Obrolan Melukat Hingga 'Ustadz Televisi' di Pura Tirta Empul (Tampak Siring, Gianyar)

by - October 25, 2018


Hari ketiga di Bali (tepatnya sedang di Ubud), membawa saya pergi ke Pura Tirta Empul yang berada di Tampak Siring, Gianyar, Bali. Ketika tahu bahwa di sana ada kegiatan ibadah bernama 'melukat', upacara pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia, saya langsung memastikan bahwa saya akan ke sana.

Butuh 30 menit hingga 1 jam untuk dapat ke Pura Tirta Empul menggunakan sepeda motor dari hostel yang saya tinggali (Ubud Tropical di Jalan Raya Andong Petulu). Berbekal google maps dan rasa tidak sabar kenapa google maps-nya enggak segera bilang, "Your destination will be on the right." Akhirnya tiba juga.

Cukup bayar 15.000 IDR saja untuk masuk, pastikan sudah pakai 'sarong' yang dipinjamkan di lokasi sebelum masuk pura dan bagi yang perempuan sedang tidak menstruasi. Sebab kalau menstruasi jadi enggak bisa masuk pura, karena kan ini tempat ibadah untuk umat beragama Hindu, jadi harus dalam keadaan bersih.

Bli W: "From Malaysia?"
Saya: "Oh bukan, dari Indonesia, Malang, Jawa Timur."
Bli W: "Sendirian?"
Saya: "Iya..."
Bli W: "Kenapa sendirian?"
Saya: "Memang ingin sendiri."
Bli W: "Atau karena enggak ada yang diajak? He he he enggak-enggak, Dek. Saya memang suka bercanda orangnya."

Solo traveling itu enggak enaknya pas lagi makan sama capek aja, enggak ada temen ngobrol.  Solusinya biasanya nelpon kekasih saat sedang di jalan mencari makan, cukup membantu menghilangkan sepi. Selebihnya begitu menyenangkan, salah satunya fokus pada apa yang saya lihat dan lebih ada dorongan untuk bisa ngobrol dengan orang lokal.

Sebelum 'melukat' atau upacara pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia, ada beberapa tahap sebelumnya, memberikan sesajian di tempat yang berada di depan pura (dan juga di atas pancuran Tirta Empul). Tahap-tahap inilah yang tak terlalu saya pahami, sehingga tulisan di sini mungkin kurang tepat jika kalian sedang mencari tahapan, sejarah dan ritualnya. Tapi tulisan kali ini lebih banyak menceritakan perjalanan pemahaman terhadap apa yang saya lihat.


Pertama kali masuk, saya mencoba untuk melihat secara keseluruhan tanpa menyimpulkan dahulu. Benar-benar melihat bagaimana prosesinya tanpa browsing dan bertanya dengan orang lokal. Proses membersihkan pikiran dan jiwa ini membuat saya teringat pada kebiasaan yang akhir-akhir ini saya lakukan saat mandi. Sebelumnya proses mandi rasanya yang penting bersih dan wangi, tapi selama Oktober terlalu banyak yang membuat pusing dan menghidupkan prasangka-prasangka tak baik. Imbasnya pada produktivitas dan kesehatan diri.

Semua bermula dari pagi dan memulai kegiatan terasa begitu berat (atau baisa disebut malas). Akhirnya, saat mandi, saya selalu mencoba untuk sekaligus mensugesti diri. Mengusap wajah dan setiap bagian tubuh dengan berbicara dalam batin: yuk abis ini semangat lagi buat melanjutkan pekerjaan, membuat selepas mandi begitu terasa menyegarkan daripada biasanya. Jika sedang banyak energi dan pikiran negatif dalam diri, cobain deh!

Awalnya, saya kira semua pancuran sama saja. Saya mencoba untuk berbicara dengan orang lokal, ternyata setiap kolam dan pancuran memiliki makna berbeda.


Sebelumnya, kita harus punya tujuan sebelum 'melukat' yang tentu berhubungan dengan pembersihan pikiran dan jiwa. Enggak harus setiap hari juga sih, bergantung niat dalam diri. Cara beribadahnya mencakupkan kedua tangan, membasuh muka tiga kali (hingga seluruh rambut, bahkan ketika melihat tour guide menjelaskan, ada ketentuan tak boleh pakai ikat rambut) lalu minum sekali di setiap pancuran. Terus kita sampaikan lah doanya.

Ini bisa dilakukan oleh siapa pun dengan agama apapun. Memang terkesan 'ritual' khusus dalam agama Hindu, ada beberapa prinsip yang mungkin jauh berbeda (yang mungkin bagi sebagian orang takut mengubah 'aqidah'-nya), tapi ketika mendalami makna 'melukat' itu sendiri.. rasanya mau sekali untuk bisa ikut melukat. Atau setidaknya menerapkan apa yang mencoba mereka lakukan 'membersihkan pikiran dan jiwa' dalam setiap ibadah yang kita yakini.

Kolam pertama. 
Tirtha Pembersihan (14 pancuran)

Pancuran 1-10
Tirta Berpergian Jauh, Tirta Penyakit Kulit, Tirta Ketenangan Jiwa, Tirta Rematik, Tirta Gigi, Tirta Sakit Tulang, Tirta Asmara, Tirta Ketenangan Emosi, Tirta Penyakit Saluran Nafas, dan Tirta Rambut.
Intinya.
Bagian ini fokus pada pembersihan pikiran dan badan.

Pancuran 11-12
Tirta Pengentas I dan Tirta Pengentas II
Intinya
Hanya untuk orang yang sudah mati, kremasi. Harus diskip.

