Review Buku A Cup of Tea, Berkisah Perjalanan Gitasav Keliling Dunia

 


Mendengar Gita Savitri Dewi merilis buku keduanya, sebenarnya terpikir beli gak ya dengan penuh keraguan. Sebab nggak terlalu merasa butuh-butuh banget membacanya, tapi penasaran juga sih. Beberapa kali ke toko buku, melihat buku "A Cup Of Tea", tetap nggak tergoda. Sampai akhirnya kemarin.. beli juga hahahaha.

Buku ini banyak juga yang menyebut "BACOT-nya Gitasav", sebab Buku A Cup Of Tea disingkat menjadi BACOT. 

Sebetulnya aku enggak terlalu suka sama cover-nya, karena kurang menggambarkan isinya. Kalau baca judulnya aja, sub-judulnya, dan sinopsisnya.. aku masih merasa kurang ok gitu. Semestinya sesuai isi bukunya, di mana buku ini didominasi perjalanan Gitasav dari satu negara ke negara lain, ya judulnya harus menggambarkan hal tersebut.

Ada lagi yang aku kurang suka, informasi penulis di back cover-nya ditulis dengan perspektif Paul, suaminya. Manis sih, tapi kayak.. biar apa gitu. Mungkin biar kelihatan sweet aja kali ya.

Tapi berikut alasan mengapa buku ini menyenangkan untuk dibaca:

  1. Cerita perjalanan Gitasav ke berbagai negara jadi menumbuhkan rasa bisa keliling dunia juga sih.
  2. Cerita perjalanan Gitasav bukan dari sisi gimana caranya traveling, tapi lebih ke isu-isu besar dunia seperti Trump, diskriminasi kaum minoritas, kaum muslim di Athena, dan lain-lain.
  3. Cara ceritanya kayak Gitasav nulis blog, jadi fun, aku membaca ini hanya butuh waktu 6 jam saja.
  4. Ada cerita lain soal cyberbullying yang juga menarik untuk disimak.
Kalau kamu ingin tahu Review Buku "A Cup of Tea" dari Gitasav lebih panjang, bisa tonton videoku di sini, ya. Jangan lupa subscribe agar buku rekomendasi terbaru bisa muncul di lini masa Youtubemu.


Review buku pertama Gitasav berjudul Rentang Kisah, juga bisa ditonton di sini. 

0 comments