Pertanyaan yang menghantui sebelum menikah: mengapa menikah dan harus memiliki anak?

Pernikahan sebetulnya menjadi topik utama yang kucari sejak sekolah menengah atas. Aku sekolah di madrasah, bahkan tinggal di asramanya. Di sana lah aku mendapatkan ide-ide bahwa pacaran itu buruk dan yang terbaik adalah menikah, serta Ide-ide absurd agar bocah remaja harus memantaskan diri untuk jodoh.

Namun aku tak menelan mentah-mentah ide tersebut. Aku dan beberapa teman dekatku bukan dari keluarga yang sempurna, jauh dari sempurna. Ada di masa petir menyambar keluargaku, dan aku hanya cerita untuk menertawakan kondisi itu sambil makan daging grill. Sehingga sedari awal aku berpikir, pernikahan adalah topik yang menjadi misteri yang harus kutemukan jawabannya. Dengan pengetahuan seadanya saat itu, aku merasa pasti akan menikah (sebab aku belum tahu bahwa manusia boleh memilih tidak menikah hahaha), tetapi aku harus tahu bagaimana menjalankan pernikahan yang baik.

Di usia remaja itu juga aku mendirikan sebuah website yang menceritakan kehidupan pernikahan dari hasil wawancara orang lain. Orang-orang mengataiku ngebet menikah, padahal aku hanya bercanda saja agar websitenya laku dan menarik perhatian orang. Deep down di dalam hati, sebenarnya aku tidak tahu apa-apa.

Sampai ada satu laki-laki yang enam tahun jauh lebih tua dariku, dan mencoba mendekatiku dengan ketidaktahuannya yang konyol perihal mendekati perempuan. Sampai aku memintanya datang ke kotaku agar ia menjelaskan maunya apa, sebab aku bukan perempuan yang suka saling mengirim pesan manis tetapi aku juga tidak tahu maksud ia apa. Bahkan laki-laki ini pernah membuatku berpikir aku tidak akan pernah menyukainya karena ia adalah laki-laki lamban yang tidak tahu maunya apa.

Laki-laki menyebalkan ini lalu datang ke kotaku, tetapi malah tidak menjelaskan apa-apa. Kupaksa ia menjelaskan sesuatu, sampai akhirnya ia bilang, "Yang jelas aku punya rencana jangka pendek sama Mega." WHAT THE HELL, U REALLY NEED SOME HELP, MAN. HE WAS REALLY BAD AT THIS.

Tapi aku tahu, usianya saat itu 26/27, ia laki-laki biasa yang jelas ingin menikah. Jadi aku yang cenderung memberikan arahan apa yang harus ia lakukan, seperti mengatur kapan ia harus bertemu orang tuaku. Ia memang lamban dan cenderung pasrah, tetapi aku tahu itu kelebihannya, dan darinya aku belajar banyak hal untuk tak terlalu berpikir jauh apa yang akan terjadi nanti.

Sejak pertemuannya dengan orang tuaku, mulai lah perjalanan mempertanyakan apakah aku benar-benar akan menikah, mengapa menikah, dan apakah aku harus memiliki anak. Dari pertemuan itu, kami menikah dua tahun kemudian, saat usiaku 22 tahun. Dua tahun, waktu yang cukup untuk memikirkan segalanya.

Ada sebuah buku yang memberikanku sedikit petunjuk, berjudul "Saya, Jawa, dan Islam". Di buku tersebut menjelaskan bahwa hidup di dunia itu mung mampir ngombe, cuma mampir minum. Tugas utama manusia yang paling awal adalah: menaklukkan nafsunya. Setelah itu kita akan tahu mana yang baik dan buruk dengan 'kebeningan'. Menikah adalah salah satu jalan menahan nafsu tersebut.

Nafsu yang dimaksud bukan 'nafsu birahi', ya. Tetapi nafsu berupa ego dan keinginan duniawi yang lain.

Dengan menikah, kita akan menjalani peranan yang begitu demanding. Menjadi suami berat, menjadi istri berat, apalagi menjadi orang tua. Menikah menuntut diri untuk menjalani tanggung jawab yang tidak mudah. Sebuah jalan yang masuk akal untuk mampu menaklukkan nafsu, tetapi jika dijalankan dengan sadar. Sebab bila tidak, yang ada malah menjaga nafsu-nafsu tersebut.

Ini saja yang kujadikan prinsip, tujuan hidup kan bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk bahagia dan bahagia itu bukan mendapatkan kekayaan atau sesuatu yang fantastis. Namun bahagia adalah saat akhirnya memperoleh ketenangan, dan rasanya make sense saja saat kita sudah mampu menaklukkan nafsu-nafsu tersebut, kupikir ketenangan itu jauh lebih mudah didapatkan. Sebuah series di NBC yang juga ditayangkan di Netflix, berjudul "The Good Place" kurasa mampu menjelaskan apa arti ketenangan itu (tetapi harus menonton hingga season terakhir).

Pesan itu saja yang kujadikan prinsip meyakini pilihan untuk menikah, sementara jawaban mengapa harus memiliki anak sebetulnya tak kutemukan sebelum menikah. Setiap bertanya ke orang lain, selalu saja terjebak pada: untuk meneruskan warisan yang kita punya. Warisan apa memang yang kita miliki? Bumi yang telah dirusak manusia? TT_____TT #bolehnangisgaknih

Sebab belum kutemukan alasan mengapa harus memiliki anak, setelah aku dan suami tinggal berdua, aku berpesan, "Aku belum siap untuk memiliki anak di tahun pertama ya, tahun depan mungkin boleh." Ia tak menjadikannya itu masalah, sehingga ia mendukung penuh. Selain perlu menemukan jawaban, saat itu aku juga merasa perlu menyelesaikan diri dari beberapa masalah mental dan kurasa perlu lah adaptasi dengan 'kehidupan yang baru'.