Pancuran 13
Tirta Sudamala.
Inrinya
Kalau kata orang lokal, ini untuk yang sering mimpi buruk. Huhu mendengar fakta itu, jadi ingin ikut melukat! :( Enggak enak tahuuuu sering mimpi gigi rontok semua hahaha.

Untuk kolam kedua dan ketiga, karena tak banyak bertanya pada orang lokal, kalian bisa coba cari tahu lebih banyak di postingan ini: Sejarah Pura Tirta Empul.


Setelah puas memotret dan bertanya pada orang lokal, sekaligus memotret anak kecil bernama Ayunda yang merupakan anak Gianyar, saya memutuskan untuk segera kembali. Mungkin ada kali yah 30 menit hingga 1 jam hanya untuk mengamati dan belajar. Saat mengembalikan sarong, kembali juga bertemu dengan Bli W. Saya sempat salah ngomong, dan di situ lah percakapan dimulai.

Bli W sederhana saja bertanya 'bagaimana' dan 'apakah puas memotret', nah saya menjawab, "Sudah, cuma masih banyak pertanyaan." Yang saya maksud itu bukan mempertanyakan yang aneh-aneh, saya cuma kesel karena belum tahu setiap pancuran itu namanya apa (padahal kalau mau googling itu ya ada). Setelah saya menyampaikan 'banyak pertanyaan', sedikit terasa Bli W berbicara dengan rasa kekhawatiran. 

Beliau berusaha meyakinkan bahwa melakukan ibadah ini boleh-boleh saja untuk semua orang dengan latar belakang agama apapun.  Bahwa ada makna yang begitu berarti dari pembersihan pikiran dan jiwa. Obrolan itu lalu tiba pada Bli W yang mempertanyakan mengapa ustadz-ustadz di TV (dengan menyampaikan tak ada niat menjelekkan agama islam, ia juga bilang tak semuanya) bilang bahwa akan masuk surga jika 'melakukan hal buruk' pada yang tidak muslim.

Bli W: "Kalau saya bilang adik akan masuk surga, apa percaya?"
Saya: "Ya percaya-percaya aja." (Serius saya enggak tahu arah pembicaraannya kemana)
Bli W: "Kok bisa? Begini, hanya perbuatan orang tersebut yang bisa mengantarkan dia masuk surga (bukan ucapan orang lain)."

Ooooh ke sini arah pembicaraannya ~ Iya, saya sepakat dong, cuma enggak mudeng aja di awal. Saya jadi bertanya-tanya, iya ya kok bisa umat muslim (khususnya di Indonesia) berpikir bahwa jika tidak muslim maka tidak baik? Bahkan kita dengan mudah lho bertanya apakah artis A agamanya islam? Yaaah sayang dong kalau gak beragama islam.


Nampaknya semua bermula di sekolah dasar, kita dididik bahwa orang yang beragama lain segala amal perbuatannya itu sia-sia dan tidak akan masuk surga. Kalau bicara ini pada orang dewasa, tahu mana yang baik dan tidak, rasanya kita akan lebih bijaksana. Tapi jika ke anak kecil, bisa beda lho, menanamkan intoleransi yang secara enggak sadar ugkapan sederhana tersebut bisa membangun karakter tak menghargai agama orang lain.

Sepertinya apa yang terjadi akhir-akhir ini, soal intoleransi beragama, begitu membuat ada perasaan takut dan ketidakamanan beragama. Jadi gimana, apa ya masih mau menghina dan menjelek-jelekkan agama orang lain? Lupa kalau kita ini sama manusianya? Lupa kalau niat sama perbuatan harus sejalan? Niatnya dakwah tapi menyakiti hati orang lain apa ya tetap menjadi baik hasil akhirnya?

Daripada menanamkan pemahaman praktis bahwa agama kita yang paling baik, gimana kalau kembali memahami bagaimana beragama yang baik?

Rasanya cukup sedih menjadi orang asing yang berjilbab lalu diajak bicara soal 'pemimpin agama' yang rupanya membuat hati mereka sedih. Selama perjalanan pulang, rasanya saya menyesal.. kenapa enggak bilang aja kalau dari Malaysia.... Biar enggak malu huhuhuhuhu.



"Saya kagum lho Pak dengan ibadah yang seperti ini, rasanya begitu khusyuk." Lagi-lagi memang tidak baik menyampaikan sesuatu yang sepotong-sepotong. Persepsi orang macam-macam, yang saya maksud di sini sebenarnya... orang yang beragama Hindu harus melewati ritual panjang menjadi salah satu ibadah tak wajibnya. Ritual yang kompleks itu sering membuat malu kalau solat empat rakaat aja malas hwahahaha. 

Beliau lalu menjawab, bahwa orang ibadah khusyuk dan tidak khusyuk itu selalu ada di agama orang lain. Sesuatu yang putih di luar, belum tentu dalamnya putih, bisa jadi hitam. Kayak telur, luarnya putih dalamnya kuning. 

Pembicaraan ditutup dengan: ambil baiknya, buang buruknya. Dan begitu pula lah kita semestinya hidup dalam setiap obrolan-obrolan, mewaraskan diri untuk tahu bahwa semuanya itu hanya diskusi, bukan sebuah tempat mencari pembenaran. Lebih pada proses saling mendengarkan, menyimpulkannya di rumah saja.


Perjalanan kali ini cukup memberi makna, rasanya ingin kembali lagi. Terima kasih alam semesta dan penciptaNya karena sudah menghadirkan hari yang begitu baik dengan orang-orang yang positif sekali. 

You May Also Like

1 comments