Bertemu Kopi-kopi Manis Two Hands Full | Bandung, Indonesia


Sewaktu memiliki kesempatan berkunjung ke Bandung pada Mei 2019 lalu, beberapa deretan nama coffee shop sudah ada di tangan. Namun saya belum cukup yakin di mana coffee shop yang memang betul bisa memberikan pengalaman mencicipi rasa kopi yang menyenangkan.

Paginya, hari terakhir saya di Bandung, sekaligus check out dari hostel yang saya tempati, akhirnya saya memutuskan untuk menutup perjalanan dengan mengopi di Two Hands Full. Kabar-kabar bahwa kopinya memang enak lah yang membawa saya ke sana.

Mungkin selain kopinya, saya juga rindu dengan boneka monyet yang menggantung lucu di bar ini.
Sebetulnya saat saya ke sana, Two Hands Full masih di Jalan Sukajadi No. 206, Bandung Utara. Di sebuah gedung yang cukup lebar dan suasananya cenderung hangat dan gelap. Tipikal kedai kopi yang enak buat ngelamun daripada buat kerja. Tapi saya baru mendengar bahwa 25 Maret 2020 adalah tanggal terakhir Two Hands Full beroperasi di Jalan Sukajadi. Jadi teman-teman yang membaca tulisan ini, bisa menunggu kabar dari Instagram @thfcoffee untuk tahu di mana lokasi baru yang akan mereka tempati.


Ketika mengopi, sebenarnya saya jarang pesan kopi seduh pour over. Tetapi karena ini ke Two Hands Full, maka memesan kopi seduh manual tentu sebuah kewajiban. Maka satu cangkir Kenya Choronginya langsung saya pesan.


Waktu itu saya sudah lupa bagaimana rasanya mencicipi kopi yang sruputan pertamanya bener-bener bikin tersenyum bahagia, but Two Hands Full did it. Kalau dari tasting likes yang ditulis oleh Two Hands Full, Kenya Choronginya memiliki tasting likes blackberry, raisin & cinnamon. Sebab lidah saya nggak peka-peka banget, jadi saya juga enggak ngerti yah, tetapi yang jelas manis banget dan manisnya nggak selesai-selesai, parah sih. 


Kopi-kopi yang rasanya seperti ini bagi saya adalah live saver. Apalagi pagi itu pikiran saya agak penuh, udah menerima chat dan telepon bertumpuk, mencicipi kopi seenak ini bikin langsung lupa kalau punya banyak masalah hidup hahaha.


Apalagi.. waktu perjalanan ke Bandung saat itu adalah masa saya masih baper-bapernya dapet kritik menulis kopi dari teman-teman di Malang, yang memang bagian dari kesalahan saya juga. Bapernya sampai bikin nggak minum kopi dua bulan kali yah. Bapernya sampai sempat berjanji tidak mau menulis tentang kopi lagi. Tetapi saat minum kopi semanis ini, saya jadi ingat lagi kenapa kopi begitu menarik dan harus terus diceritakan.


Tahu bahwa kopinya memang sungguh manis, saya memutuskan harus mencoba espressonya. Kayaknya nggak sanggup kalau harus minum split alias cappuccino/piccolo dengan espresso sekaligus. Tapi saya maunya mencicipi espressonya, jadi ya saya pesan aja espresso.

Eh, kok yang dateng cappuccino dan espresso :) Thanks for the compliments, Two Hands Full! Baik espresso dan cappuccinonya, sama-sama manis! Bahagia banget rasanya <3


Setelah mengulik Instagram @thfcoffee, saya juga jadi punya standar baru dalam menulis atau menarasikan kopi. Mereka bisa menceritakan kopi dengan sudut pandang 'from farm to cup' dengan sangat manis. Jadi punya banyak pekerjaan rumah untuk lebih giat menulis tentang kopi lebih banyak, dan keinginan untuk lebih banyak menulis tentang kopi tertanam lagi.

Ah, sepertinya saya jadi punya bucketlist perjalanan selanjutnya, yaitu mampir ke lokasi baru Two Hands Full nanti! :)

3 comments

  1. Jepretan fotonya bagus Mas, manis kayak kopinya. 😁

    ReplyDelete
  2. Waduuh. Jadi sekali nyeruput lagnsung tiga itu meg? kopi manual, espresso sama cappucino? Apa nggak rusak lambung lo? Huhhhuhu.

    ReplyDelete
  3. Thanks for the review kak! Boleh saya ijin save bbrp fotonya? Semoga bs bertemu lagi di tmpt yg baru ya! :D

    ReplyDelete