Terhitung sudah tiga pekan aku menghabiskan malam dengan menangis karena diselimuti pemikiran: aku buruk banget sampai hidup membawaku pada ...

Melanjutkan Hidup Setelah Terkapar di Atas Lantai untuk Menangis Semalaman


Terhitung sudah tiga pekan aku menghabiskan malam dengan menangis karena diselimuti pemikiran: aku buruk banget sampai hidup membawaku pada titik ini ya?

Aku udah dikasih tahu untuk berlatih sadar nggak semuanya perlu “aku” perbaiki. Aku nggak paham sama saran tersebut. Bukannya justru aku harus memperbaikinya ya biar nggak makin hancur kehidupanku?

Sepertinya ada yang nggak beres dengan cara berpikirku. Pertama, soal penghakiman atau penilaian diri. Kedua, soal mengapa aku melihat hidup ini berat sekali sampai aku bingung mana dulu yang perlu aku benahi. Meski sudah tahu perlu belajar nggak semuanya perlu diperbaiki, tapi nggak tahu cara dan maksudnya.

Aku tahu ada yang kurang pas dalam penilaian-penilaian ini. Aku tahu kalau ingin hidup serasa neraka, aku perlu satu kebiasaan, yaitu terlatih dalam menilai. Aku juga tahu kalau kita bisa melatih diri untuk tidak menilai.

Aku sudah mencoba belajar tidak menilai, yang kukira cukup berhasil, tapi ternyata aku cuma lebih ahli “menilai orang lain dengan adil”. Lalu aku menuntut orang lain untuk menilaiku dengan adil. Persoalannya menilai adil itu sulit dan aku kembali kalah pada pemikiran: saat semua orang menilaiku buruk, maka itu benar. Saat dunia menunjukkan hidupku hancur, maka betul aku buruk.

Aku ternyata belum berhasil belajar tidak menilai. Makanya masih sering terjerumus dalam pikiran gelap penghakiman diri.

Aku lalu bertanya pada OmGe, konselorku, “Kalau hidup begitu berat dilalui sampai terasa hancur. Aku harus berbuat apa dulu ya untuk melanjutkan hidup.”

Seperti biasa, jawaban OmGe selalu tepat sasaran. “Kalau mau melanjutkan hidup kan cuma perlu makan, minum, dan main. Apa yang perlu dibenahi? Selain tiga hal itu, namanya keinginan, bukan kebutuhan.”

Kini aku paham bagaimana cara berhenti memperbaiki pada hal-hal yang jelas kontrolnya tidak berada di genggamanku. Caranya adalah menyadari aku sanggup hidup selama cukup makan, minum, dan main. Aku jadi tahu kalau tidak perlu berharap banyak atas kehidupan ini, karena tanpa itu pun, aku tetap bisa melanjutkan hidup.


Melanjutkan hidup kali ini dimulai dengan ke Warung Sunda dan membeli satu porsi seharga sepuluh ribu (tentu aku kaget sekali). Minumnya segelas es teh tawar karena aku perempuan dewasa yang merasa es teh tawar > es teh manis.

1 comment:

  1. Haai. Bisa komen sekarang. Hehehe. Baru baru ini aku dapat pencerahan: Tidak ada beban yang terlalu berat. Hanya kadang kita sendiri yang menambah-nambahi beratnya. Suka nimbun. Haha.

    Aku langsung dapat aha momen. Sebab sudah pernah merasakan hidup sekedar bertahan. Dan ternyata ga butuh banyak2 kok.

    Berarti begitu pula dengan beresin problem. Ga perlu banyak2 solusi benernya.

    ReplyDelete