saya lupa karena waktu itu pesan dengan harga promo. Oh ya, coffee beans untuk espressonya bisa saja berubah, kalau berubah nanti saya beri informasi terbarunya, yah!

Kalau kalian mau dapetin informasi lebih lengkapnya ikuti aja di @kara.cr.
Lokasi (mereka belum update untuk namanya tapi tempatnya sama kok): 



2 comments

  1. Hand-worked and electro-mechanical Espresso coffee bean grinders are cheap to buy, and you will need to look at the coffee grinder audits fastidiously preceding purchasing.Helix

    ReplyDelete
  2. Espresso is notable for its taste and fragrance. As far back as the ninth century utilization of espresso was step by step expanding. It was expended in various ways or structures in various areas and nations. Espresso making experienced a few changes over the span of time. 247coffee.co.uk

    ReplyDelete