Sejak menikah, aku akhirnya tahu apa makna sebuah rumah. Saat sebelum menikah, aku benci rumah. Bahkan saat aku tinggal sendirian pun, ya tidak nyaman saja. Bahkan saat ini, kontrakan rumahku jauh lebih kecil dari rumah yang kutinggali sendiri dahulu, tetapi aku merasa kontrakan ini jauh lebih luas dan lebih nyaman. Aku tahu aku sedang dicintai, kucing-kucing kompleks juga menyayangiku (meski ada maunya), dan aku suka-suka saja dengan lingkungannya.

Saat akhirnya aku kehilangan apa saja yang menjadi tolak ukur self-worthku, yaitu pekerjaan full-time, aku sedih sedikit tetapi tak menjadi masalah besar. Double job, double pay, adalah yang selalu kujaga dan kubanggakan secara personal karena aku 'merasa aman'. Bahkan di awal tahun kemarin, aku melepas akun Instagram yang tumbuhnya lumayan, dan memutuskan membangun semua dari nol.

Aku tidak punya apa-apa selain rumah yang juga bukan punyaku, tetapi rasa tenang itu hadir sepenuhnya. Bahkan aku selalu berpikir, kalau aku akhirnya meninggal di tahun ini pun, aku ikhlas-ikhlas saja. Sebab apa yang kujalani sudah cukup menyenangkan, dan aku tidak masalah kalau aku tidak berkesempatan menjemput mimpi-mimpi yang kukejar. Ini saja sudah cukup. Namun kalau memang diberi usia, aku akan menjalankannya sebaik yang kubisa, tidak seambisius dahulu yang selalu mengejar angka-angka tertentu.

Semua itu membuatku sadar bahwa kehadiran cinta itu sungguh-sungguh ada meski mungkin akan berbeda dan berubah. Saat aku membaca buku yang judulnya 'Things I Wish I'd Known Before We Got Married', cinta di awal tahun pernikahan memang begitu mudah untuk hadir, tetapi tahun-tahun selanjutnya tidak mudah, cinta itu harus diperjuangkan. 

Sebab di tahun awal pernikahan, pasangan saling tahu apa yang dibutuhkan pasangannya untuk merasa dicintai. Tetapi setelah tahun-tahun selanjutnya, sulit untuk memahami, di sini lah maksud mengapa cinta perlu juga diperjuangkan. Kalau akrab dengan sebutan 'pacaran cuma enak saat pdkt'-nya, itu bukan berarti pacaran adalah hal buruk. Tetapi begitulah cara cinta bekerja. Hadir sebagai anugerah, tetapi juga perlu sebuah komitmen.

Dan kurasa begitulah mengapa cinta bisa melahirkan makhluk baru. Anak hadir karena cinta, dan ia juga bentuk komitmen cinta yang baru, bahkan komitmen yang jauh lebih sulit dari pernikahan itu sendiri. Hubungan suami-istri bisa dipisahkan cerai, tetapi hubungan orang tua dan anak, tidak bisa dipisahkan. Sampai kapan pun ia adalah anak dari orang tuanya. Sebenarnya ini terdengar naif sekali, tetapi itu yang selalu menguat di dalam hati.

Menuju satu tahun pernikahan, setelah menyimak edukasi hamil dan menyusui sedikit-sedikit, aku mulai berpikir, sepertinya aku siap. Namun cukup satu saja, sebab kupikir, memiliki anak adalah komitmen yang tak bisa berakhir, aku merasa memiliki satu anak saja pasti akan sulit. Jadi aku merasa mampu jika hanya satu.

Banyak ibu yang bercerita, saat kamu memiliki anak, maka kamu akan kehilangan dirimu. Tetapi aku yakin, semua dapat dilalui kalau aku bersiap dan menjalaninya dengan penuh kesadaran. Bukan menikah karena semua orang menikah, bukan memiliki anak karena setelah menikah harus segera memiliki anak.

Saat ini aku sedang hamil, dan mungkin jika lancar (mohon doanya), makhluk kecil itu akan lahir saat aku berusia 24 tahun. Aku merasa siap untuk memberikan 5-6 tahun menjadi ibu yang fokus merawatnya dan merelakan pekerjaan full time-ku. Mengapa bukan suami saja yang melakukan itu? Sebab di kondisi kami, yang bisa memiliki peluang bekerja secara freelance, remote, dan semacamnya adalah aku, jadi tidak masalah. Saat ia mulai sekolah SD, aku masih berusia 29 atau 30 tahun. Mungkin di situ aku mulai berpikir bekerja secara full time lagi atau kalau beruntung mungkin aku sedang menjalani mimpiku yang lain dan tidak perlu full time. Dengan kesadaran ini, aku harap bisa melampaui malam-malam yang sulit saat harus berjuang untuk mencintai makhluk kecil tersebut.

Kesadaran itu jelas berbeda untuk setiap orang. Mungkin kamu saat ini sudah puas menjalani karir, dan bersiap untuk mengasuh anak. Atau, kamu dalam keadaan finansial yang baik, sehingga dapat menjalani karir dan mengasuh anak dengan baik. Apapun itu, lakukan lah dengan penuh kesadaran.

Cerita ini mungkin terlalu naif untukmu, kamu bisa saja tak setuju dengan ide pernikahan dan memiliki anak. Tetapi semoga kita dapat sama-sama menemukan kebahagiaan di setiap jalan kehidupan yang kita pilih, ya! 



0 comments